Baca

Baca

Minggu, 17 Januari 2016

"David Bowie: Buku, Pesta, Musik"

(Sumber Photo: http://www.davidbowie.com/news/bowie-s-top-100-books-complete-list-52061)


Candra Kusuma

You are the books you read, the films you watch, the music you listen to, the people you meet, the dreams you have, the conversations you engage in. You are what you take from these…” (Jac Vanek, desainer dan selebriti di dunia maya)


“Apakah karakter seseorang dapat tercermin dari jenis buku yang dibacanya?”

Bagi yang sependapat, mungkin punya pandangan yang sama seperti yang disampaikan Vanek tadi, bahwa karakter seseorang untuk sebagian setidaknya dapat diduga dari jenis buku yang dibacanya, film yang ditontonnya, orang-orang yang ditemuinya, dan pembicaraan yang dilakukannya.

Sementara bagi yang tidak sependapat, mungkin sejalan dengan pemikiran Polly Thistlethwaite, seorang librarian pada Graduate Center - University of New York. Menurutnya: “You are not what you read. You are not material you look at…”. Bahwa karakter dan perilaku seseorang tidak dapat serta merta dikaitkan dengan jenis buku yang dibacanya. Tentu saja ada alasan khusus dari pandangan ini. Rupanya, bagi para librarian, ada sejarah panjang ketika di masa lalu orang-orang kerap dianggap bersalah karena membaca atau sekedar memiliki hubungan dengan buku atau bacaan yang kontroversial atau heretik. Itulah mengapa, bahkan di saat sekarang, perlindungan data pribadi dari peminjam di perpustakaan dan judul buku yang mereka baca  masih menjadi isu hangat yang diperdebatkan di Amerika Serikat.

Buat saya sendiri, intensitas membaca dan pilihan jenis bacaan dipengaruhi oleh minat dan kecenderungan seseorang. Rasa ingin tahu, kebutuhan akan informasi tertentu, peluang mengakses bahan bacaan, suasana hati, tren, dan banyak faktor lainnya, turut mempengaruhi pilihan bacaan seseorang pada saat tertentu. Tapi tentu saja seseorang tidak dapat dianggap ‘baik-buruk’ atau ‘benar-salah’ sekedar dari apa yang dibacanya. “Bukankah seseorang yang hobi membaca buku tentang musik, belum tentu juga merupakan seorang pemusik…?.” Tapi bagaimana jika ada kecenderungan bahwa bahan bacaan berbanding lurus dengan perilaku seseorang seperti halnya pada David Bowie?

-----
Bowie “penggemar novel”

Saya sendiri cenderung lebih tertarik pada orang-orang yang punya minat membaca mengenai beragam tema dan isu. Jadi ketika David Bowie seorang musisi terkenal asal Inggris diberitakan meninggal dunia di usia 69 tahun pada tanggal 10 Januari 2016 lalu akibat sakit kanker, saya lebih tertarik mengikuti berita susulannya mengenai sisi lain dari kehidupan Bowie. Saya sendiri sesungguhnya bukan penggemar musik Bowie, dan hanya tahu sepintas 1-2 lagunya saja. Hal yang menarik dari Bowie buat saya, adalah fakta bahwa selain menjadi ikon musik dan fashion serta dikenal sebagai seorang dengan drug habits dan penjelajah seks di masa mudanya, Bowie adalah (juga) seorang selebriti yang menjadi pembaca buku serius. Bukan kagetan, musiman, apalagi sekedar pencitraan.

Beberapa media massa/media sosial menampilkan satu daftar berisi 100 judul buku yang kabarnya direkomendasikan oleh Bowie di akun media sosial miliknya pada tahun 2013 lalu (lihat daftar di bagian bawah tulisan ini). Topik yang ada dalam daftar itu memang sangat variatif dan terbentang dalam beragam genre: dari soal musik, puisi/sajak, memoir, sejarah, politik, budaya, agama/spiritualitas, fiksi/novel, dll.

Setelah saya melihat daftar buku yang direkomendasikan Bowie, saya memberanikan diri menarik kesimpulan sementara, bahwa jika hanya didasarkan pada daftar itu saja, Bowie adalah seorang penggemar novel. Karena ternyata dari 100 buku tersebut, hampir setengahnya yaitu sebanyak 49 adalah novel. Lainnya, sebanyak 19 buku sains/non-fiksi, 11 buku memoir, komik dan puisi/sajak masing-masing 6 buah, dan spiritualitas 3 buku. Sementara buku tentang musik yang direkomendasikannya dalam daftar itu hanya ada 6 buah saja.

Pastinya itu hanya sebagian saja dari semua buku yang pernah dibaca Bowie. Mungkin daftar tersebut dapat dianggap sebagai sampel dari semua populasi buku Bowie. Tapi dari kasus Bowie ini, tampaknya dapat ditangkap kesan, bahwa seorang pemusik nyatanya tidak berarti hanya membaca buku tentang musik saja.

-----

Dari Jones menjadi Bowie

David Bowie lahir 8 Januari 1947 di Brixton, UK. Tapi itu bukanlah nama aslinya. Nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya adalah David Robert Jones. Ayahnya bernama Haywood "John" Stenton Jones, dan ibunya Margaret Mary  (biasa dipanggil Peggy). Masa kecilnya tidak terlalu baik, dan dia sering berkelahi di sekolah. Pada umur 10 tahun, dia ikut paduan suara gereja. Pada usia itupun dia sudah menunjukkan ketertarikan dengan lawan jenisnya. Dia cukup populer dan disukai teman-temannya. Tapi meski dianggap sebagai pemimpin mereka, Bowie tidak terlalu suka terlibat perbincangan dengan mereka.

Ada “sisi gelap” di keluarganya. Ibu, kakak tirinya (Terry), dan cukup banyak anggota keluarga dari pihak ibunya tampaknya menderita schizophrenia. Dalam beberapa kesempatan, Jones/Bowie pernah mengatakan bahwa dia selalu merasa bahwa keluarganya dikutuk dengan schizophrenia, dan ada banyak kegilaan dalam keluarganya.

Sejak kecil dia senang belajar bermain saxophone dan gitar. Ketika remaja David Robert Jones sering menjadi pemain saxophone dibeberapa band rock lokal. Pada tahun 1966 dia terlibat dalam band the Monkees. Untuk membedakan dengan nama seorang penyanyi lain yang bernama mirip dengannya, David Robert Jones kemudian menggunakan nama panggung yang lain. Sejak itu dunia mengenalnya sebagai  David Bowie.

-----


Bowie sang Bibliophile

Ketika dewasa, selain membaca, Bowie juga sering menulis, melukis dan membuat patung. Hobi membaca dan menulis Bowie rupanya ditularkan oleh ayah dan ibunya. Ayahnya memang juga seorang penggemar buku. Sementara selain juga suka membaca, ibunya juga kerap membuat puisi. Bowie kecil mulai berkenalan dengan dan menyukai karya-karya Hemingway dari klub buku ayahnya itu. Sejak kecil Bowie suka “mengkhayal” dan membaca. Ketika berusia 6 tahun, Bowie lebih suka membaca daripada bermain dengan teman-temannya: “I was a kid that loved being in my room reading books and entertaining ideas. I lived a lot in my imagination. It was a real effort to become a social animal” (Leigh, 2014).

Ayahnya mantan pemilik klub malam. Ayahnya pula yang memperkenalkan dengan dunia hiburan dan para pelakunya. Ayahnya ingin Bowie jadi bintang. Di sisi lain, dari ayahnya pula Bowie belajar tentang keberagaman, toleransi dalam beragama, kebebasan berekspresi, dll. Bagi Bowie, ayahnyalah yang membantunya membuka mata dan melihat dunia: “My father opened up my world because he taught me the habit of reading. I got so much information, so many of the things I wanted to do came from books” (Leigh, 2014).

Pada saat melakukan perjalanan panjang untuk konser dan bahkan kerap ketika di bawah pengaruh obat-oabatanpun, Bowie selalu membawa dan membaca tumpukan bukunya terus menerus. Bowie juga kerap memberi hadiah buku kepada teman-teman dekatnya. Hal yang menarik adalah, Bowie juga punya kebiasaan unik membacakan buku pada orang-orang terdekatnya, terutama kepada Iman (istrinya yang kedua), dan  anak mereka Alexandria Zahra Jones (dipanggil Lexie). Istri pertama Bowie bernama Angela (dipanggil Angie). Mereka memiliki seorang anak laki-laki bernama Duncan Zowie Haywood Jones (Zowie/Duncan).

Hal lainnya, sebagai selebriti dunia yang populer dan nyentrik, tak heran jika ada banyak buku yang ditulis tentang Bowie (lihat Leigh, 2014). Sebaliknya, ada juga lagunya yang diubah menjadi buku atau graphic novel, yaitu “Space Oddity” (1996) yang  diambil dari lagunya yang berjudul sama. Ilustrasi pada buku tersebut dibuat oleh Andrew Kolb.

Konon, ada beberapa pernyataan Bowie yang sering dikutip orang terkait dengan hobinya akan buku ini. Bowie berseloroh bahwa dia adalah seorang librarian dengan hasrat sexual: I'm a born librarian with a sex drive.” Baginya, “Oxford Dictionary” adalah semacam buku puisi tentang segala hal. Menurutnya, kualitas yang paling penting dari seorang pria, adalah kemampuan mereka untuk mengembalikan buku. Sementara kritik kerasnya terhadap manusia modern adalah pada keengganan mereka untuk belajar dan memahami masyarakat dan budayanya: People are so fucking dumb. Nobody reads anymore, nobody goes out and looks and explores the society and culture they were brought up in. People have attention spans of five seconds and as much depth as a glass of water.”

-----

Music-based Books

Rasanya tidak mengejutkan jika ada keterkaitan antara buku-buku bacaan Bowie tentang Kabbalah, UFO, NAZI, homoseksualitas, penyakit jiwa, dan banyak tema yang mungkin kontroversial bagi orang lain, dengan ketertarikan pribadi Bowie terhadap tema-tema itu sendiri. Contohnya, salah satu dari 100 buku yang menjadi favorit dan direkomendasikan Bowie ada yang berjudul “The Divided Self: An Existential Study in Sanity and Madness" yang ditulis oleh R.D. Laing  (pertama kali terbit tahun 1960) yang membahas tentang schizophrenia. Bagi Bowie, buku Laing menjadi benteng pertama dalam melawan rasa takutnya akan warisan kegilaan dalam keluarganya. Buku itu juga membantunya untuk mampu mengkanalisasi sekaligus menenggelamkan rasa takut tersebut dalam lirik lagu-lagu yang dibuatnya kemudian (lihat Leigh, 2014).

Karenanya, menjadi sulit untuk membantah, bahwa latar belakang dan kondisi kehidupan pribadi Bowie turut mempengaruhi pilihan buku yang dibacanya. Sebaliknya, buku-buku tersebut juga turut mempengaruhi pembentukan dan perubahan-perubahan dalam pandangan dunia, spiritualitas maupun kehidupan pribadi dan sosial Bowie, termasuk terhadap musik dan lagu-lagu yang diciptakannya (diantaranya lihat Goddard, 2013; dan Leigh, 2014).

Pengaruh dari para pemikir, penulis dan buku terhadap musik dan lagu Bowie diantaranya terlihat dari beberapa lagu berikut:

  • Lagu “We Are Hungry Men” (dalam album “David Bowie,” 1967) yang dipengaruhi oleh “Messiah-worship and Orwellian totalitarianism.”
  • Lagu “All the Madmen” (album The Man Who Sold the World,” 1970), diinspirasi dari memoir Jack Kerouac berjudul “On The Road” (1957). Buku ini berkisah tentang “kegilaan” dan eksklusi sosial, yang dibaca Bowie karena direkomendasikan Terry, kakak tirinya yang menderita schizophrenia. Bowie kabarnya kerap mengutip Kerouac:  “The only people for me are the mad ones, the ones who are mad to live, mad to talk, mad to be saved, desirous of everything at the same time, the ones who never yawn or say a commonplace thing, but burn, burn, burn like fabulous yellow Roman candles.”
  • Lagu “The Width of a Circle” (album The Man Who Sold the World,” 1970), referensinya dari “The Prophet” karya Kahlil Gibran (1926), yang ternyata juga banyak mempengaruhi gerakan hippie di Amerika dan Eropa.
  • Lagu “Aladdin Sane” (album Aladdin Sane,” 1973), diilhami novel karya Evelyn Waugh berjudul “Vile Bodies” (1930).
  • Lagu “Diamond Dogs” (album ““Diamond Dogs,” 1974) yang inspirasinya dari gagasan Orwellian tentang totalitarianisme, seperti yang tergambar dalam novelnya “1984.”
  • Lagu Heroes” (album Heroes,” 1977), yang inspirasinya berasal dari cerita pendek berjudul “A Grave For A Dolphin” yang ditulis Alberto Denti di Pirajno (1956).
  • Lagu “Up the Hill Backwards” (album “Scary Monster (And Super Creeps),” 1980), dengan ilham dari buku berjudul “I’m OK – You’re OK” yang ditulis Thomas Harris (1967). Buku tersebut semacam buku self-help yang mengulas teori “analisis transaksional” dalam kehidupan perkawinan. Sebagai catatan, Bowie bercerai dengan Anggie (istri pertamanya) juga pada tahun 1980.
  • Lagu “When I’m Five” (album Love You till Tuesday,” 1984), yang diilhami novel karya Keith Waterhouse berjudul “There Is A Happy Land.” Raymond, tokoh dan kisahnya dalam novel ini, muncul dalam beberapa lagu Bowie lainya, seperti “There Is A Happy Land” (dalam “David Bowie,” 1967) dan “Reverend Raymond Brown.” Lagu When I’m Five” juga dipengaruhi puisi Norman Nicholson berjudul “Rising Five” (1954).
  • Lagu “Seven Years in Tibet” (album “Earthling,” 1997), yang inspirasinya dari buku autobiografi Heinrich Harrer berjudul “Seven Years in Tibet.” Buku ini dibaca Bowie ketika berusia 19 tahunan. Lagu tersebut adalah ekspresi dari perasaan (atau mungkin juga semacam dukungan moril) Bowie terhadap kondisi politik yang dialami rakyat Tibet.
  • Lagu “Seven” (album “Hours…,” 1999), dipengaruhi oleh buku renungan Kristen yang populer pada Abad Pertengahan berjudul “Book of Hours”, dan pandangan Nietzsche dalam “Die Fröhliche Wissenschaft” dengan kutipannya yang terkenal: “God is dead”: “The gods forgot they made me, so I forgot them too / I listen to their shadows, I play among their graves.” Dalam pandangan Nietzchean, bukan secara harfiah Tuhan mengalami kematian, tapi adalah gagasan bahwa Tuhan ternyata tidak lagi mampu untuk berperan sebagai sumber dari semua aturan moral, teologi dan teleologi.
  • Lagu “I Would Be Your Slave” (album Heathen,” 2002), diinspirasi dari puisi Mary Stevenson-penned berjudul “Footprints in the Sand”.
  • Lagu “Afraid” (album Heathen,” 2002), inspirasinya diambil dari memoir Andrew Loog Oldham, mantan manager pertama Rolling Stones.
  • Lagu “Wood Jackson” (album Heathen” – Bonus SACD, atau Super Audio CD, 2002), yang inspirasinya dari nama Wood Jackson, seorang penulis science-fiction di tahun 1930-an, dan karakter detektif swasta dalam novel “The X-Ray Murders” karya M. Scott Michel (1945).

 -----

Rasanya, hanya sebatas itulah gambaran saya tentang Bowie, khususnya berkenaan dengan “kegilaan”-nya akan buku. Pasti ada banyak hal lain yang diketahui oleh para penggemar sejatinya.

Hal yang menarik minat dan menjadi pertanyaan saya sekarang adalah: “Apakah Bowie mengkoleksi dan menyimpan buku-bukunya? Jika ya, ada berapa banyak koleksi buku yang dipunya Bowie? Bagaimana nasib buku-buku itu setelah Bowie pergi?...”

-----------

Sumber Bacaan:


-----

Lampiran: Daftar Buku yang Direkomendasikan David Bowie (2013)

Daftar ini saya susun ulang sendiri dari daftar awal 100 buku yang direkomendasikan oleh Bowie. Boleh jadi pengelompokkan yang saya buat tidak tepat benar. Jika berminat, tentu saja Anda dapat membuat penilaian dan pengelompokkan sendiri…

Musik:
  1. Charlie Gillete (“The Sound Of The City: The Rise Of Rock And Roll”)
  2. Greil Marcus (“Mystery Train: Images of America in Rock’n Roll Music”)
  3. Gerri Hirshey (“Nowhere To Run: The Story Of Soul Music”)
  4. John Cage (“Silence: Lectures And Writing”)
  5. Nik Cohn (“Awopbopaloobop Alopbamboom: The Golden Age of Rock”)
  6. Peter Guralnick (“Sweet Soul Music: Rhythm And Blues And The Southern Dream Of Freedom”).

Novel:
  1. Albert Camus (“The Stranger”)
  2. Alberto Denti di Pirajno (“A Grave for a Dolphin”)
  3. Alfred Döblin (“Berlin Alexanderplatz: The Story of Franz Biberkopf”)
  4. Angela Carter (“Nights At The Circus”)
  5. Anthony Burgess (“A Clockwork Orange”)
  6. Anthony Burgess (“Earthly Powers”)
  7. Ann Petry (“The Street”)
  8. Arthur Koestler (“Darkness At Noon”)
  9. Christa Wolf (“The Quest For Christa T.”)
  10. Christopher Isherwood (“Mr. Norris Changes Trains”)
  11. D.H. Lawrence (“Lady Chatterly’s Lover”)
  12. David Sylvester (“Interviews With Francis Bacon”)
  13. Don DeLillo (“White Noise”)
  14. Douglas E. Harding (“On Having No Head: Zen and Rediscovery of Obvious”)
  15. Ed Saunders (“Tales Of Beatnik Glory”)
  16. Edward Bulwer-Lytton (“Zanoni: A Rosicrucian Tale”)
  17. Evelyn Waugh (“Vile Bodies”)
  18. F. Scott Fitzgerald (“The Great Gatsby”)
  19. Frank Norris (“McTeague”)
  20. George Orwell (“1984”)
  21. George Orwell (“Inside The Whale And Other Essays”)
  22. Giusseppe Di Lampedusa (“The Leopard: A Novel”)
  23. Gustave Flaubert (“Madame Bovary”)
  24. Howard Norman (“The Bird Artist”)
  25. Hubert Selby, Jr. (“Last Exit To Brooklyn”)
  26. Ian McEwan (“In Between The Sheets”)
  27. John Braine (“Room at the Top”)
  28. John Dos Passos (“The 42nd Parallel: Volume One of the U.S.A. Trilogy”)
  29. John Kennedy Toole (“A Confederacy Of Dunce”)
  30. Julian Barnes (“Flaubert’s Parrot”)
  31. Junot Díaz (“The Brief Wondrous Life of Oscar Wao”)
  32. Keith Waterhouse (“Billy Liar”)
  33. Lawrence Weschler (“Mr. Wilson's Cabinet of Wonder: Pronged Ants, Horned Humans, Mice on Toast, and Other Marvels of Jurassic Technology”)
  34. Martin Amis (“Money: A Suicide Note”)
  35. Michael Chabon (“Wonder Boys”)
  36. Mikhail Bulgakov (“The Master And Margarita”)
  37. Muriel Spark (“The Prime Of Miss Jean Brodie”)
  38. Nathanael West (“The Day Of The Locust”)
  39. Nella Larson (“Passing”)
  40. Peter Ackroyd (“Hawksmoor”)
  41. Rupert Thomson (“The Insult”)
  42. Sarah Waters (“Fingersmith”)
  43. Saul Bellow (“Herzog”)
  44. Tom Stoppard (“The Coast Of Utopia: Voyage, Shipwreck, and Salvage – drama)
  45. Truman Capote (“In Cold Blood: A True Account of A Multiple Murder and Its Consequences”)
  46. Vladimir Nabokov (“Lolita”)
  47. Wallace Thurman (“Infants Of The Spring”)
  48. William Faulkner (“As I Lay Dying”)
  49. Yukio Mishima (“The Sailor Who Fell From Grace With The Sea “)

Komik:
  1. Beano (comic, ’50s)
  2. Peter Sadecky (“Octobriana And The Russian Underground” – comic)
  3. Private Eye (satirical magazine, ’60s – ’80s)
  4. Raw (comic, ’80s)
  5. Spike Milligan (“Puckoon” – comic novel)
  6. Viz (comic, ’80s)

 Puisi/Sajak:
  1. Comte de Lautreamont (“Maldoror and Poems”)
  2. Dante Alighieri (“Inferno”)
  3. Frank O’Hara (“Selected Poems”)
  4. Hart Crane (“The Bridge”)
  5. Homer (The Iliad of Homer”)
  6. T.S. Elliot (“The Waste Land”)

 Spiritualitas:
  1. Elaine Pagels (“The Gnostic Gospels”)
  2. Eliphas Lévi (“Transcendental Magic: Its Doctine and Ritual”)
  3. Frank Edwards (“Strange People” – tentang fenomena UFO)

Memoir/Sejarah:
  1. Anatole Broyard (“Kafka Was the Rage: A Greenwich Village Memoir”)
  2. Bruce Chatwin (“The Songlines”) 
  3. Charles White (“The Life and Times of Little Richard: The Authorised Biography”)
  4. Eugenia Ginzburg (“Journey Into The Whirlwind”)
  5. J.B. Priestley (“English Journey”)
  6. Jack Kerouac (“On the Road”)
  7. James Baldwin (“The Fire Next Time “)
  8. John Rechy (“City of Night”)
  9. Richard Wright (“Black Boy: American Hunger. A Record of Childhood and Youth”)
  10. Tadanori Yokoo (“The Complete Tadanori Yokoo”)
  11. Wyndham Lewis (“Blasting and Bombardiering”)

Sains-Non Fiksi (Filsafat, Politik, Psikologi, Sosial dan Budaya):
  1. Arthur C. Danto (“Beyond the Brillo Box: The Visual Arts in Post-Historical Perspective”)
  2. Camille Paglia (“Sexual Personae: Art And Decadence From Nefertiti To Emily Dickinson “)
  3. Christopher Hitchens (“The Trial Of Henry Kissinger”)
  4. Colin Wilson (“The Outsider”)
  5. David Kidd (“All The Emperor’s Horses”)
  6. Fran Lebowitz (“Metropolitan Life”)
  7. George Steiner (“In Bluebeard’s Castle: Some Notes Towards the Re-definition of Culture”)
  8. Howard Zinn (“A People’s History Of The United States”)
  9. James A. Hall (“ls Dictionary Of Subjects And Symbols In Art”)
  10. Jessica Mitford (“The American Way Of Death”)
  11. Jon Savage (“Teenage: The Creation of Youth 1875-1945”)
  12. Julian Jaynes (“The Origin Of Consciousness In The Breakdown Of The Bicameral Mind”)
  13. Malcolm Cowley (“Writers At Work: The Paris Review Interviews”)
  14. Orlando Figes (“A People’s Tragedy: The Russian Revolution 1891-1924”)
  15. Otto Friedrich (“Before the Deluge: A Portrait of Berlin in the 1920s”)
  16. R. D. Laing (“The Divided Self: An Existential Study in Sanity and Madness”)
  17. Richard Cork (“David Bomberg”)
  18. Susan Jacoby (“The Age Of American Unreason”)
  19. Vance Packard (“The Hidden Persuaders”)

Jumat, 01 Januari 2016

"People of The Book: Kisah Perjalanan Hagaddah Sarajevo"


Candra Kusuma

Saya suka membaca. Salah satu tema yang saya suka adalah buku atau novel yang bercerita tentang buku: sejarah buku, kegilaan pada buku, atau bahkan kebencian sebagian orang pada buku. Semacam itulah.

Dalam suasana pergantian tahun dari 2015 ke 2016 ini saya baru saja selesai membaca sebuah buku –tepatnya novel-- tentang buku. Judulnya “People of the Book.” Penulisnya Geraldine Brooks. Buku ini diterjemahkan tahun 2015 oleh Gramedia. Judulnya aslinya sama, dan diterbitkan Viking tahun 2008. Geraldine Brooks sendiri bukan penulis biasa. Dia adalah pemenang Pulitzer (untuk karya fiksi) tahun 2005 atas novelnya yang berjudul “March.”

-----
Novel ini diangkat dari kisah nyata tentang ditemukannya kembali sebuah Hagaddah di Bosnia pada tahun 1996. Hagaddah atau kodeks kumpulan doa-doa kuno dalam agama Yahudi, mungkin serupa Mazmur dalam Kristen. Tapi ini bukan sembarang Hagaddah, karena berdasar hasil penelitian kemudian, diduga Hagaddah tersebut dibuat pada sekitar tahun 1400-an. Menjadi unik karena Hagaddah ini dihiasi dengan ilustrasi atau gambar manusia dan makhluk hidup yang kaya ornamen dan warna. Padahal, keyakinan dan budaya bangsa Yahudi masa itu melarang penggunaan ilustrasi makhluk hidup baik dalam buku, pakaian atau bangunan. Mirip dengan ajaran yang sama dalam Islam.



(Hagaddah Sarajevo yang asli di The National Museum of Bosnia and Herzegovina)

Dari hasil penelitian terhadap bahan-bahan, teknik pembuatan, gaya penulisan, catatan, serta kandungan kimia dan organik lain yang ditemukan dalam Hagaddah, kemudian diduga bahwa perkamen atau kodeks tersebut telah melalui perjalanan yang panjang. Tergambar bagaimana pasang surut dan saling berkelindannya hubungan antar penganut tiga agama samawi --Yahudi, Kristen dan Islam—, dan juga antar bangsa: Moor, Italia, Spanyol, Jerman, Austria, Serbia, Bosnia, Israel, dll.

Hagaddah tersebut adalah penyintas dari sejarah kelam peradaban manusia selama 600 tahun: konflik, perang, sensor, ikonoklasme, bibliosida, librisida, dan penjarahan. Diduga Hagaddah tersebut telah selamat dari pengusiran bangsa Yahudi dari Tarragona – Spanyol di akhir 1400-an, pembakaran buku yang dilakukan lembaga sensor pada Inkuisisi Spanyol di Venesia – Italia tahun 1600-an, perampokan karya seni dan antik oleh NAZI di Wina – Austria tahun 1940-an, dan terakhir konflik Balkan yang menghancurkan Bosnia tahun 1990-an.

Dari temuan dan dugaan itulah Geraldine Brooks kemudian merangkai kisahnya. Saya tidak akan cerita banyak soal novel bagus ini, khawatir justru mencuri keasikan pembaca berikutnya. Tapi sungguh, buku ini memang asik dibaca…

-----
Selain Pulitzer, Geraldine Brooks juga memperoleh penghargaan Australian Publishers Association's Literary Fiction Book of the Year for “People of the Book” (2008); Peggy V. Helmerich Distinguished Author Award (2009); Dayton Literacy Peace Prize Lifetime Achievement Award (2010). Karya fiksinya yang lain diantaranya: “Year of Wonders (2001); “Celeb’s Crossing” (2011); “The Secret Chord” (2015). Karya non-fiksi: “Nine Parts of Desire: The Hidden World of Islamic Women” (1994); “Foreign Correspondence: A Pen Pal's Journey from Down Under to All Over” (1997); “Boyer Lectures 2011: The Idea of Home (or "At Home in the World")” (2011).

-----
Membaca novel ini sepertinya juga mengajak untuk kembali membaca buku (atau menonton film) tentang kisah-kisah yang mengikutinya. Teringat “The Merchant of Venice” karya William Shakespeare, yang mengisahkan tentang kehidupan bangsa Yahudi di Venesia masa itu. Kisah itu sudah di-film-kan dengan judul sama pada tahun 2004, yang dibintangi oleh Al Pacino.

Terbayang pula kisah kekejaman Inkuisisi Spanyol yang menjadi lembaga pemeriksa keimanan dan sensor untuk mencegah bidah di kalangan Kristen –korbannya antara lain Joan of Arc dan Galileo--, sekaligus mendorong terjadinya konversi (perpindahan agama, yang sebagian besar karena paksaan) dari kalangan Yahudi dan Islam ke Kristen, khususnya di kawasan Alhambra - Granada dan wilayah kekuasaan bangsa Eropa lainnya. Juga teringat sejumlah buku tentang pembakaran buku dan perpustakaan akibat konflik agama dan perang maupun kebencian lainnya (diantaranya lihat "Librisida, Bibliosida dan Mengapa Buku Dibenci").

-----

Catatan: Khusus bagi yang berminat melihat konteks dari novel ini, beberapa sumber ini mungkin dapat menjadi referensi:
  • Hagaddah Sarajevo: http://www.haggadah.ba/?x=1; http://www.croatianhistory.net/etf/hagg.html
  • Lamb, Sidney (Ed.) (2000). Shakespeare’s The Merchant of Venice. IDG Books Worldwide, Inc., Canada.
  • TV serial “The Merchant of Venice” (1980) http://www.imdb.com/title/tt0081152/
  • Film “The Merchant of Venice” (2004) http://www.imdb.com/title/tt0379889/
  • Rawlings, Helen (2006). The Spanish Inquisition. Blackwell Publishing, Massachusett.
  • Homza, Lu Ann (2006). The Spanish Inquisition 1478-1614: An Anthology of Sources. Hackett Publishing Company. Inc., Indianapolis.
  • Bald, Margaret (2006). Literature Suppressed on Religious Grounds. Revised Edition. Facts On File, Inc., New York.
  • Cavarale, Giorgio (2011). Forbidden Prayer: Church Censorship and Devotional Literature in Renaissance Italy. Translate by Peter Dawson. Ashgate Publishing Limited, Gloucestershire.
  • Jackson, Gordon S. (2015). Christians, Free Expression, and the Common Good: Getting Beyond the Censorship Impluse. Lexington Books, London.
  • Fishburn, Matthew (2008). Burning Books. Palgrave Macmillan, New York.
  • Polastron, Lucien X. (2004). Books on Fire: The Destruction of Libraries throughout History. Inner Traditions, Vermont.
  • Baez, Fernando (2013). Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa. Penerjemah : Lita Soerdjadinata. Margin Kiri, Tanggerang Selatan. Buku ini terjemahan dari A Universal History of the Deconstruction of the Book: From Ancient Sumer to Modern Iraq (2004).
  • Knuth, Rebecca (2006). Libricide: The Regime-sponsored Destruction of Books and Libraries in the Twentieth Century. Praeger Publishers, Connecticut.
  • Knuth, Rebecca (2006). Burning Books and Leveling Libraries: Extremist Violence and Cultural Destruction. Praeger Publishers, Connecticut.
  • Wilson-Smith, Timothy (2008). Joan of Arc: Maid, Myth and History. The History Press, Gloucestershire.
  • Harrison, Kathryn (2014). Joan of Arc: A life Transfigured. Doubleday, New York.
  • Bucciantini, Massimo, Michele Camerota dan Franco Giudice (2015). Galileo’s Telescope: A European Story. Translated by Catherine Bolton. Harvard University Press.
  • Feldhay, Rivka (1995). Galileo and the Church: Political Inquisition or Critical Dialogue. Cambridge University Press, New York.
  • Nicholas, Lynn H. (1995). The Rape of Europa: The Fate of Europe’s Treasures in the Third Reich and the Second World War. Vintage, New York.
  • Aalders, Gerard (2004). Nazi Looting: The Plunder of Dutch Jewry During the Second World War. Translated by Arnold Pomerans with Erica Pomerans. Berg Publishers, Oxford.


Selasa, 22 Desember 2015

"Indonesianis"



Candra Kusuma


12 Desember 2015, seorang Indonesianis asal AS Benedict Anderson, meninggal dunia di Malang – Jawa Timur (lihat "Benedict Anderson: Cinta (dan) Mati (di) Indonesia"). Kata “Indonesianis” (dari bahasa Inggris: “Indonesianist”) menjadi sering terdengar lagi. Saya jadi tergoda buat membaca lagi tentang Indonesianis ini.


Indonesianis itu apa sih?

Menyangkut soal definisi, rasanya memang selalu tidak ada yang baku dalam ilmu sosial. Dalam kamus A Comprehensive Indonesian-English Dictionary (Ohio University Press - Athens, 2010), kata ‘Indonesianist’ diartikan sebagai “ahli masalah-masalah Indonesia” atau “ahli Indonesia.” Saya kira dari pengertian ini, istilah Indonesianis setara dalam pengertian umum dengan istilah “Sinologist” (ahli tentang Cina), “Arabist” (ahli tentang Arab), “Americanologist” (ahli tentang Amerika), dll.

Tapi pengertian itu bisa jadi terlalu luas juga, karena mencampurkan antara orang asing yang tahu banyak hal tentang Indonesia, dengan yang pernah meneliti dan menulis tentang Indonesia, dan dengan para peneliti dan pengajar yang memang spesialisasinya tentang Indonesia. Eep Saefulloh Fatah (2004:43-45) kemudian membedakan pengertian “pengkaji asing tentang Indonesia” dengan “Indonesianis.” Menurut Eep, ada empat kelompok pengkaji asing tentang Indonesia, yaitu:
  1. Para pelaku politik (biasanya para Duta  Besar) yang karena pekerjaannya dapat melakukan melakukan pengamatan dan menuliskan hasilnya dalam bentuk buku atau memoar tentang Indonesia. Contohnya: Marshall Green (“Indonesia: Crisis and Tranformation 1965-1968”), dan Howrad P. Jones (“Indonesia: The Possible Dream”);
  2. Orang-orang dari kelompok profesi tertentu (umumnya jurnalis) yang karena interaksinya dengan Indonesia sempat menulis panjang lebar (tapi belum tentu mendalam) tentang Indonesia. Contoh dari  kalangan jurnalis: Cindy H. Adams (“Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams, dan My a Friend the Dictator”), David Jenkins (“Suharto and His Generals”), Michael R.J. Vatikiotis (“Indonesian Politics under Soeharto”), dan Adam Schwarz (“A Nation in Waiting: Indonesia in 1990s”). Contoh dari kalangan aktivis organisasi non-pemerintah: Sidney Jones (''It Can't Happen Here: A Post Khomeini Look at Indonesia Islam'');
  3. Orang-orang yang berlatar belakang sebagai akademisi-intelektual, dan pernah menulis tentang Indonesia, namun tidak secara khusus menjadikan Indonesia sebagai lahan kajiannya. Contohnya: Brian May (The Indonesian Tragedy), John Bresnan (“Managing Indonesia: The Modern Political Economy”), Clark D. Neher (“Democratisation in Southeast Asia''), Yoshihara Kunio (“The Rise of Erzats Capitalism in Southeast Asia”), atau Donald W. Wilson (“The Long Journey: From Turmoil to Self-Sufficiency”);
  4. Orang-orang berlatar belakang akademisi-intelektual yang mengamati Indonesia secara serius dan terus-menerus, menjadikan  Indonesia sebagai lahan kajian akademis mereka. Orang-orang seperti George McTurnan Kahin, Daniel S. Lev, Benedict RO'G Anderson, Herbert Feith, R. William Liddle, Harold Crouch, Robert W. Hefner, Donald K. Emmerson, Lance Castles, Jamie A.C. Mackie, Richard Robison, adalah beberapa yang termasuk dalam kategori ini.
Dalam pandangan Eep, hanya kelompok keempat yang sesungguhnya dapat disebut sebagai Indonesianis. Karena menurutnya hanya para akademisi-intelektual itulah yang memang benar-benar menjadikan Indonesia sebagai objek kajian dan penelitian yang tetap/permanen, yang selanjutnya hasil kajian mereka itu ditulis dalam bentuk produk kajian yang serius, baik buku maupun jurnal ilmiah. Bagi Eep, hanya kelompok keempat tadi sebetulnya yang dapat ditelusuri perjalanan dan jejak teoritisnya. Dalam hal ini, Ariel Heryanto (TEMPO, 2011) tampaknya memiliki pandangan yang senada dengan Eep.  Dalam tangkapan saya, Indonesianis menurut Ariel adalah para pengkaji tentang Indonesia yang berasal dari luar Indonesia, yang memiliki minat khusus tentang seluk beluk Indonesia, dan melakukan penelitian serta pengajaran tentang Indonesia.

Kaitan antara minat, posisi di perguruan tinggi dan spesialiasi isu tentang Indonesia ini disinggung oleh Max R. Lane (penulis “Unfinished Revolution: Indonesia Before and After Suharto,” lihat "Indonesia Bangsa yang Belum Selesai?"), seorang akademisi-aktivis asal Australia yang banyak mengamati Indonesia. Dalam wawancara dengan Indoprogress tahun 2013, Lane memaknai Indonesianis sebagai “orang yang secara khusus mendalami Indonesia secara akademis.” Karenanya, meskipun publik umumnya menganggap Lane sebagai seorang Indonesianis, dia sendiri ragu apakah sebutan Indonesianis sepenuhnya cocok untuknya, sebab ketika meneliti tentang Indonesia dia dalam posisi di luar universitas. Sementara, menurut Lane, mayoritas orang yang dikenal sebagai Indonesianis sudah masuk dunia universitas sejak muda dan menjadikannya sebagai karier dan profesi.

Ada pengertian lain yang buat saya rasanya lebih romantis tentang istilah Indonesianis ini. Majalah TEMPO Edisi 14-10 November 2011 pernah membuat laporan khusus mengenai Indonesianis, peran, dan pasang surutnya dalam mengkaji Indonesia. Saya sebut romantis karena TEMPO memasukkan unsur “perasaan” dalam pengertian Indonesianis, yaitu “para sarjana luar negeri yang sangat mencintai Indonesia.” Tentu saja saya tidak tahu apakah benar mencintai, dan seberapa besar cinta para Indonesianis itu terhadap Indonesia. Tetapi, unsur “mencintai” inilah yang saya kira membedakan dengan para  “Orientalis” yaitu para pengkaji, peneliti dan pengajar Indonesia dan dunia Timur pada umumnya, yang kerap memberikan stigma dan stereotype tertentu mengenai “obyek kajiannya,” dan umumnya ditujukan untuk kepentingan kolonialisme dan imperialisme oleh Barat terhadap Timur. Bagi Indonesia, Snouck Hurgronje mungkin contoh paling pas tentang Orientalis tadi.

Indonesianis di Era Perang Dingin dan Orde Baru

Kajian tentang Indonesia oleh peneliti asing dimulai sejak awal Indonesia merdeka. Peneliti paling awal diantaranya adalah George McT. Kahin dari Universitas Cornell di AS, yang menulis disertasi berjudul ”Nationalism and Revolution in Indonesia” (1952). Kahin kemudian mendirikan Cornell Modern Indonesia Project (CMIP) pada tahun 1954, yang dapat disebut sebagai lembaga kajian pertama khusus tentang Indonesia. Namun, menurut TEMPO,  golden age bagi studi Indonesia baru terjadi pada dekade 1970-an, di mana banyak peneliti tentang Indonesia yang datang dari Perancis, Amerika, Australia Belanda, Jerman dan Rusia. Selain itu berdiri juga pusat-pusat kajian Indonesiadi berbagai perguruan tinggi di negara tersebut, yang ditandai pula dengan maraknya tempat pembelajaran bahasa Indonesia oleh para mahasiswa dan peneliti yang tertarik untuk mendalami berbagai isu tentang Indonesia.

TEMPO menyebutkan, bahwa para peneliti asing yang mengkaji Indonesia umumnya dikelompokkan dalam tiga atau empat generasi. Generasi pertama adalah yang datang di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, seperti George McTurnan Kahin dan Clifford Geertz. Generasi kedua muncul di masa 1960-an, seperti Benedict Anderson, William Liddle, Daniel S. Lev, dan Herbert Feith. Generasi ketiga hadir di era 1970-an dan sesudahnya, seperti Robert W. Hefner dan Takashi Shiraishi. Sementara mereka yang datang ke Indonesia pada 1980-an ke atas, dapatlah kita masukkan sebagai Indonesianis generasi keempat. Saya kira, mereka yang datang di tahun 2000-an mungkin juga dapat disebut sebagai generasi kelima.

Jika dilihat dari asal negaranya, para  Indonesianis yang menonjol, yaitu:
  • Dari Perancis, diantaranya ada Denys Lombard (yang karyanya antara lain berjudul “Nusa Jawa Silang Budaya”), Christian Pelras (“Manusia Bugis”), Pierre Labrousse (“Kamus Umum Indonesia-Perancis”), Claude Guillot (“Change of Regime and Social Dynamics in West Java: Society, State and theOuter World of Banten, 1750-1830”), Marcel Bonneff, Henri Chambert-Loir (“The Potent Dead: Ancestors, Saints and Heroes in Contemporary Indonesia”), Claudine Salmon (istri Lombard, “Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa”), Yves Manguin (“A Bibliography for Sriwiayan Studies”), Chambert Loir (Serpihan Sejarah Bima, Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah), dan  Francois Raillon (“Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia”).
  • Dari Amerika Serikat, di Universitas Cornell terutama adalah George McTurnan Kahin (dengan karya diantaranya “Nationalism and Revolution in Indonesia”), Benedict Richard O’Gorman Anderson (“Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946”), Ruth McVey (“The Rise of Indonesian Communism”), Herbert Feith (“The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia”), Daniel S. Lev (“The Transition to Guided Democracy: Indonesian Politics 1957-1959’), Harold Crouch (“The Army and Politics in Indonesia”). Dari Universitas Harvard, terutama Clifford Geertz (“The Religion of Java”). Dari Universitas Ohio ada William Liddle (“Ethnicity, Partysm and National Integration: An Indonesian Case Study”).
  • Sementara dari Australia, Indonesianis dari Universitas Monash terutama adalah Herbert Feith (“The Decline of Constitutional Democracy”), Lance Castles, John Legge (“Soekarno: A Political Biografi”). Dari Universitas Murdoch ada David T. Hill, dan Carol Warren. Di The Australian National University, ada Harold Crouch (“The Army and Politics in Indonesia”), Edward Aspinall (“Opposing Suharto: Compromise, Resistance, and Regime Change in Indonesia”), Anthony Reid (“The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra”). Di University of New South Wales (UNSW) ada David Reeve (“Golkar of Indonesia: An Alternative to the Party System”). Dari Universitas Sydney ada Keith Foulcher (“Pujangga Baru: Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942”).
  • Dari Belanda yang paling menonjol dari Universitas Leiden yaitu A. Teew (“Modern Indonesian Literature”), dan E.M. Uhlenbeck. Dari perguruan tinggi lainnya ada  Henk Schulte Nordholt (“The Spell of Power: Sejarah Politik Bali 1650-1940 “; “Renegotiating Boundaries: Local Politics in Post-Soeharto Indonesia”), Hein Steinhauer (tim dalam “KamusBesar Bahasa Indonesia edisi keempat”; tim “Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia”), W.F. Stuterheim (“Studies in Indonesian Archeology”), dan Fritjof Tichelman (“The Social Evolution of Indonesia: The Asiatic Mode of Production and Its Legal”), dll.
  • Dari Jerman, diantaranya ada Vincentius Houben (“Kraton and Kumpeni. Surakarta and Yogyakarta 1830-1870”).
  • Dari Inggris, diantaranya adalah Peter Carey (“The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and End of an Old Older in Java 1785-1855”).

Bagi mereka, Indonesia mungkin tampak “seksi.” Sebagai negara yang baru merdeka, kaya dengan etnik dan budaya, juga memiliki dinamika dan konflik sosial, ideologi dan agama yang tinggi, terutama seputar peristiwa G30S yang diikuti dengan kekerasan dan pembunuhan massal. Terlebih dalam konteks Perang Dingin dan perebutan pengaruh terhadap akses ke sumber daya alam Indonesia, membuat banyak pemerintah asing bersedia menggelontorkan anggaran dalam jumlah besar untuk membiayai lembaga kajian dan kegiatan para peneliti mereka di Indonesia. Informasi dan temuan dari kajian tersebut tentu saja juga dimanfaatkan oleh pemerintah negara mereka untuk memahami, memetakan dan membaca kecenderungan akan perubahan sosial, politik dan ekonomi pada  masyarakat, pemerintah dan negara Indonesia.

Sementara bagi peneliti dan masyarakat Indonesia sendiripun sedikit banyak keberadaan para Indonesianis tersebut juga ada gunanya. Menurut Ariel Heryanto (TEMPO, 2011) semasa Orde Baru berjaya, berbagai kajian kritis tentang peristiwa 1965 atau Timor Timur, Aceh, serta Papua hampir tidak tersedia di Indonesia. Dengan adanya penerbitas hasil penelitian asing, bangsa Indonesia sendiri dapat memperoleh kesempatan mengetahui dan memahami Indonesia secara lebih luas.

Tapi, sebetulnya, apa sih kelebihan pada Indonesianis itu dibanding peneliti asal Indonesia sendiri? Saya setuju dengan Eep, bahwa perbedaannya bukan pada kecerdasan, tapi lebih ke soal-soal dukungan sumber daya dan  kebijakan semata. Dalam pandangan Eep (2004:45-46), dibandingkan dengan pengkaji domestik asal Indonesia sendiri, umumnya para Indonesianis itu lebih terdukung aktualisasi akademis-keilmuannya oleh beberapa hal., yaitu: (1) Dukungan infrastruktur riset yang lebih baik, terutama dalah hal sumber daya finansial dan institusional; (2) Tradisi riset yang tidak saja memberi perhatian pada riset kebijakan tetapi juga riset-riset mendasar bagi pengembangan teori (theory building); (3) Umumnya mereka memiliki kemampuan teoritisasi yang baik; (4) Dalam banyak kasus, mereka juga memiliki stok kasus-kasus-komparatif yang lebih kaya; (5) Umumnya para Indonesianis memiliki keberanian dalam membuat kesimpulan,  karena mereka tidak memiliki  kendala politik untuk itu.

Tetapi nasib para peneliti asing itu juga selalu baik di Indonesia. Akibat “Cornell Paper” terkait peristiwa G30S yang tidak berkenan bagi pemerintah Orde Baru, Kahin dan Benedict Anderson sempat dicekal masuk ke Indonesia. Bahkan di negaranya sendiri Kahin dituduh sebagai simpatisan komunis, dan paspornya sempat dicabut selama lima tahun. Kahin baru dapat datang kembali ke Indonesia tahun 1991, sementara Ben Anderson baru pada tahun 1999 setelah Orde Baru ambruk. Tetapi uniknya di sisi lain Kahin juga  dianggap berjasa dalam memperkenalkan Indonesia secara ilmiah di mata dunia. Kahin memperoleh penghargaan Bintang Jasa Pratama pada tahun 1991 dari pemerintah Indonesia, atas jasanya sebagai perintis kajian Indonesia di Amerika Serikat. Selain Kahin, Indonesianis lain yang juga memperoleh penghargaan serupa adalah Clifford Geertz.

Menurunnya kajian tentang Indonesia

Pada tahun 2000-an, pamor kajian Indonesia di universitas-universitas luar negeri –khususnya di Amerika, Australia, Belanda-- mulai meredup. Minat mahasiswa menurun drastis. Pusat pengajaran bahasa Indonesia sepi peminat. Sejumlah pusat kajian Indonesia bahkan jurusan Indonesia di sejumlah perguruan tinggi itupun kembang-kempis dan banyak yang ditutup. Termasuk Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Leiden – Belanda yang dianggap sebagai institusi paling awal, paling terkemuka, paling berpengaruh dan menjadi barometer kajian bahasa dan sastra daerah di Indonesia. Bahkan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) di Belanda yang menjadi pusat dokumentasi tentang Indonesia juga terancam tinggal nama saja.

Dari TEMPO dapat diketahui sejumlah alasan yang mempengaruhi turunnya minat terhadap kajian Indonesia dan kegiatan para Indonesianis tersebut, diantaranya:
  • Perubahan trend. Mahasiswa di Amerika dan Eropa lebih tertarik mengambil bahasa asing yang menjadi tren saat ini, misalnya bahasa Cina, Jepang atau Korea;
  • Masalah anggaran pendidikan akibat krisis ekonomi dalam negeri;
  • Orientasi pemerintah yang berubah. Contohnya ketika John Howard yang konservatif menjadi Perdana Menteri Australia tidak nyaman dengan kebijakan mendekati negara-negara tetangga Asia, akibatnya dukungan anggaran menjadi berkurang untuk kajian Indonesia/Asia. Hal lain, dengan berakhirnya Perang Dingin, Amerika juga mungkin menganggap Indonesia “tidak sepenting dulu lagi,” sehingga dukungan terhadap lembaga kajian dan penelitian tentang Indonesia menjadi berkurang;
  • Kebijakan pemerintah terkait isu keamanan. Setelah peristiwa Bom Bali, banyak negara khawatir dengan keselamatan warganya, dan kerap mengeluarkan travel warning yang menyebabkan minat mahasiswa/peneliti berkurang;  
  • Isu yang menguat adalah terorisme dan Islam, terutama setelah “peristiwa 11 September.” Sementara Islam di Indonesia cenderung kehilangan “kekhasannya” akibat pengaruh Arabisasi. Islam Indonesia-pun dianggap sebagai bagian dari Islam Arab pada umumnya;
  • Meninggal dunia atau pensiunnya para Indonesianis senior, sehingga jurusan dan pusat kaiian Indonesia di universitas kehilangan patron dan pengaruh.
  • Di Amerika, sejak sekitar tahun 1990-an, penelitian doktoral khususnya di bidang ilmu politik harus dengan perbandingan dua negara atau dengan penekanan pada studi kuantitatif. Akibatnya sulit membangun spesialisasi di kalangan peneliti. Penelitian tentang Indonesia juga jadi tidak semendalam masa-masa sebelumnya;
  • Ambruknya Orde Baru dan terjadinya transisi demorasi dan desentralisasi di Indonesia berangsur-angsur membuat Indonesia tidak “se-eksotis” dulu lagi dari sisi politik;
  • Masyarakat Indonesia saat ini sangat berubah dari dekade 1960-an dan 1970-an. Dipandang tidak mudah membuat penelitian dengan kompleksitas yang semakin besar ini. Indikasinya adalah, belum ada lagi hasil kajian yang “fenomenal” tentang masyarakat Indonesia saat ini seperti di era Kahin, Geertz atau Feith.
  • Menurut Ariel Heryanto, sedikit ahli tentang Indonesia yang kini masih tersisa tercerai-berai di berbagai jurusan studi berdasarkan kotak-kotak disiplin tradisional (misalnya sejarah, ekonomi, antropologi, linguistik, atau ilmu politik) dengan tuntutan mengabdi pada disiplin masing-masing, dan bukan kajian wilayah tertentu. Saya pikir ada benarnya, karena untuk seorang Indonesianis mungkin diperlukan kajian yang lebih lintas disipliner.
Menyikapi kondisi tersebut, Ariel Heryanto berpendapat bahwa itu tidak perlu diratapi berlebihan di Indonesia. Terutama karena pada dasarnya hampir semua kajian tentang Indonesia itupun punya cacat mendasar secara metodologis dan moral. Cacat tersebut terjadi jika Indonesia hanya dijadikan obyek penelitian semata, dan bukan mitra kerja peneliti yang sejajar dan setara dengan para peneliti asing.

Lebih mendasar lagi adalah apa yang diingatkan oleh Eep (2004:47), bahwa masyarakat Indonesia perlu proporsional dalam memandang para Indonesianis tersebut. Sembari tetap memanfaatkan hasil kajian mereka tentang Indonesia sebagai bahan dalam memahami kondisi Indonesia sendiri dari kaca mata asing, masyarakat Indonesia juga tidak perlu memandang mereka sebagai penafsir paling mumpuni, objektif dan sahih tentang Indonesia. Hasil kajian mereka tetap harus dicermati dan dikritisi. Karena jika tidak, bangsa Indonesia mungkin saja jatuh pada kondisi seperti yang dilukiskan oleh puisi satir yang saya temukan dalam sebuah mailing-list mahasiswa Indonesia di luar negeri, sbb.:

SANG INDONESIANIS

Bagai dewa menundukkan negeri
cukup dengan mata jeli
dengan dollar di pundi-pundi.
Siapa peduli rakyat mati
hanyalah data sosial di kertas putih.
Dan para ilmuwan negeri
tak lebih daripada bebek-bebek
penurut di dalam kudangan sang nabi.

Oleh: Tangkisan Letug
6 Juli 2004
(Sumber: Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India)

----------
Lepas dari soal itu, saya justru jadi bertanya pada diri sendiri, apakah bangsa kita punya pakar/spesialis kajian negara lain ataukah tidak? Saya tidak tahu. Dengan kondisi pendidikan tinggi di Indonesia yang serba terbatas, dan keluhan dari para dosen/peneliti di perguruan tinggi yang kesulitan anggaran untuk penelitian di dalam negeri dan lebih disibukkan oleh administrasi pelaporan anggaran tersebut, rasanya mungkin memang belum ada. Sebagai rakyat dan orang biasa, saya membayangkan betapa hebatnya harga diri bangsa Indonesia jika ada banyak dosen-peneliti dari Indonesia yang menjadi Sinologist, Americanologist, Arabist, dll. Untuk itu, agar bisa sampai ke sana, saya usul untuk dapat dipopulerkan satu ungkapan baru, yaitu: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang punya banyak peneliti tentang negara lainnya”… Boleh?

-----------
Sumber:

Selasa, 15 Desember 2015

"Benedict Anderson: Cinta (dan) Mati (di) Indonesia"


Candra Kusuma


Sabtu malam tanggal 12 Desember 2015, Benedict Richard O’Gorman Anderson seorang Indonesianis terkenal asal AS meninggal dunia di Malang, Jawa Timur. Benedict Anderson, Ben Anderson, atau 'Om Ben’ bagi kalangan kolega dan teman-temannya di Indonesia, meninggal diduga karena serangan jantung pada usia 79 tahun. Jenazahnya dikremasi dan abunya disebar di Laut Jawa.

Saya sebagai orang biasa yang tidak kenal secara pribadi, tidak pernah bertemu secara langsung, dan hanya menjadi pembaca sebagian karya beliau, akan menyebutnya sebagai ‘Pak Ben’ saja.

Dari Irlandia, Tiongkok, ke Amerika

Pak Ben lahir tanggal 26 Agustus 1936 di Kunming-Tiongkok, dari pasangan Veronica Beatrice Mary Anderson dan James Carew O’Gorman Anderson. Waktu itu ayahnya bekerja sebagai petugas bea cukai kerajaan Inggris yang ditempatkan di Tiongkok.

Keluarga besar ibunya berasal dari Inggris, sementara keluarga ayahnya dari Irlandia. Dari Tiongkok, keluarganya tidak kembali menetap di Irlandia atau Inggris, namun malah berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1941 dan tinggal di California. Kehidupan multi-nasional dan multi-kultur tampaknya telah membentuk karakter anak-anak keluarga Anderson menjadi menghargai pentingnya budaya dan keberadaan negara-negara lain. Nantinya Pak Ben kerap berseloroh bahwa dirinya adalah semacam “orang buangan dengan loyalitas yang terbagi.” Selain itu, keterlibatan keluarga ayahnya dalam gerakan nasionalis Irlandia, bisa jadi juga turut mempengaruhinya untuk tertarik mendalami mengenai gerakan perjuangan kemerdekaan dan nasionalisme di Asia Tenggara dalam karier akademiknya.

Pak Ben kemudian meraih gelar BA dalam Classics (yang mempelajari budaya, bahasa dan filsafat) dari University of Cambridge-UK tahun 1957, dan Ph.D dari Cornell University pada tahun 1967 dengan disertasi berjudul The Pemuda Revolution: Indonesian Politics, 1945–1946. Selanjutnya Pak Ben mengajar di The Department of Government - Cornell University sejak tahun 1965 sampai pensiunnya tahun 2002. Pada tahun 1998, Pak Ben diangkat sebagai Aaron L. Binenkorb Professor Emeritus of International Studies, Government, and Asian Studies di Cornell University. Tahun 1994 Pak Ben menjadi anggota the American Academy of Arts and Science. Ben adalah saudara dari Perry Anderson, seorang ilmuwan sosial Marxis.

Kesadaran politik dan sikap anti-imperialisme Pak Ben baru terbentuk pada tahun 1957, justru setelah dia selesai kuliah dari Cambridge. Waktu itu terjadi krisis Suez dan terjadinya konflik dan perang sipil di Indonesia di mana CIA diduga terlibat, yang kemudian membangkitkan simpati sekaligus sentimennya sebagai orang yang pernah tinggal Asia. Ketika melanjutkan pendidikan doktornya, Pak Ben kemudian masuk ke The Interdisciplinary Indonesian Studies Programme - Cornell University (program studi interdisipliner kajian tentang Indonesia), yang menjadi awal dari keterlibatan seumur hidupnya dalam penelitian sejarah, politik dan budaya Indonesia. (lihat Wollman dan Spencer, dalam McClerry dan Brabon, 2007:3)

“Cornell Paper”

Menggauli Indonesia sejak tahun 1960-an, dapat terbayangkan kedekatan hati dan pikiran Pak Ben pada negeri ini. Karya monumental pertama Pak Ben, dan menjadi kontroversi bagi pemerintah Orde Baru di Indonesia, terkait dengan peristiwa G30S-1965. Pada tahun 1966, bersama Ruth T. McVey (dengan bantuan Frederick P. Bunnell), mereka menulis ‘Interim Report’ untuk The Cornell Modern Indonesia Project (CMIP) yang berjudul A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia. Laporan tersebut, yang kemudian populer sebagai “Cornell Paper,” menyimpulkan bahwa baik Partai Komunis Indonesia (PKI) maupun Presiden Soekarno bukanlah otak dan/atau pelaku dari peristiwa G30S, mereka justru harus dilihat sebagai korban. Kudeta tersebut dilakukan oleh internal angkatan bersenjata dengan mengeliminir sejumlah Jenderal yang dianggap telah bekerja sama dengan Amerika Serikat melalui CIA.

Laporan awal yang selesai pada tanggal 10 Januari 1966 ini, sedianya akan dilengkapi dengan data/informasi tambahan dan sekaligus tanggapan dari Pemerintah Indonesia. Upaya memperoleh informasi dan tanggapan tersebut dilakukan dengan bantuan seorang Indonesianis lain yang lebih senior, George McT. Kahin, yang punya banyak jaringan di lingkungan akademisi, militer dan pemerintah Indonesia kala itu. Sayangnya upaya tersebut gagal, hingga akhirnya Cornell menerbitkan laporan tersebut pada tahun 1971, tanpa ada bagian tanggapan dari pemerintah/militer Indonesia. Bahkan sebelumnya laporan tersebut “dibocorkan” pada tahun 1967 oleh seorang analis dari RAND Corporation yang dekat dengan pemerintah AS, hingga mendorong pemerintah Indonesia segera menyusun analisis tandingan yang menjadi versi resmi pemerintah/militer, yang dikomandani oleh sejarawan militer Nugroho Notosusanto. Sebagaimana umum diketahui, dalam versi resmi ini, PKI-lah yang menjadi dalang dan pelaku dari peristiwa G30S.

Pencekalan

Akibat “Cornel Paper” yang dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas nasional, Orde Baru memasukkan nama Pak Ben dan Kahin dalam daftar hitam sebagai ilmuwan asing yang dicekal masuk ke Indonesia. Sambil tetap menulis tentang Indonesia, Pak Ben kemudian melebarkan kajiannya mengenai politik di negara-negara Asia Tenggara lainnya, terutama Philipina dan Thailand. Pak Ben kemudian banyak menulis tentang nasionalisme, perjuangan kemerdekaan, pembentukan bangsa dan negara, anarkisme, kolonialisme, bahasa, budaya, globalisasi, dll. Dalam berbagai buku dan makalahnya tersebut, jika tidak secara khusus menulis tentang Indonesia, Pak Ben tetap memasukkan analisisnya tentang politik di Indonesia, baik sebagai contoh kasus ataupun perbandingan.

Pak Kahin baru diberi izin datang ke Indonesia pada tahun 1991, sementara Pak Ben bahkan baru diperbolehkan berkunjung kembali ke Indonesia di tahun 1999, setelah Orde Baru ambruk. Kabarnya setelah diizinkan datang kembali ke Indonesia, Pak Ben hampir setahun dua kali tahun datang ke Indonesia, terutama untuk mengunjungi candi-candi di Jawa Timur yang amat disukainya.

Magnum Opus: “Imagined Societies…”

Pak Ben banyak menulis buku, diantaranya yang cukup dikenal yaitu: Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946 (1972); Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (1983, 2006); Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia (1990, 2006); The Spectre of Comparisons: Nationalism, Southeast Asia, and the World (1998); The Age of Globalization: Anarchists and the Anticolonial Imagination (2005, 2013); Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination (2005); dll.

Ada pula entah berapa banyak makalah yang pernah ditulisnya. Satu yang saya suka karena judulnya yang unik dan “jahil” yaitu sebuah makalah berjudul “Petrus Dadi Ratu”  (New Left Review3, May-Jun 2000). Pak Ben “memelesetkan” judul sebuah kisah perwayangan yaitu “Petruk Dadi Ratu,” yang menggambarkan bagaimana Petruk yang hanya merupakan orang biasa saja kemudian dapat menjadi raja. Dia menggunakan kata “Petrus” yang merupakan singkatan dari “Pembunuh Misterius,” yaitu operasi pembersihan ‘preman’ oleh pemerintah Orde Baru di awal tahun 1980-an, dengan cara dibunuh tanpa melalui pengadilan (extra-judicially assassinated). Dalam makalah tersebut, Pak Ben menyindir bagaimana seorang yang menjadi otak dari pembunuhan massal (1965, ‘Petrus’ dll.) kemudian dapat menjadi presiden dan berkuasa begitu lama di Indonesia.

Tanpa bermaksud mengecilkan tulisan-tulisan Pak Ben yang lain, Imagined Communities tampaknya menjadi karyanya yang paling fenomenal dan berpengaruh. Ketika Institute of Southeast Asian Studies dalam ulang tahun ke 40  tahun 2008 pernah menyusun daftar 14 buku paling berpengaruh dalam kajian Asia Tenggara, salah satu yang masuk dalam daftar tersebut adalah Imagined Communities karya Pak Ben (lihat Hui, 2009). Sebagai perbandingan, penulis lain yang juga masuk daftar tersebut adalah para raksasa dalam ilmu sosial, diantaranya J.S. Furnifall, Anthony Reid, Clifford Geertz, James C. Scott, George McTurnan dan W.F. Wertheim. Menurut Verso Publishing, sejak pertama kali diterbitkan tahun 1983, buku ini telah beberapakali dicetak ulang dan diterjemahkan dalam lebih dari dua lusin bahasa.

Buku ini kemudian segera menjadi karya klasik dalam kajian ilmu sosial dan politik, bahkan juga dalam kajian budaya dan sastra. Pada intinya buku tersebut membahas mengenai perkembangan nasionalisme di abad 18 dan 19 baik di Amerika maupun dunia. Dalam buku ini, mungkin dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan Classics-nya di University of Cambridge, Pak Ben juga menggunakan analisis peran budaya dan sastra dalam politik khususnya dalam membentuk rasa nasionalisme suatu bangsa.

Menurut Pak Ben, suatu bangsa pada dasarnya adalah merupakan sebuah imagined communities (‘komunitas imajiner’ atau ada pula yang mengartikannya sebagai ‘komunitas terbayangkan’) yang terbentuk karena adanya rasa persamaan dan persekutuan berupa “horizontal comradeship” (pertemanan horizontal) (h.7). Situasi tersebut dapat terjadi pada mereka yang meskipun mungkin belum kenal bahkan belum pernah bertemu namun memiliki rasa kolektivitas, atribut, sejarah, ciri-ciri, keyakinan dan sikap  yang sama. Di sisi lain, terjadi pula teritorialisasi agama dan penurunan ikatan kekerabatan. Menurut Pak Ben, bahasa sangat berperan dalam membentuk imagined communities ini karena dapat memberi effect particular solidarities (efek solidaritas tertentu) (h.133). Faktor lainnya, yang turut berperan diantaranya adalah karena adanya perubahan dalam birokrasi pemerintahan kolonial, yang kemudian mulai diisi oleh orang-orang dari negeri jajahan tersebut.

Dengan menggunakan pisau analisis dari teori Marxist mengenai nasionalisme, Pak Ben menyimpulkan bahwa nasionalisme itu dibangun dari penciptaan imagined communities melalui gerakan perlawanan terhadap kekuasaan absolut monarki, dan dengan mengimplementasikan sistem kapitalisme, yang perkembangannya didorong oleh tumbuhnya budaya cetak, yang disebutnya sebagai ‘print-capitalism’.

Dari buku itu saja terlihat betapa kaya perspektif yang ditawarkan oleh Pak Ben. Mungkin memang tidak mudah memasukkan Pak Ben dalam klasifikasi ilmuwan dalam disiplin ilmu tertentu. Latar belakang kehidupan pribadi, minat dan pendidikan akademis yang dijalaninya –program doktornya  pada The Interdisciplinary Indonesian Studies Programme, Cornell University--membuat Pak Ben menjadi ilmuwan lintas disiplin. Menurut Wollman dan Spencer (dalam McCleery dan Brabon, 2007:5), pembaca bukunya Pak Ben dapat saja menganggap beliau sebagai seorang antropolog, sejarawan, sarjana sastra serta (dan mungkin lebih dari) seorang ilmuwan politik. Karena itu pula barangkali Pak Ben dapat masuk dan diterima oleh berbagai kalangan baik aktivis, budayawan, mahasiswa maupun ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu.

Pesan Terakhir


Pak Ben datang ke Indonesia dalam rangka peluncuran bukunya yang berjudul “Di Bawah Tiga Bendera” pada hari Kamis tanggal 10 November 2015, dan sekaligus menjadi pembicara pada kuliah umum tentang “Anarkisme dan Nasionalisme” di Fakultas Ilmu Budaya – Universitas Indonesia, Depok. Buku tersebut adalah terjemahan dari Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination yang terbit tahun 2005. Kesediaan Pak Ben ini dianggap sangat istimewa, karena konon sebelumnya Pak Ben selalu menolak untuk diundang ke UI, karena menurutnya UI adalah loyalis Orde Baru.

Dalam wawancaranya dengan Majalah Loka setelah kuliah umum di UI tersebut, Pak Ben “mengeluhkan” bahwa generasi muda Indonesia sekarang sudah terlalu asik dengan dirinya sendiri. Pak Ben juga mengkritisi kecenderungan studi doktoral saat ini yang dominan tentang kajian Islam, dan minim tentang tema lainnya. Menurut Pak Ben ada kemalasan intelektual, kemiskinan kreativitas dan tidak adanya konsep baru tentang Indonesia ke depan seperti yang terjadi di dekade 1960-an.

Barangkali memang sudah takdirnya bahwa kuliah umum dan wawancara tersebut menjadi pesan terakhir Pak Ben sebelum meninggal dunia dua hari kemudian. Meskipun demikian, dalam suasana duka ini, tampaknya justru semakin terlihat jelas bahwa Pak Ben memang disukai dan banyak kawan di Indonesia. Umumnya mereka mengenang Pak Ben sebagai sosok yang bersahaja, ramah dan senang bercanda. Dari berbagai sumber di media massa dan media sosial, tergambarkan kesan para kolega, teman, atau orang yang pernah berinteraksi dengan beliau. Ada yang menganggap meskipun ‘jago nulis’ Pak Ben bukanlah pembicara yang asik karena gaya bicaranya yang monoton. Ada juga yang bilang bahwa meskipun sudah berusia lanjut, Pak Ben ini ‘kagak ada matinye’ karena masih terus beraktivitas mulai dari menulis biografi, menerjemahkan cerita pendek karya novelis Indonesia, dll. Ada juga yang mengajak untuk mengambil teladan dari sikap intelektualitas Pak Ben yang berani untuk menjelajahi wilayah dan isu yang baru, serta berani berbeda pendapat dan melawan arus dalam mencari kebenaran ilmiah.

Pak Ben memang sudah meninggal, tapi seperti sebuah ungkapan Yunani “verba volant, scripta manent,” bahwa kata-kata bisa hilang tertiup angin, namun tulisan akan “abadi.” Tariq Ali dari Verso Publishing menyebutkan bahwa segera dalam beberapa waktu ke depan pihaknya akan menerbitkan memoir/biografi Pak Ben yang telah selesai disusunnya berjudul “A Life Beyond Boundaries,” yang untuk pertama kali akan dipublikasikan di Jepang. Memoir ini bersama semua karya yang pernah ditulisnya akan membuat pemikiran Pak Ben menjadi “abadi” bagi semua murid dan pembaca karyanya.

Selamat datang di “keabadian” Pak Ben…

----------
Sumber: