Baca

Baca
Tampilkan postingan dengan label prasangka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prasangka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Maret 2017

"Ada Apa Dengan Bigot?" (AADB: Bagian 3)

Ada Apa Dengan Bigot?”
(AADB: Bagian 3)

Oleh: Candra



Pada AADB: Bagian 1 telah diulas mengenai pokok-pokok gagasan Stephen Eric Bronner tentang bigot dan bigotry dalam bukunya The Bigot: Why Prejudice Persist (2014). Sementara pada AADB: Bagian 2 secara serba singkat diulas mengenai bentuk-bentuk perilaku bigotry yang bersumber dari rasisme, seksisme, culturism, ageism, classism, dan nativisme. Pada AADB: Bagian 3 ini, akan mengulas penyebab dari munculnya perilaku bigotry tersebut, dan bagaimana hal tersebut --disadari atau tidak-- telah mempengaruhi cara berpikir dan perilaku kita semua. Untuk membantu, ada baiknya melihat kembali ilustrasi mengenai trasformasi bigotry yang sudah ditampilkan pada AADB: Bagian 2.


Kebencian yang tumbuh dari prasangka dan ketakutan

Bronner (2014) mengutip moto para bigot dari satir Umberto Eco dalam novelnya The Prague Cemetery (2011:6): “Odi ergo sum. I hate therefore I am,”  bahwa “aku membenci maka aku ada.”

Bagaimana kebencian dan semua bentuk bigotry tersebut muncul? Dalam pandangan Bruce dan Yearly (2006), semua bentuk bigotry baik itu rasisme, religisme, ageism, dll. tersebut terutama bersumber dari satu sebab yang memiliki daya rusak tinggi, yaitu prasangka (prejudice). Secara umum, prasangka mengacu pada kecenderungan untuk mempertahankan pendapat dan sikap yang sudah terbentuk sebelumnya, atau sikap yang tidak didukung dengan fakta-fakta (Bruce dan Yearly, 2006).   Menurut Bronner (2014) istilah prasangka sendiri berasal dari bahasa Latin: praejudicum, yang artinya keputusan yang dibuat sebelum ditetapkan oleh pengadilan. Prasangka membuat setiap keputusan menjadi sederhana dan terhindar dari kritik atau refleksi.

Keyakinan tanpa didukung alasan yang masuk akal tersebut, menurut Scruton (2007) berfungsi sebagai premis untuk penalaran praktis, dan yang merupakan bagian dari Weltanschauung (pandangan dunia) yang tidak memerlukan sanggahan. Prasangka adalah ketetapan dari keyakinan yang tidak masuk akal (unreasoned belief), sementara bigotry adalah ketetapan dari nilai-nilai yang tak masuk akal (unreasoned values)

Meskipun ada pula jenis prasangka positif, umumnya istilah ini umumnya memang digunakan untuk merujuk pada pandangan negatif yang tidak beralasan (Bruce dan Yearly, 2006).  Dalam prasangka negatif, umumnya terdapat ketidakpercayaan, kecurigaan, stigma, perasaan merendahkan dan bahkan penghinaan dan kebencian terhadap pihak lain. Namun, lebih dari itu semua, prasangka pada dasarnya bersumber dari ketakutan yang tidak beralasan terhadap pihak lain. Abercrombie, Hill dan Turner (2006) berpendapat bahwa prasangka adalah sikap individu berupa antipati atau permusuhan aktif terhadap kelompok sosial yang lain, biasanya terhadap ras yang berbeda. Prasangka individu dapat berpartisipasi dalam kegiatan diskriminatif meskipun tidak selalu demikian.

Menurut Anderson (2010), nilai-nilai dan ide-ide yang membentuk prasangka berasal dari berbagai sumber dan pengaruh. Sikap berprasangka dapat berasal dari media, tumbuh di lingkungan keluarga yang gemar berprasangka, dan akibat tidak memiliki banyak kontak dengan orang yang berbeda dengan diri atau kelompok mereka sendiri. Namun karena norma-norma umum yang melarang prasangka dan adanya undang-undang anti-diskriminasi, prasangka dalam diri banyak orang dapat bersifat tersembunyi dan kadang-kadang tidak disadari.

Dalam sosiologi, konsep prasangka mengacu secara luas pada penilaian subjektif yang sistematis dan berlangsung lama dari suatu kelompok atau anggota kelompok tersebut, mengenai hal-hal yang tidak menguntungkan. Beberapa ilmuwan sosial percaya bahwa prasangka didasarkan pada praduga yang keliru tentang kelompok lain (out-group), sementara ilmuwan yang lain berpendapat bahwa prasangka dapat disebabkan oleh konflik kepentingan antar anggota dalam kelompok dan diluar kelompok (Turner, 2006).

Dalam hal ini, Bronner (2014) menulis bahwa penyebabnya adalah karena kognisi moral para bigot dan pandangan intelektual mereka yang bersifat parokial, di mana pandangan tersebut bukan hanya tidak akuntabel tapi juga tidak transparan. Menurutnya, para bigot bersembunyi di balik tradisi dan kebiasaan yang sudah mapan. Mereka merasa puas dengan keyakinan, rumor, dan loyalitas lama yang membeku dan kemudian berubah menjadi mitos dan, pada gilirannya, melahirkan stereotype yang membenarkan standar ganda yang mereka gunakan. Prasangka para bigot ini berhenti pada asumsi pra-reflektif yang menjadi tetap, selesai, dan tidak dapat diubah meskipun ada pengetahuan baru, dan dengan demikian menutup peluang terjadinya diskursus.

Menurut Anderson (2010), ada beberapa jenis prasangka, yaitu prasangka yang eksplisit dan implisit (explicit and implicit prejudice), serta prasangka yang bersifat ekstrim/terbuka dan halus (extreme/overt and subtle prejudice). Anderson berpendapat bahwa bagaimanapun prasangka ini termasuk bentuk bigotry halus (benign bigotry), yang juga melibatkan relasi kekuasaan (power). Kekuasaan dan  hak istimewa, berinteraksi dengan skema untuk menghasilkan bigotry halus tersebut. Meskipun baik orang dengan ataupun tanpa kekuasaan sama-sama dapat berprasangka, namun prasangka dalam diri mereka yang berkuasa memiliki dampak yang lebih besar.

Prasangka yang berkembang dari stereotype

Darimana prasangka tersebut terbentuk? Banyak ahli berpendapat bahwa prasangka tersebut lahir dari stereotype. Bruce and Yearly (2006) mencatat bahwa sebuah stereotype adalah pandangan berlebihan dan biasanya berkembang menjadi prasangka dari sekelompok orang yang didasarkan pada hanya sedikit atau bahkan tidak didukung bukti sama sekali, serta tidak berubah meskipun ada bukti yang membantahnya. Orang mempertahankan stereotype karena itu dapat menciptakan rasa solidaritas dan superioritas in-group, dan memungkinkan sekelompok orang untuk berpikir bahwa diri mereka adalah benar dan baik.

Sebuah stereotype adalah pandangan kelompok suku atau masyarakat yang bersifat satu sisi, berlebihan dan umumnya merugikan. Stereotype ini biasanya berhubungan dengan rasisme dan seksisme. Stereotype umumnya bersifat resisten terhadap perubahan atau koreksi dari bukti yang membantah mereka, karena stereotype dipandang dapat menciptakan rasa solidaritas sosial (Abercrombie, Hill and Turner, 2006)

Menurut Anderson ada stereotype yang positif dan negatif. Namun, bahkan stereotype positif sesugguhnya juga bukanlah hal yang  baik karena mereka mengurangi atau menghilangkan individualitas seseorang. Mereka memberi penilaian terhadap orang atas dasar harapan atau standar mereka sendiri. Juga, ketika orang-orang berperilaku dengan cara yang tidak konsisten dengan stereotype positif tentang kelompok mereka, maka justru akan memicu adanya reaksi negatif yang kuat (Anderson, 2010)

Anderson berpendapat, bahwa stereotype terkait erat dengan sentimen in-group dan out-group, dan kekuasaan (power) yang dimilikinya masing-masing. Ada yang disebut sebagai efek homogenitas out-group (the out-group homogeneity effect), yang mengacu pada persepsi yang dimiliki oleh in-group tertentu, bahwa anggota out-group cenderung memiliki cara pandang dan bertindak yang serupa. Hal yang sama diangap juga terjadi pada kelompok yang tidak memiliki kekuasaan (subordinat). Dengan kata lain, mereka yang out-group dan mereka yang memiliki lebih sedikit kekuasaan dipandang sebagai mirip satu sama lain. Sebaliknya, anggota in-group yang juga anggota dari kelompok istimewa dipandang sebagai individu yang kompleks (Anderson, 2010)

Stereotype yang terkait dengan kategorisasi

Stereoype ini erat kaitannya dengan pola berpikir manusia yang cenderung membuat kategorisasi (categorization) tentang hampir semua hal. Dalam pandangan Bruce and Yearly (2006), penyebabnya adalah karena manusia merasa berguna untuk melihat dunia diluar dirinya (dan karenanya mengatur tanggapan mereka untuk itu) melalui sejumlah kategori sederhana.

Anderson (2010) memandang kategorisasi sebagai proses kognitif manusia yang mendasar. Dia memaknai kategorisasi sebagai cara berpikir yang membuat pengelompokan dari sejumlah item yang memiliki karakteristik serupa. Kategorisasi membantu manusia memahami dunia, dan oleh karena itu menjadi sebuah kecenderungan alamiah dan kemampuan yang diperlukan untuk pemikiran manusia. Sayangnya, kategorisasi juga merupakan dasar untuk stereotype dan prasangka. Dalam diri manusia memang dilengkapi kemampuan untuk berpikir secara kategoris. Namun, isi dari kategori dan makna dan arti dari kategori tersebut sesungguhnya adalah hasil dari sebuah konstruksi sosial semata.

Kategorisasi atau pemberian tipe (typification) ini tidak merujuk kepada kualitas yang unik dari individu tetapi terhadap fitur khas mereka. Pemberian tipe mengacu pada proses dimana orang mensimbolisasi dunia di sekitar mereka  (Abercrombie, Hill and Turner, 2006). Disinilah terjadi sentimen in-group dan out-group, di mana mereka yang dianggap homogen (out-group dan kaum marginal) dihakimi dalam hal kategori sosial mereka, bukan mereka sebagai individu (Anderson, 2010). Sepanjang sejarah, banyak kelompok orang telah mengklaim superioritas mereka atas budaya lain dan telah memberi label barbar pada segala sesuatu yang dianggap asing, yang sering sesungguhnya hanya berarti bahwa kelompok lain itu dianggap tidak menjadi bagian dari in-group (Gay, 2013).

Stereotype dan kategorisasi yang dibentuk oleh skema

Darimana stereotype dan kategorisasi itu berasal? Skema merupakan sebuah kerangka mental keyakinan, perasaan, dan asumsi tentang orang-orang, kelompok, dan benda-benda. Skema membantu dalam menafsirkan dunia dan mengatur informasi baru. Bila diterapkan kategorisasi terhadap manusia, skema sering bermanifestasi sebagai stereotype (Anderson, 2010)

Dengan skema ini, pada akhirnya semua peristiwa selalu akan diinterpretasikan dan digunakan untuk mengkonfirmasi asumsi awalnya. Para bigot dengan demikian dapat menjadi pahlawan bagi drama yang mereka ciptakan sendiri (Bronner, 2014)

Bigotry di sekitar kita

Pernahkah merasa tidak nyaman ketika duduk berdekatan dengan seorang waria di angkutan umum karena menganggap waria dan segala jenis LGBT sebagai penyimpangan atau kutukan? Atau merasa curiga pada seseorang dari etnis tertentu yang tinggal di dekat rumah karena merasa mereka semua adalah tukang mabuk dan pencuri? Atau merasa terganggu dengan orang dari agama berbeda yang tinggal di sebelah rumah karena menganggap mereka semua adalah kafir yang mengancam keimanan, harus dijauhi bahkan harus dihancurkan? Atau menjadi sinis terhadap perempuan yang bekerja dan terpaksa sering pulang malam karena kantornya jauh dari tempat tinggalnya? Atau merasa kesal dengan orang-orang tua yang dianggap serba ketinggalan jaman, selalu ingin ikut campur, lemah, tidak berdaya dan banyak menuntut perhatian/bantuan?...

Dengan begitu kompleksnya makna dan bentuk bigotry, tampaknya bahkan saya dan Anda-pun sulit untuk sepenuhnya luput dari kecenderungan tersebut. Mungkin saya dan Anda tidak pernah secara sengaja menyampaikan atau menyebarkan pernyataan kebencian terlebih melakukan tindak kekerasan karena alasan kebencian terhadap orang atau kelompok tertentu, sebagai ekspresi dari bigotry yang vulgar dan kasar. Namun sangat mungkin pernah ada terlintas dalam pikiran dan prasangka yang cenderung curiga, tidak nyaman, meremehkan atau merendahkan orang atau kelompok tertentu karena alasan perbedaan ras, agama, gender, usia atau budaya, yang merupakan bentuk dari subtle prejudice dan benign bigotry.

Saya tidak yakin, apakah ada satu orang saja di dunia saat ini yang benar-benar bersih dari pikiran dan perilaku bigotry. Bahwa ada manusia, yang mungkin dapat menjadi seperti apa yang diungkapkan Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Bumi Manusia (1980): “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.” Tapi tentu saja itu tidak dapat dijadikan pembenaran. Prasangka dan bigotry, apapun justifikasinya, adalah selalu bersifat merusak diri dan masyarakat. Sedapat mungkin perilaku bigotry ini harus ditekan dan dikurangi penyebarannya. Karena seperti penyakit, menurut saya bigotry ini dapat menular: pada keluarga, teman, tetangga dan lingkungan yang lebih luas. Memiliki prasangka dan kebencian saja sudah merupakan hal yang buruk Tapi mewariskan dan menyebarkan prasangka dan kebencian adalah jauh lebih buruk lagi.

Bagaimana mengurangi perilaku bigotry?

Masalah bigotry bersifat struktural dan kultural, baik di ranah individu, masyarakat, nasional maupun internasional.  Karenanya upaya mengurangi bigotry juga harus masuk ke seluruh area tersebut, dari mulai kebijakan dan regulasi sampai pada pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai yang menghargai pluralitas, toleransi dan inklusivitas.

Menurut Gay (2013), mengurangi kebencian, bigotry, dan intoleransi biasanya dimulai dengan sikap pribadi. Orang yang memiliki harga diri yang rendah dan merasa terancam oleh perbedaan atau yang membutuhkan rasa aman dan penerimaan oleh kelompok mungkin memiliki masalah untuk mampu menghargai perbedaan tersebut --apakah itu warna kulit, agama, jenis kelamin, pendapatan, bentuk fisik atau ukuran, atau kemampuan mental--.

Bronner (2014:12) berpendapat bahwa persoalan bigotry sudah sangat kompleks dan luas, sehingga perlawanan terhadap para bigot ini membutuhkan bentuk-bentuk perjuangan baru yang menyoroti tidak hanya solidaritas tetapi juga bentuk penilaian politik yang lebih tajam. Tidak ada solusi sederhana untuk masalah yang ditimbulkan oleh para bigot tersebut.

Mengatasi bigotry tidak dapat dilakukan sendiri. Individu dan berbagai kelompok masyarakat bahkan institusi pemerintahan harus turut serta. Perlu pendidikan tentang keberagaman dan saling menghargai baik di keluarga, institusi pendidikan dan keagamaan. Selain itu perlu diperbanyak dan diperluas kampanye dan sosialisasi melalui berbagai media untuk membantu menghentikan bigotry, intoleransi, dan rasisme. Individu di tingkat nasional dan di seluruh dunia dapat mengambil tindakan terhadap bigotry dan rasisme dengan bergabung dengan kelompok akar rumput yang bekerja untuk mengatasi perilaku intoleran. Dapat pula berpartisipasi melalui media seni budaya dalam bentuk drama jalanan, konser, drama, pertunjukan seni, dan acara lain untuk membangun kepedulian terhadap pelanggaran hak-hak sipil dan diskriminasi. Pendidikan dan sosialiasi mengenai pluralism dan toleransi juga dapat dilakukan dengan melalukuan kegiatan kunjungan atau pertukaran budaya. Dengan mempelajari budaya dan keyakinan yang berbeda dari mereka sendiri (bahkan belajar bahasa lain) dapat membebaskan diri dari praduga tentang kelompok etnis, yang pada gilirannya membantu mengurangi bigotry dan rasisme. Upaya lain dapat dilakukan dengan membuat/mendukung petisi online, melakukan demonstrasi atau  berkampanye politik serta memilih politisi yang mendukung tindakan legislatif untuk mengurangi bigotry dan intoleransi (Anderson, 2010; Gay, 2013; Bronner 2014).

--------------
Referensi:
  • Abercrombie, Nicholas, Stephen Hill, and Bryan S. Turner (2006). The Penguin Dictionary of Sociology. Fifth Edition. Penguin Books, London.
  • Anderson, Kristin J. (2010). Benign Bigotry: The Psychology of Subtle Prejudice. Cambridge University Press, Cambridge.
  • Bronner, Stephen Eric (2014). The Bigot: Why Prejudice Persist. Yale University Press, New York.
  • Bruce, Steve and Steven Yearly (2006).  The SAGE Dictionary of Sociology. SAGE Publications, London.
  • Gay, Kathlyn (2013). Bigotry and Intolerance: The Ultimate Teen Guide. It Happened to Me, No. 35. The Scarecrow Press, Lanham.
  • Scruton, Roger (2007). The Palgrave Macmillan Dictionary of Political Thought. Third Edition. The Macmillan Press, New York.
  • Turner, Bryan S. (Gen. Ed.) (2006). The Cambridge Dictionary of Sociology. Cambridge University Press, Cambridge.
---Selesai---

Selasa, 31 Januari 2017

"Ada Apa Dengan Bigot?" (AADB: Bagian 1)

"Ada Apa Dengan Bigot?"
(AADB: Bagian 1)


Oleh: Candra


Ada satu istilah yang belakangan ini cukup sering muncul di media massa dan media sosial, yaitu Bigot dan Bigotry? Setahu saya itu bukan istilah baru dalam ilmu psikologi dan sosiologi. Tapi dalam satu dua tahun ini istilah tersebut rasanya makin sering digunakan oleh para pengamat, penulis dan kritikus sosial-politik, dan juga bukan cuma di Indonesia, tapi juga di dunia. Kalau diperhatikan, istilah ini juga hampir selalu disandingkan dengan banyak istilah lain yang umumnya berkonotasi negatif, seperti prasangka, stereotype, rasisme, intoleransi, diskriminasi, konservatisme, radikalisasi, dan bahkan terorisme.

Sebagai contoh, koran The Jakarta Post pada 6 Desember 2016 mengangkat isu ini dengan judul Bigotry haunts nation sebagai respon atas menguatnya aksi intoleransi oleh kelompok garis keras yang mencerminkan meningkatnya konservatisme di Indonesia. Sementara di Amerika Serikat, menjelang pemilihan Presiden di sana akhir tahun 2016 lalu, juga terbit sebuah buku yang ditulis oleh John K. Wilson berjudul Trump Unveiled: Exposing the Bigoted Billionaire. Wilson tampaknya berupaya mengingatkan publik AS tentang sosok Trump yang disebutnya “narcissistic, bigoted, even idiotic fool” setidaknya terkait dengan pernyataan dan agenda politiknya yang kontroversial mengenai kaum kulit berwarna, imigran, dan Muslim. Namun sejarah membuktikan bahwa dalam demokrasi rakyat juga bisa salah dalam memilih pemimpin mereka sendiri.

Istilah tersebut memang tampaknya belum lazim di Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring di situs http://kbbi.kemdikbud.go.id juga belum memasukkan istilah itu. Jadi memang sulit untuk mencari padanan kata-nya dalam Bahasa Indonesia. Sebagian orang mengartikan bigotry sebagai fanatisme, tapi mungkin kurang tepat juga, jadi saya memilih untuk tetap menggunakan istilah aslinya saja. Tidak heran pemahaman umum tentang bigot (sebagai subyeknya) dan bigotry (sebagai perilakunya) pastinya juga tidak seragam. Pemahaman awal saya tentang istilah itu ternyata juga tidak terlalu tepat benar. Sebelumnya saya memahami istilah tersebut berkaitan dengan cara pandang dan sikap yang dari satu atau sekelompok orang yang merasa dirinya paling penting dan benar, memandang rendah dan salah pihak lain, serta menyampaikan pernyataan kebencian serta bertindak diskriminatif, khususnya kepada pihak lain yang berbeda agama/keyakinan saja. Dari sejumlah literatur yang saya baca kemudian, aspek-aspek yang mempengaruhi perilaku bigotry tersebut ternyata sangat kompleks, terkait dengan stereotype dan prasangka (prejudice) terhadap individu atau kelompok lain yang berbeda ras, agama, gender, usia, dll. Jadi tidak semata soal kebencian terhadap pemeluk agama yang berbeda saja.

Salah satu referensi yang menurut saya penting dan menarik tentang bigot dan bigotry ini adalah buku berjudul The Bigot: Why Prejudice Persist yang yang ditulis oleh Stephen Eric Bronner pada tahun 2014. Broner menggambarkan karakteristik para bigot, perilaku dan asal-usul mereka. Konteksnya sebagian besar memang di US dan Eropa, tapi bisa membantu dalam memahami stuasi di Indonesia saat ini.

Menurut Bronner, asal-usul para bigot ini beragam, dan dapat berasal dari kalangan apa saja. Mereka tidak selalu berkulit putih, tidak selalu laki-laki, tidak selalu kaya, dan tidak selalu konservatif atau fasis. Mereka umumnya berasal dari kelas menengah ke bawah, pemilik toko kecil, atau petani, meskipun pekerja industri dan lainnya juga dapat menjadi rasis dan otoriter dalam orientasi. Tidak setiap kelompok sosial atau strata memiliki semua prasangka. Para bigot dalam satu kelompok sering menjadi sasaran prasangka dari para bigot di kelompok lain. Namun tujuan para bigot adalah selalu sama: untuk mengubah hidup, menghilangkan hak, mengeksploitasi, dan menganiaya kaum sublatern serta menjadikannya  obyek untuk mereka manfaatkan.

Selain itu, para bigot mungkin saja tidak mengelompok dalam satu organisasi tertentu, tetapi mungkin juga tersebar dan bergabung dengan berbagai partai politik dan gerakan. Gaya dan pola mereka juga tidak selalu sama di setiap zaman, namun cukup adaptif dan berubah menurut situasi sejarah yang ada pada masa tertentu.

Para bigot ini juga jarang hanya memiliki satu target sebagai sasaran kebencian mereka. Artinya target para bigot ini tidak spesifik pada satu kelompok tertentu, namun dapat siapa saja yang danggap berbeda dengan mereka.

Satu kesamaan diantara mereka, adalah adanya satu dorongan yang serupa untuk mengarahkan kebencian terhadap pihak lain yang mengancam (atau dianggap sebagai ancaman) terhadap hak istimewa, rasa eksistensialnya harga diri, dan dunia (imajiner) yang mereka miliki selama ini. Dengan kata lain, dunia bagi para bigot adalah dunia di mana mereka menjadi pemiliknya, memiliki hak untuk mengaturnya, subyek paling penting dan memiliki hak-hak istimewa, atau menjadi pewaris ajaran kebenaran berikut tafsir-tafsirnya. Kelompok atau pihak lain diluar kelompok mereka (para “Other”) adalah kaum subordinat atau sublatern yang status sosialnya lebih rendah sehingga harus tunduk pada sistem dunia di mana para bigot ini “berkuasa.”

Di dunia mereka tersebut, para bigot merasa nyaman, bahagia, dan bahkan dapat menunjukkan sikap ramah. Mereka sering terlibat dalam tindakan-tindakan kebaikan kecil individual terhadap para Other, yang kerap mereka pandang sebagai bentuk dari tanggung jawab sosial (noblesse oblige). Tapi sikap para bigot akan berubah setelah subaltern tersebut tidak lagi menerima hegemoni mereka. Karenanya, reaksi berupa meningkatnya kebencian terhadap kaum sublatern yang dianggap telah mengubah tatanan dunia mereka tersebut merupakan sebagai konsekuensi logis dari sistem dunia di mana bigot berkuasa.

Di mata para bigot, kelompok-kelompok sublatern menjadi satu ancaman luar biasa yang mencakup segala hal. Para bigot berupaya memerangi kelompok-kelompok sublatern tersebut dengan mempersempit peluang mereka, menolak untuk melihat mereka seperti apa adanya mereka, dan mengidentifikasi mereka sebagai inheren rendah dengan sifat-sifat tetap dan status tidak berubah. Dengan demikian para bigot dapat mengkonstruksi pihak lain sesuai keinginannya sendiri, yang sekaligus membangun jaringan stereotype yang membentuk citra tentang diri mereka sendiri.

Dalam pandangan Bronner, para bigot adalah orang-orang yang dibatasi oleh kerangka kognitif mereka sendiri, sekaligus menjadi tawanan dari prasangka (prejudice) yang mereka ciptakan sendiri. Untuk menjustifikasi klaim mereka atas dunia, para bigot memvalidasi diri dengan menggunakan mitos, stereotip, dan standar ganda. Bronner menyebutnya sebagai bentuk “konspirasi fetisisme.” Para bigot ini tidak mau dan tidak dapat terlibat dengan orang-orang lain yang mempertanyakan opini mereka atau menantang superioritas yang mereka miliki. Karena kerangka kognitif mereka yang terbatas ini, pemahaman akan dinamika dunia modern pada para bigot juga menjadi semakin sedikit. Pemahaman yang sedikit akan dunia tersebut justru membuat mereka semakin merasa menjadi tidak aman. Akibatnya, pilihan untuk menjadi lebih fanatik menjadi yang paling mungkin untuk diambil. Karenanya, tidak mengherankan jika para bigot harus sering muncul dalam peran tradisional yang terkait dengan komunitas organik imajiner: yaitu para true believer (taklid), para elitis, dan chauvinis. Peran tradisional pada individu bigot ini tidak saling eksklusif dan, pada kenyataannya, biasanya tumpang tindih. Artinya para bigot dapat memainkan satu, dua atau sekaligus ketiga peran tersebut.

Tingkat intensitas yang mereka mainkan bervariasi sesuai dengan keadaan dan selubung psikologis tiap individu. Tapi mereka semua rentan terhadap fanatisme, di mana sikap itu yang memberikan para bigot perasaan dan keyakinan bahwa mereka selalu berada di “jalan yang benar.” Tanpa itu, tindakan bermain peran yang mereka lakukan menjadi tidak masuk akal sama sekali. Sebagai true beliver sejati, para bigot mengaku mendengar suara Tuhan, dan dengan itu mereka mengutuk pihak lain yang tidak, atau menafsirkan sebaliknya. Sebagai kaum elitis, mereka merasa tahu segala hal, dan dengan demikian bersikeras bahwa mereka lebih unggul dibanding orang-orang dari ras, etnis maupun orientasi gender yang berbeda. Sementara dalam peran sebagai chauvinis, mereka menganggap sikap mereka itu sebagai ekspresi otentik dari komunitasnya.

Sebagian bigot mengklaim bahwa mereka menerima wahyu ilahi yang membenarkan superioritas mereka. Sebagian bigot lainnya masih merasa perlu membuat argumen lain yang mendukung klaim superioritas mereka tersebut. Namun bagi para bigot dari jenis chauvinis hanya membutuhkan sebuah narasi yang mereka buat untuk membenarkan dan melayani kepentingan diri mereka sendiri. Narasi tersebut didorong oleh nostalgia masa lalu, atau, umumnya, oleh bentuk masa lalu tertentu yang dibayangkan oleh para bigot. Ini adalah narasi di mana pihak lain (“Other”) menghilang, atau, eksploitasi dan diskriminasi yang diderita pihak lain itu menghilang. Menambah penganiayaan pada lain itu hanya akan merusak narasi.

Bronner berpendapat bahwa prasangka para bigot kepada pihak lain itu merupakan prasangka negatif, karena bersifat permusuhan, merusak, dan ganas. Prasangka tersebut merupakan kristalisasi dari banyak hal  buruk (sadar atau tidak sadar) yang didasari oleh ketakutan akan kehilangan hak istimewa mereka, yang kemudian diinternalisasi dalam pemikiran dan tindakan mereka. Mereka yang terlibat dalam prasangka negatif tersebut umumnya adalah individu dengan masalah psikologis yang khusus. seperti obsesif, narsisis, dll.  Setiap bigot memiliki neurosis atau ketidakseimbangan mental mereka sendiri, ataupun konflik dengan keluarga, kerabat, teman, lingkungan sosial, darta pengaturan geografis, memiliki target khusus dari kebenciannya.

Meskipun para bigot gemar menggertak, namun sesungguhnya ego mereka sangat rapuh. Mungkin hal ini yang menjelaskan mengapa mereka dapat merasa bahagia di rezim fasis atau otoriter. Namun, menurut Bronner, ternyata para bigot ini juga dapat bertahan dalam sistem demokrasi perwakilan dan bahkan dalam sistem pemerintahan dengan partisipasi masyarakat lokal yang luas. Para bigot bersedia untuk bergabung dengan gerakan apapun, apakah itu konservatif, fasis, liberal, sosialis, atau komunis. Dimanapun mereka berada, para bigot akan memainkan peran reaksioner yang sama dalam kehidupan publik.

Namun demikian, para bigot-pun dapat merasa frustasi terhadap dunia. Rasa frustrasi para bigot tersebut dapat dipahami, karena para intelektual, ahli, politisi, dan pihak luar lainnya tampaknya tidak menghormati pendapat dan tradisi para bigot tersebut. Bagi para bigot, musuh-musuh mereka adalah kaum ateis, orang asing, homoseksual, dan pelaku subversif lainnya yang semuanya selalu mencari cara untuk mengubah tatanan dunia di mana para bigot merasa nyaman dan berpangaruh. Sementara, masyarakat terbuka (open society) juga dapat mengancam hegemoni para bigot. Karenanya, para bigot kemudian terlibat dalam politik yang berupaya mempersempit ruang publik. Partisipasi harus dibatasi bagi kaum Other yang tidak seperti dan bukan bagian dari kelompok mereka. Semua pihak lain yang tidak seperti mereka dianggap hanya  akan bersekongkol melawan keberadaan dan kepentingan para bigot belaka.

Bagi para bigot, ini adalah pertempuran dari perang suci melawan “dunia lain” di luar kelompok mereka. Menurut Bronner, sebagai kelompok yang sebelumnya merasa sebagai penerima hak istimewa sosial (privielege), para bigot sekarang memandang dirinya sebagai pecundang, atau sebagai pemenang yang tengah dikepung oleh para musuhnya. Tak jarang ditemukan di mana para bigot kemudian menggunakan peristiwa imajiner yang mereka bayangkan untuk mendakwa seluruh ras, agama, kebangsaan, atau kelompok gender tertentu. Kebutuhan para bigot untuk mencari alasan dan pembenaran adalah satu hal yang tak berujung: semua hal selalu selalu tentang mereka dan tidak pernah tentang pihak lain atau korbannya. Para bigot memandang diri dan kelompok mereka sebagai pusat dunia. Karenanya, apa yang dialami oleh subaltern dianggap tidak relevan. Para bigot selalu menuntut lebih. Bagi mereka sudah waktunya untuk "bergerak" dan "mendapatkan lebih” dari apa yang sudah mereka miliki saat ini, yaitu pengaruh dan dominasi.

Dalam hal ini, Bronner melihat bahwa para bigot tak segan memutabalikkan sejarah, mengaburkan kebutuhan untuk tanggung jawab etis, dan berusaha untuk membasmi perbedaan antara korban dan penganiaya. Relativisme fabrikasi menyediakan para bigot sebuah "pseudo-orientasi dalam masyarakat terasing." Ini memberinya lapisan toleransi dan membenarkan ketidakpedulian parokial untuk nasib sublatern dan budaya lain, dan apa yang bisa dipelajari dari mereka.

Bronner menyimpulkan, bahwa secara umum para bigot adalah kaum relativis tapi bukan pluralis. Perbedaan ini penting, karena meskipun mungkin sama-sama menentang gagasan bahwa satu kebenaran tunggal akan menunjukkan jalan ke surga, namun ada perbedaan pandangan mengenai alternatifnya. Pluralisme menganggap lembaga liberal dan cita-cita yang universal akan memungkinkan individu untuk membuat penilaian yang masuk akal tentang budaya lain dan itu berarti bersedia menerima gaya hidup yang berbeda dengan apa yang diyakini dan dilakukannya sendiri. Sementara para bigot berbeda pandangan mengenai hal tersebut. Karena perhatian mereka sesungguhnya hanyalah bagaimana mempertahankan keunggulannya mereka sendiri, dan menemukan alibi kreatif untuk semua kegagalan atasnya.

Karena itu, bagi Bronner, para bigot sesungguhnya menderita defisit identitas dan rasa kurang percaya diri. Karenanya, dalam setiap pertemuan dengan pihak lain mereka selalu merasa harus terus-menerus mengkonfirmasi prasangka pra-reflektif dan keunggulan mereka sendiri. Mereka merasa harus selalu dapat menjadi pihak yang mendiktekan segalanya, tidak peduli apakah pada saat itu mereka tengah membela sesuatu yang legal atau ilegal, tindakan kekerasan atau persuasi, atau bahkan gagasan reformasi maupun revolusi. Para bigot adalah partisan yang bercokol tidak hanya pada organisasi tertentu saja. Pada satu ketika mereka melontarkan slogan-slogan nasionalis, namun pada waktu lain justru menyatakan solidaritas internasional dengan ras kulit putih. Kadang-kadang ia akan mendukung negara kesejahteraan, namun kadang juga tidak. Satu saat para bigot dapat muncul sebagai kaum elitis, yang arogan dan mengutuk massa, namun di saat yang lain mereka memainkan kartu populis yang mengamuk terhadap kaum liberal perkotaan, para bankir internasional, dan mengutuk intervensi pihak asing. Uniknya, seperti yang terjadi pada Kluk Klux Klan (KKK) di Amerika dan Nazi Jerman, para bigot ini juga dapat muncul sebagai elitis dan populis sekaligus.

Para bigot dapat saja berubah atau berpindah partai, namun para true believer, elitis, dan chauvinis masih terus bergumul dengan konstituen tradisional yang sama. Mereka masuk ke dalam bentuk-bentuk gerakan evangelis berkembang dan kelompok penjaga moral, pendukung teori ekonomi "menetes ke bawah" (“trickle down” economics) dan menentang konsep negara kesejahteraan, sekaligus sambil terus menyuarakan hyper-nasionalisme.

Penyebab para bigot dapat menggeser dan mengubah pandangan mereka dengan begitu mudahnya adalah karena, pada akhirnya, mereka sesungguhnya tidak memiliki pandangan spesifik sama sekali, kecuali semua yang sejalan dengan kepentingan dan prasangka yang saling memperkuat di dalam diri/kelompok mereka sendiri. Karenanya, para bigot tidak layak untuk berbicara tentang teori sosial --yang mengintegrasikan berbagai elemen menjadi visi global dan koheren masyarakat dan sejarah--. Para bigot justru akan mendistorsi teori-teori sosial tersebut. Bagi para bigot, segala hal dapat diterima atau ditolak  sesuai dengan kebutuhan ideologis mereka pada saat tertentu.

Dari hasil pengamatannya, Bronner melihat bahwa pada masa modern saat ini, para bigot telah melakukan mutasi besar-besaran. Taktik politik dari para bigot telah berubah dan retorika inflamasi yang sebelumnya cukup ampuh melukai pihak lain sekarang ini tidak lagi cukup efektif untuk memenuhi tujuan mereka. Kultus terhadap pemimpin tunggal juga telah hilang, dan kerinduan para bigot terhadap perubahan rezim sebagian besar telah mereka sembunyikan. Namun, menurut Bronner, para bigot adalah makhluk yang tangguh. Mereka tahu bagaimana cara menyembunyikan hasrat terdalam mereka. Para bigot yang tidak dapat lagi dengan mudah diidentifikasi dari sikap atau ciri-ciri psikologis tertentu, atau bahasa bermuatan intoleransi tertentu. Kata-kata dapat melukai, tapi kerusakan yang ditimbulkan dari kebijakan tertentu dapat lebih parah lagi. Prasangka tidak dibatasi oleh apa yang orang rasakan atau katakan, tetapi apa yang sebenarnya mereka lakukan. Hal tersebut memiliki dimensi ekonomi seperti halnya dimensi budaya dan politik. Hal tersebut terutama terjadi saat ini ketika ada banyak bentuk kamuflase bagi para bigot baik melalui media massa maupun lembaga politik tertentu, seperti munculnya Tea Party beraliran ultra konservatif di AS.

Para bigot selalu waspada dengan perkembangan modernitas yang ada saat ini. Karena dalam modernitas terkait erat dengan pertumbuhan ilmu pengetahuan, teknologi, dan rasionalitas instrumental, yang pada akhirnya akan mengkritisi segala hal yang sebelumnya hanya didasarkan pada iman atau prasangka tertentu saja. Dalam modernitas apa yang pernah diselimuti mitos dan kegelapan sekarang berpotensi menjadi terbuka dan memperoleh cahaya. Namun para bigot juga dapat masuk dalam modernitas, misalnya dalam hal pengguaan metode ilmiah seperti juga yang digunakan oleh para pengkritik mereka, seperti yang ditunjukkan oleh NAZI Jerman. Meskipun demikian  para bigot tidak pernah sepenuhnya merasa nyaman dalam menggunakan ilmu pengetahuan untuk mendukung prasangka mereka tersebut.

Para bigot tidak menyukai konsep universal dan kriteria objektif dalam membuat penilaian ilmiah. Menurut Bronner, para bigot lebih suka menggunakan prasangkanya sebagai pembenaran ilmiah, contohnya dengan membuat referensi phrenology –yaitu studi tentang struktur tengkorak yang digunakan untuk menentukan karakter dan kapasitas mental seseorang--, atau dengan menekankan pentingnya atribut fisik tertentu, sifat-sifat yang diwarisi, eugenika –filsafat sosial yang berpandangan bahwa untuk memperbaiki ras manusia makan orang-orang yang sakit atau catat harus disingkirkan--, dan hirarki antropologis. Karenanya, ilmu genetika memiliki daya tarik tertentu bagi para bigot dalam usaha mereka untuk menjelaskan tentang kecerdasan atau kreativitas, meskipun sesungguhnya tidak ada bukti untuk membenarkan adanya hubungan sebab-akibat antara biologi dan prestasi sosial.

Para bigot yang selalu merasa alergi mengenai gagasan tentang mengubah sesuatu dari yang tak terlihat menjadi terlihat, dari yang tak terlukiskan menjadi sesuatu yang diskursif, dan dari sesuatu yang tidak diketahui menjadi sesuatu yang dapat dipahami. Kalaupun dilakukan sebuah kajian atau penelitian, para bigot hanya akan mengambil kebenaran yang sesuai dengan prasangka dasar mereka saja. Karenanya, menurut Bronner, semua bentuk observasi dan bukti, hipotesis dan kesimpulan, konfirmasi dan validasi akan diseleksi sedemikian rupa oleh para bigot, dan digunakan untuk membenarkan apa yang oleh Cornel West telah disebut "pengecualian diskursif" (“the discursive exclusion”).

Meski mungkin tidak diakui secara terbuka, para bigot sesungguhnya adalah orang-orang oportunis, karena selain prasangka, mereka sesunggunya tidak memiliki keyakinan inti yang kukuh. Sebagai contoh, meskipun pada prinsipnya mereka mendukung ketidaksetaraan dan ide kompetisi, namun sikap itu hanya berlaku ketika mereka berada di atas (posisi yang diuntungkan) atau, ketika mereka percaya bahwa mereka berada di atas. Mereka akan menolak ide kompetisi tersebut ketika mereka menemukan bahwa diri mereka berada di bawah (posisi yang tidak diuntungkan). Kompetisi dipandang baik hanya jika itu menguntungkan mereka. Ketika tidak, para bigot akan bersikeras bahwa pesaing atau lawan mereka telah melakukan kecurangan, dan bahwa lawan mereka itu telah menipu yang merupakan sifat bawaan dari etnis, kebangsaan, atau ras mereka.

Bronner menyimpulkan, bahwa dengan segala bentuk kamuflase yang mereka lakukan, para true believer, elitis, serta chauvinis tampaknya memang cocok sempurna dan cenderung akan terintegrasi dengan arus utama (neo) konservatif. Dalam hal ini, prasangka mereka telah disamarkan untuk mendapatkan legitimasi, dan mungkin mereka bahkan tidak lagi menyadari ke-bigotry-an mereka sendiri. Kemunafikan dicampur dengan kepercayaan, dan oportunisme berkelindan dengan keyakinan. Tapi para bigot ingat siapa diri mereka sesungguhnya. Bronner mengingatkan, bahwa dengan dogmatisme agama, sikap elitisme anti-demokrasi, dan pemahaman sempit tentang masyarakat, para bigot masih berupa menunjukkan bahwa mereka juga adalah para pejuang revolusioner untuk kosmopolitanisme, kebebasan politik, dan kesetaraan sosial.


------------------- 
Referensi: