Baca

Baca

Selasa, 22 Desember 2015

"Indonesianis"



Candra Kusuma


12 Desember 2015, seorang Indonesianis asal AS Benedict Anderson, meninggal dunia di Malang – Jawa Timur (lihat "Benedict Anderson: Cinta (dan) Mati (di) Indonesia"). Kata “Indonesianis” (dari bahasa Inggris: “Indonesianist”) menjadi sering terdengar lagi. Saya jadi tergoda buat membaca lagi tentang Indonesianis ini.


Indonesianis itu apa sih?

Menyangkut soal definisi, rasanya memang selalu tidak ada yang baku dalam ilmu sosial. Dalam kamus A Comprehensive Indonesian-English Dictionary (Ohio University Press - Athens, 2010), kata ‘Indonesianist’ diartikan sebagai “ahli masalah-masalah Indonesia” atau “ahli Indonesia.” Saya kira dari pengertian ini, istilah Indonesianis setara dalam pengertian umum dengan istilah “Sinologist” (ahli tentang Cina), “Arabist” (ahli tentang Arab), “Americanologist” (ahli tentang Amerika), dll.

Tapi pengertian itu bisa jadi terlalu luas juga, karena mencampurkan antara orang asing yang tahu banyak hal tentang Indonesia, dengan yang pernah meneliti dan menulis tentang Indonesia, dan dengan para peneliti dan pengajar yang memang spesialisasinya tentang Indonesia. Eep Saefulloh Fatah (2004:43-45) kemudian membedakan pengertian “pengkaji asing tentang Indonesia” dengan “Indonesianis.” Menurut Eep, ada empat kelompok pengkaji asing tentang Indonesia, yaitu:
  1. Para pelaku politik (biasanya para Duta  Besar) yang karena pekerjaannya dapat melakukan melakukan pengamatan dan menuliskan hasilnya dalam bentuk buku atau memoar tentang Indonesia. Contohnya: Marshall Green (“Indonesia: Crisis and Tranformation 1965-1968”), dan Howrad P. Jones (“Indonesia: The Possible Dream”);
  2. Orang-orang dari kelompok profesi tertentu (umumnya jurnalis) yang karena interaksinya dengan Indonesia sempat menulis panjang lebar (tapi belum tentu mendalam) tentang Indonesia. Contoh dari  kalangan jurnalis: Cindy H. Adams (“Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams, dan My a Friend the Dictator”), David Jenkins (“Suharto and His Generals”), Michael R.J. Vatikiotis (“Indonesian Politics under Soeharto”), dan Adam Schwarz (“A Nation in Waiting: Indonesia in 1990s”). Contoh dari kalangan aktivis organisasi non-pemerintah: Sidney Jones (''It Can't Happen Here: A Post Khomeini Look at Indonesia Islam'');
  3. Orang-orang yang berlatar belakang sebagai akademisi-intelektual, dan pernah menulis tentang Indonesia, namun tidak secara khusus menjadikan Indonesia sebagai lahan kajiannya. Contohnya: Brian May (The Indonesian Tragedy), John Bresnan (“Managing Indonesia: The Modern Political Economy”), Clark D. Neher (“Democratisation in Southeast Asia''), Yoshihara Kunio (“The Rise of Erzats Capitalism in Southeast Asia”), atau Donald W. Wilson (“The Long Journey: From Turmoil to Self-Sufficiency”);
  4. Orang-orang berlatar belakang akademisi-intelektual yang mengamati Indonesia secara serius dan terus-menerus, menjadikan  Indonesia sebagai lahan kajian akademis mereka. Orang-orang seperti George McTurnan Kahin, Daniel S. Lev, Benedict RO'G Anderson, Herbert Feith, R. William Liddle, Harold Crouch, Robert W. Hefner, Donald K. Emmerson, Lance Castles, Jamie A.C. Mackie, Richard Robison, adalah beberapa yang termasuk dalam kategori ini.
Dalam pandangan Eep, hanya kelompok keempat yang sesungguhnya dapat disebut sebagai Indonesianis. Karena menurutnya hanya para akademisi-intelektual itulah yang memang benar-benar menjadikan Indonesia sebagai objek kajian dan penelitian yang tetap/permanen, yang selanjutnya hasil kajian mereka itu ditulis dalam bentuk produk kajian yang serius, baik buku maupun jurnal ilmiah. Bagi Eep, hanya kelompok keempat tadi sebetulnya yang dapat ditelusuri perjalanan dan jejak teoritisnya. Dalam hal ini, Ariel Heryanto (TEMPO, 2011) tampaknya memiliki pandangan yang senada dengan Eep.  Dalam tangkapan saya, Indonesianis menurut Ariel adalah para pengkaji tentang Indonesia yang berasal dari luar Indonesia, yang memiliki minat khusus tentang seluk beluk Indonesia, dan melakukan penelitian serta pengajaran tentang Indonesia.

Kaitan antara minat, posisi di perguruan tinggi dan spesialiasi isu tentang Indonesia ini disinggung oleh Max R. Lane (penulis “Unfinished Revolution: Indonesia Before and After Suharto,” lihat "Indonesia Bangsa yang Belum Selesai?"), seorang akademisi-aktivis asal Australia yang banyak mengamati Indonesia. Dalam wawancara dengan Indoprogress tahun 2013, Lane memaknai Indonesianis sebagai “orang yang secara khusus mendalami Indonesia secara akademis.” Karenanya, meskipun publik umumnya menganggap Lane sebagai seorang Indonesianis, dia sendiri ragu apakah sebutan Indonesianis sepenuhnya cocok untuknya, sebab ketika meneliti tentang Indonesia dia dalam posisi di luar universitas. Sementara, menurut Lane, mayoritas orang yang dikenal sebagai Indonesianis sudah masuk dunia universitas sejak muda dan menjadikannya sebagai karier dan profesi.

Ada pengertian lain yang buat saya rasanya lebih romantis tentang istilah Indonesianis ini. Majalah TEMPO Edisi 14-10 November 2011 pernah membuat laporan khusus mengenai Indonesianis, peran, dan pasang surutnya dalam mengkaji Indonesia. Saya sebut romantis karena TEMPO memasukkan unsur “perasaan” dalam pengertian Indonesianis, yaitu “para sarjana luar negeri yang sangat mencintai Indonesia.” Tentu saja saya tidak tahu apakah benar mencintai, dan seberapa besar cinta para Indonesianis itu terhadap Indonesia. Tetapi, unsur “mencintai” inilah yang saya kira membedakan dengan para  “Orientalis” yaitu para pengkaji, peneliti dan pengajar Indonesia dan dunia Timur pada umumnya, yang kerap memberikan stigma dan stereotype tertentu mengenai “obyek kajiannya,” dan umumnya ditujukan untuk kepentingan kolonialisme dan imperialisme oleh Barat terhadap Timur. Bagi Indonesia, Snouck Hurgronje mungkin contoh paling pas tentang Orientalis tadi.

Indonesianis di Era Perang Dingin dan Orde Baru

Kajian tentang Indonesia oleh peneliti asing dimulai sejak awal Indonesia merdeka. Peneliti paling awal diantaranya adalah George McT. Kahin dari Universitas Cornell di AS, yang menulis disertasi berjudul ”Nationalism and Revolution in Indonesia” (1952). Kahin kemudian mendirikan Cornell Modern Indonesia Project (CMIP) pada tahun 1954, yang dapat disebut sebagai lembaga kajian pertama khusus tentang Indonesia. Namun, menurut TEMPO,  golden age bagi studi Indonesia baru terjadi pada dekade 1970-an, di mana banyak peneliti tentang Indonesia yang datang dari Perancis, Amerika, Australia Belanda, Jerman dan Rusia. Selain itu berdiri juga pusat-pusat kajian Indonesiadi berbagai perguruan tinggi di negara tersebut, yang ditandai pula dengan maraknya tempat pembelajaran bahasa Indonesia oleh para mahasiswa dan peneliti yang tertarik untuk mendalami berbagai isu tentang Indonesia.

TEMPO menyebutkan, bahwa para peneliti asing yang mengkaji Indonesia umumnya dikelompokkan dalam tiga atau empat generasi. Generasi pertama adalah yang datang di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, seperti George McTurnan Kahin dan Clifford Geertz. Generasi kedua muncul di masa 1960-an, seperti Benedict Anderson, William Liddle, Daniel S. Lev, dan Herbert Feith. Generasi ketiga hadir di era 1970-an dan sesudahnya, seperti Robert W. Hefner dan Takashi Shiraishi. Sementara mereka yang datang ke Indonesia pada 1980-an ke atas, dapatlah kita masukkan sebagai Indonesianis generasi keempat. Saya kira, mereka yang datang di tahun 2000-an mungkin juga dapat disebut sebagai generasi kelima.

Jika dilihat dari asal negaranya, para  Indonesianis yang menonjol, yaitu:
  • Dari Perancis, diantaranya ada Denys Lombard (yang karyanya antara lain berjudul “Nusa Jawa Silang Budaya”), Christian Pelras (“Manusia Bugis”), Pierre Labrousse (“Kamus Umum Indonesia-Perancis”), Claude Guillot (“Change of Regime and Social Dynamics in West Java: Society, State and theOuter World of Banten, 1750-1830”), Marcel Bonneff, Henri Chambert-Loir (“The Potent Dead: Ancestors, Saints and Heroes in Contemporary Indonesia”), Claudine Salmon (istri Lombard, “Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa”), Yves Manguin (“A Bibliography for Sriwiayan Studies”), Chambert Loir (Serpihan Sejarah Bima, Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah), dan  Francois Raillon (“Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia”).
  • Dari Amerika Serikat, di Universitas Cornell terutama adalah George McTurnan Kahin (dengan karya diantaranya “Nationalism and Revolution in Indonesia”), Benedict Richard O’Gorman Anderson (“Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946”), Ruth McVey (“The Rise of Indonesian Communism”), Herbert Feith (“The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia”), Daniel S. Lev (“The Transition to Guided Democracy: Indonesian Politics 1957-1959’), Harold Crouch (“The Army and Politics in Indonesia”). Dari Universitas Harvard, terutama Clifford Geertz (“The Religion of Java”). Dari Universitas Ohio ada William Liddle (“Ethnicity, Partysm and National Integration: An Indonesian Case Study”).
  • Sementara dari Australia, Indonesianis dari Universitas Monash terutama adalah Herbert Feith (“The Decline of Constitutional Democracy”), Lance Castles, John Legge (“Soekarno: A Political Biografi”). Dari Universitas Murdoch ada David T. Hill, dan Carol Warren. Di The Australian National University, ada Harold Crouch (“The Army and Politics in Indonesia”), Edward Aspinall (“Opposing Suharto: Compromise, Resistance, and Regime Change in Indonesia”), Anthony Reid (“The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra”). Di University of New South Wales (UNSW) ada David Reeve (“Golkar of Indonesia: An Alternative to the Party System”). Dari Universitas Sydney ada Keith Foulcher (“Pujangga Baru: Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942”).
  • Dari Belanda yang paling menonjol dari Universitas Leiden yaitu A. Teew (“Modern Indonesian Literature”), dan E.M. Uhlenbeck. Dari perguruan tinggi lainnya ada  Henk Schulte Nordholt (“The Spell of Power: Sejarah Politik Bali 1650-1940 “; “Renegotiating Boundaries: Local Politics in Post-Soeharto Indonesia”), Hein Steinhauer (tim dalam “KamusBesar Bahasa Indonesia edisi keempat”; tim “Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia”), W.F. Stuterheim (“Studies in Indonesian Archeology”), dan Fritjof Tichelman (“The Social Evolution of Indonesia: The Asiatic Mode of Production and Its Legal”), dll.
  • Dari Jerman, diantaranya ada Vincentius Houben (“Kraton and Kumpeni. Surakarta and Yogyakarta 1830-1870”).
  • Dari Inggris, diantaranya adalah Peter Carey (“The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and End of an Old Older in Java 1785-1855”).

Bagi mereka, Indonesia mungkin tampak “seksi.” Sebagai negara yang baru merdeka, kaya dengan etnik dan budaya, juga memiliki dinamika dan konflik sosial, ideologi dan agama yang tinggi, terutama seputar peristiwa G30S yang diikuti dengan kekerasan dan pembunuhan massal. Terlebih dalam konteks Perang Dingin dan perebutan pengaruh terhadap akses ke sumber daya alam Indonesia, membuat banyak pemerintah asing bersedia menggelontorkan anggaran dalam jumlah besar untuk membiayai lembaga kajian dan kegiatan para peneliti mereka di Indonesia. Informasi dan temuan dari kajian tersebut tentu saja juga dimanfaatkan oleh pemerintah negara mereka untuk memahami, memetakan dan membaca kecenderungan akan perubahan sosial, politik dan ekonomi pada  masyarakat, pemerintah dan negara Indonesia.

Sementara bagi peneliti dan masyarakat Indonesia sendiripun sedikit banyak keberadaan para Indonesianis tersebut juga ada gunanya. Menurut Ariel Heryanto (TEMPO, 2011) semasa Orde Baru berjaya, berbagai kajian kritis tentang peristiwa 1965 atau Timor Timur, Aceh, serta Papua hampir tidak tersedia di Indonesia. Dengan adanya penerbitas hasil penelitian asing, bangsa Indonesia sendiri dapat memperoleh kesempatan mengetahui dan memahami Indonesia secara lebih luas.

Tapi, sebetulnya, apa sih kelebihan pada Indonesianis itu dibanding peneliti asal Indonesia sendiri? Saya setuju dengan Eep, bahwa perbedaannya bukan pada kecerdasan, tapi lebih ke soal-soal dukungan sumber daya dan  kebijakan semata. Dalam pandangan Eep (2004:45-46), dibandingkan dengan pengkaji domestik asal Indonesia sendiri, umumnya para Indonesianis itu lebih terdukung aktualisasi akademis-keilmuannya oleh beberapa hal., yaitu: (1) Dukungan infrastruktur riset yang lebih baik, terutama dalah hal sumber daya finansial dan institusional; (2) Tradisi riset yang tidak saja memberi perhatian pada riset kebijakan tetapi juga riset-riset mendasar bagi pengembangan teori (theory building); (3) Umumnya mereka memiliki kemampuan teoritisasi yang baik; (4) Dalam banyak kasus, mereka juga memiliki stok kasus-kasus-komparatif yang lebih kaya; (5) Umumnya para Indonesianis memiliki keberanian dalam membuat kesimpulan,  karena mereka tidak memiliki  kendala politik untuk itu.

Tetapi nasib para peneliti asing itu juga selalu baik di Indonesia. Akibat “Cornell Paper” terkait peristiwa G30S yang tidak berkenan bagi pemerintah Orde Baru, Kahin dan Benedict Anderson sempat dicekal masuk ke Indonesia. Bahkan di negaranya sendiri Kahin dituduh sebagai simpatisan komunis, dan paspornya sempat dicabut selama lima tahun. Kahin baru dapat datang kembali ke Indonesia tahun 1991, sementara Ben Anderson baru pada tahun 1999 setelah Orde Baru ambruk. Tetapi uniknya di sisi lain Kahin juga  dianggap berjasa dalam memperkenalkan Indonesia secara ilmiah di mata dunia. Kahin memperoleh penghargaan Bintang Jasa Pratama pada tahun 1991 dari pemerintah Indonesia, atas jasanya sebagai perintis kajian Indonesia di Amerika Serikat. Selain Kahin, Indonesianis lain yang juga memperoleh penghargaan serupa adalah Clifford Geertz.

Menurunnya kajian tentang Indonesia

Pada tahun 2000-an, pamor kajian Indonesia di universitas-universitas luar negeri –khususnya di Amerika, Australia, Belanda-- mulai meredup. Minat mahasiswa menurun drastis. Pusat pengajaran bahasa Indonesia sepi peminat. Sejumlah pusat kajian Indonesia bahkan jurusan Indonesia di sejumlah perguruan tinggi itupun kembang-kempis dan banyak yang ditutup. Termasuk Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Leiden – Belanda yang dianggap sebagai institusi paling awal, paling terkemuka, paling berpengaruh dan menjadi barometer kajian bahasa dan sastra daerah di Indonesia. Bahkan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) di Belanda yang menjadi pusat dokumentasi tentang Indonesia juga terancam tinggal nama saja.

Dari TEMPO dapat diketahui sejumlah alasan yang mempengaruhi turunnya minat terhadap kajian Indonesia dan kegiatan para Indonesianis tersebut, diantaranya:
  • Perubahan trend. Mahasiswa di Amerika dan Eropa lebih tertarik mengambil bahasa asing yang menjadi tren saat ini, misalnya bahasa Cina, Jepang atau Korea;
  • Masalah anggaran pendidikan akibat krisis ekonomi dalam negeri;
  • Orientasi pemerintah yang berubah. Contohnya ketika John Howard yang konservatif menjadi Perdana Menteri Australia tidak nyaman dengan kebijakan mendekati negara-negara tetangga Asia, akibatnya dukungan anggaran menjadi berkurang untuk kajian Indonesia/Asia. Hal lain, dengan berakhirnya Perang Dingin, Amerika juga mungkin menganggap Indonesia “tidak sepenting dulu lagi,” sehingga dukungan terhadap lembaga kajian dan penelitian tentang Indonesia menjadi berkurang;
  • Kebijakan pemerintah terkait isu keamanan. Setelah peristiwa Bom Bali, banyak negara khawatir dengan keselamatan warganya, dan kerap mengeluarkan travel warning yang menyebabkan minat mahasiswa/peneliti berkurang;  
  • Isu yang menguat adalah terorisme dan Islam, terutama setelah “peristiwa 11 September.” Sementara Islam di Indonesia cenderung kehilangan “kekhasannya” akibat pengaruh Arabisasi. Islam Indonesia-pun dianggap sebagai bagian dari Islam Arab pada umumnya;
  • Meninggal dunia atau pensiunnya para Indonesianis senior, sehingga jurusan dan pusat kaiian Indonesia di universitas kehilangan patron dan pengaruh.
  • Di Amerika, sejak sekitar tahun 1990-an, penelitian doktoral khususnya di bidang ilmu politik harus dengan perbandingan dua negara atau dengan penekanan pada studi kuantitatif. Akibatnya sulit membangun spesialisasi di kalangan peneliti. Penelitian tentang Indonesia juga jadi tidak semendalam masa-masa sebelumnya;
  • Ambruknya Orde Baru dan terjadinya transisi demorasi dan desentralisasi di Indonesia berangsur-angsur membuat Indonesia tidak “se-eksotis” dulu lagi dari sisi politik;
  • Masyarakat Indonesia saat ini sangat berubah dari dekade 1960-an dan 1970-an. Dipandang tidak mudah membuat penelitian dengan kompleksitas yang semakin besar ini. Indikasinya adalah, belum ada lagi hasil kajian yang “fenomenal” tentang masyarakat Indonesia saat ini seperti di era Kahin, Geertz atau Feith.
  • Menurut Ariel Heryanto, sedikit ahli tentang Indonesia yang kini masih tersisa tercerai-berai di berbagai jurusan studi berdasarkan kotak-kotak disiplin tradisional (misalnya sejarah, ekonomi, antropologi, linguistik, atau ilmu politik) dengan tuntutan mengabdi pada disiplin masing-masing, dan bukan kajian wilayah tertentu. Saya pikir ada benarnya, karena untuk seorang Indonesianis mungkin diperlukan kajian yang lebih lintas disipliner.
Menyikapi kondisi tersebut, Ariel Heryanto berpendapat bahwa itu tidak perlu diratapi berlebihan di Indonesia. Terutama karena pada dasarnya hampir semua kajian tentang Indonesia itupun punya cacat mendasar secara metodologis dan moral. Cacat tersebut terjadi jika Indonesia hanya dijadikan obyek penelitian semata, dan bukan mitra kerja peneliti yang sejajar dan setara dengan para peneliti asing.

Lebih mendasar lagi adalah apa yang diingatkan oleh Eep (2004:47), bahwa masyarakat Indonesia perlu proporsional dalam memandang para Indonesianis tersebut. Sembari tetap memanfaatkan hasil kajian mereka tentang Indonesia sebagai bahan dalam memahami kondisi Indonesia sendiri dari kaca mata asing, masyarakat Indonesia juga tidak perlu memandang mereka sebagai penafsir paling mumpuni, objektif dan sahih tentang Indonesia. Hasil kajian mereka tetap harus dicermati dan dikritisi. Karena jika tidak, bangsa Indonesia mungkin saja jatuh pada kondisi seperti yang dilukiskan oleh puisi satir yang saya temukan dalam sebuah mailing-list mahasiswa Indonesia di luar negeri, sbb.:

SANG INDONESIANIS

Bagai dewa menundukkan negeri
cukup dengan mata jeli
dengan dollar di pundi-pundi.
Siapa peduli rakyat mati
hanyalah data sosial di kertas putih.
Dan para ilmuwan negeri
tak lebih daripada bebek-bebek
penurut di dalam kudangan sang nabi.

Oleh: Tangkisan Letug
6 Juli 2004
(Sumber: Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India)

----------
Lepas dari soal itu, saya justru jadi bertanya pada diri sendiri, apakah bangsa kita punya pakar/spesialis kajian negara lain ataukah tidak? Saya tidak tahu. Dengan kondisi pendidikan tinggi di Indonesia yang serba terbatas, dan keluhan dari para dosen/peneliti di perguruan tinggi yang kesulitan anggaran untuk penelitian di dalam negeri dan lebih disibukkan oleh administrasi pelaporan anggaran tersebut, rasanya mungkin memang belum ada. Sebagai rakyat dan orang biasa, saya membayangkan betapa hebatnya harga diri bangsa Indonesia jika ada banyak dosen-peneliti dari Indonesia yang menjadi Sinologist, Americanologist, Arabist, dll. Untuk itu, agar bisa sampai ke sana, saya usul untuk dapat dipopulerkan satu ungkapan baru, yaitu: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang punya banyak peneliti tentang negara lainnya”… Boleh?

-----------
Sumber:

Selasa, 15 Desember 2015

"Benedict Anderson: Cinta (dan) Mati (di) Indonesia"


Candra Kusuma


Sabtu malam tanggal 12 Desember 2015, Benedict Richard O’Gorman Anderson seorang Indonesianis terkenal asal AS meninggal dunia di Malang, Jawa Timur. Benedict Anderson, Ben Anderson, atau 'Om Ben’ bagi kalangan kolega dan teman-temannya di Indonesia, meninggal diduga karena serangan jantung pada usia 79 tahun. Jenazahnya dikremasi dan abunya disebar di Laut Jawa.

Saya sebagai orang biasa yang tidak kenal secara pribadi, tidak pernah bertemu secara langsung, dan hanya menjadi pembaca sebagian karya beliau, akan menyebutnya sebagai ‘Pak Ben’ saja.

Dari Irlandia, Tiongkok, ke Amerika

Pak Ben lahir tanggal 26 Agustus 1936 di Kunming-Tiongkok, dari pasangan Veronica Beatrice Mary Anderson dan James Carew O’Gorman Anderson. Waktu itu ayahnya bekerja sebagai petugas bea cukai kerajaan Inggris yang ditempatkan di Tiongkok.

Keluarga besar ibunya berasal dari Inggris, sementara keluarga ayahnya dari Irlandia. Dari Tiongkok, keluarganya tidak kembali menetap di Irlandia atau Inggris, namun malah berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1941 dan tinggal di California. Kehidupan multi-nasional dan multi-kultur tampaknya telah membentuk karakter anak-anak keluarga Anderson menjadi menghargai pentingnya budaya dan keberadaan negara-negara lain. Nantinya Pak Ben kerap berseloroh bahwa dirinya adalah semacam “orang buangan dengan loyalitas yang terbagi.” Selain itu, keterlibatan keluarga ayahnya dalam gerakan nasionalis Irlandia, bisa jadi juga turut mempengaruhinya untuk tertarik mendalami mengenai gerakan perjuangan kemerdekaan dan nasionalisme di Asia Tenggara dalam karier akademiknya.

Pak Ben kemudian meraih gelar BA dalam Classics (yang mempelajari budaya, bahasa dan filsafat) dari University of Cambridge-UK tahun 1957, dan Ph.D dari Cornell University pada tahun 1967 dengan disertasi berjudul The Pemuda Revolution: Indonesian Politics, 1945–1946. Selanjutnya Pak Ben mengajar di The Department of Government - Cornell University sejak tahun 1965 sampai pensiunnya tahun 2002. Pada tahun 1998, Pak Ben diangkat sebagai Aaron L. Binenkorb Professor Emeritus of International Studies, Government, and Asian Studies di Cornell University. Tahun 1994 Pak Ben menjadi anggota the American Academy of Arts and Science. Ben adalah saudara dari Perry Anderson, seorang ilmuwan sosial Marxis.

Kesadaran politik dan sikap anti-imperialisme Pak Ben baru terbentuk pada tahun 1957, justru setelah dia selesai kuliah dari Cambridge. Waktu itu terjadi krisis Suez dan terjadinya konflik dan perang sipil di Indonesia di mana CIA diduga terlibat, yang kemudian membangkitkan simpati sekaligus sentimennya sebagai orang yang pernah tinggal Asia. Ketika melanjutkan pendidikan doktornya, Pak Ben kemudian masuk ke The Interdisciplinary Indonesian Studies Programme - Cornell University (program studi interdisipliner kajian tentang Indonesia), yang menjadi awal dari keterlibatan seumur hidupnya dalam penelitian sejarah, politik dan budaya Indonesia. (lihat Wollman dan Spencer, dalam McClerry dan Brabon, 2007:3)

“Cornell Paper”

Menggauli Indonesia sejak tahun 1960-an, dapat terbayangkan kedekatan hati dan pikiran Pak Ben pada negeri ini. Karya monumental pertama Pak Ben, dan menjadi kontroversi bagi pemerintah Orde Baru di Indonesia, terkait dengan peristiwa G30S-1965. Pada tahun 1966, bersama Ruth T. McVey (dengan bantuan Frederick P. Bunnell), mereka menulis ‘Interim Report’ untuk The Cornell Modern Indonesia Project (CMIP) yang berjudul A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia. Laporan tersebut, yang kemudian populer sebagai “Cornell Paper,” menyimpulkan bahwa baik Partai Komunis Indonesia (PKI) maupun Presiden Soekarno bukanlah otak dan/atau pelaku dari peristiwa G30S, mereka justru harus dilihat sebagai korban. Kudeta tersebut dilakukan oleh internal angkatan bersenjata dengan mengeliminir sejumlah Jenderal yang dianggap telah bekerja sama dengan Amerika Serikat melalui CIA.

Laporan awal yang selesai pada tanggal 10 Januari 1966 ini, sedianya akan dilengkapi dengan data/informasi tambahan dan sekaligus tanggapan dari Pemerintah Indonesia. Upaya memperoleh informasi dan tanggapan tersebut dilakukan dengan bantuan seorang Indonesianis lain yang lebih senior, George McT. Kahin, yang punya banyak jaringan di lingkungan akademisi, militer dan pemerintah Indonesia kala itu. Sayangnya upaya tersebut gagal, hingga akhirnya Cornell menerbitkan laporan tersebut pada tahun 1971, tanpa ada bagian tanggapan dari pemerintah/militer Indonesia. Bahkan sebelumnya laporan tersebut “dibocorkan” pada tahun 1967 oleh seorang analis dari RAND Corporation yang dekat dengan pemerintah AS, hingga mendorong pemerintah Indonesia segera menyusun analisis tandingan yang menjadi versi resmi pemerintah/militer, yang dikomandani oleh sejarawan militer Nugroho Notosusanto. Sebagaimana umum diketahui, dalam versi resmi ini, PKI-lah yang menjadi dalang dan pelaku dari peristiwa G30S.

Pencekalan

Akibat “Cornel Paper” yang dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas nasional, Orde Baru memasukkan nama Pak Ben dan Kahin dalam daftar hitam sebagai ilmuwan asing yang dicekal masuk ke Indonesia. Sambil tetap menulis tentang Indonesia, Pak Ben kemudian melebarkan kajiannya mengenai politik di negara-negara Asia Tenggara lainnya, terutama Philipina dan Thailand. Pak Ben kemudian banyak menulis tentang nasionalisme, perjuangan kemerdekaan, pembentukan bangsa dan negara, anarkisme, kolonialisme, bahasa, budaya, globalisasi, dll. Dalam berbagai buku dan makalahnya tersebut, jika tidak secara khusus menulis tentang Indonesia, Pak Ben tetap memasukkan analisisnya tentang politik di Indonesia, baik sebagai contoh kasus ataupun perbandingan.

Pak Kahin baru diberi izin datang ke Indonesia pada tahun 1991, sementara Pak Ben bahkan baru diperbolehkan berkunjung kembali ke Indonesia di tahun 1999, setelah Orde Baru ambruk. Kabarnya setelah diizinkan datang kembali ke Indonesia, Pak Ben hampir setahun dua kali tahun datang ke Indonesia, terutama untuk mengunjungi candi-candi di Jawa Timur yang amat disukainya.

Magnum Opus: “Imagined Societies…”

Pak Ben banyak menulis buku, diantaranya yang cukup dikenal yaitu: Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946 (1972); Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (1983, 2006); Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia (1990, 2006); The Spectre of Comparisons: Nationalism, Southeast Asia, and the World (1998); The Age of Globalization: Anarchists and the Anticolonial Imagination (2005, 2013); Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination (2005); dll.

Ada pula entah berapa banyak makalah yang pernah ditulisnya. Satu yang saya suka karena judulnya yang unik dan “jahil” yaitu sebuah makalah berjudul “Petrus Dadi Ratu”  (New Left Review3, May-Jun 2000). Pak Ben “memelesetkan” judul sebuah kisah perwayangan yaitu “Petruk Dadi Ratu,” yang menggambarkan bagaimana Petruk yang hanya merupakan orang biasa saja kemudian dapat menjadi raja. Dia menggunakan kata “Petrus” yang merupakan singkatan dari “Pembunuh Misterius,” yaitu operasi pembersihan ‘preman’ oleh pemerintah Orde Baru di awal tahun 1980-an, dengan cara dibunuh tanpa melalui pengadilan (extra-judicially assassinated). Dalam makalah tersebut, Pak Ben menyindir bagaimana seorang yang menjadi otak dari pembunuhan massal (1965, ‘Petrus’ dll.) kemudian dapat menjadi presiden dan berkuasa begitu lama di Indonesia.

Tanpa bermaksud mengecilkan tulisan-tulisan Pak Ben yang lain, Imagined Communities tampaknya menjadi karyanya yang paling fenomenal dan berpengaruh. Ketika Institute of Southeast Asian Studies dalam ulang tahun ke 40  tahun 2008 pernah menyusun daftar 14 buku paling berpengaruh dalam kajian Asia Tenggara, salah satu yang masuk dalam daftar tersebut adalah Imagined Communities karya Pak Ben (lihat Hui, 2009). Sebagai perbandingan, penulis lain yang juga masuk daftar tersebut adalah para raksasa dalam ilmu sosial, diantaranya J.S. Furnifall, Anthony Reid, Clifford Geertz, James C. Scott, George McTurnan dan W.F. Wertheim. Menurut Verso Publishing, sejak pertama kali diterbitkan tahun 1983, buku ini telah beberapakali dicetak ulang dan diterjemahkan dalam lebih dari dua lusin bahasa.

Buku ini kemudian segera menjadi karya klasik dalam kajian ilmu sosial dan politik, bahkan juga dalam kajian budaya dan sastra. Pada intinya buku tersebut membahas mengenai perkembangan nasionalisme di abad 18 dan 19 baik di Amerika maupun dunia. Dalam buku ini, mungkin dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan Classics-nya di University of Cambridge, Pak Ben juga menggunakan analisis peran budaya dan sastra dalam politik khususnya dalam membentuk rasa nasionalisme suatu bangsa.

Menurut Pak Ben, suatu bangsa pada dasarnya adalah merupakan sebuah imagined communities (‘komunitas imajiner’ atau ada pula yang mengartikannya sebagai ‘komunitas terbayangkan’) yang terbentuk karena adanya rasa persamaan dan persekutuan berupa “horizontal comradeship” (pertemanan horizontal) (h.7). Situasi tersebut dapat terjadi pada mereka yang meskipun mungkin belum kenal bahkan belum pernah bertemu namun memiliki rasa kolektivitas, atribut, sejarah, ciri-ciri, keyakinan dan sikap  yang sama. Di sisi lain, terjadi pula teritorialisasi agama dan penurunan ikatan kekerabatan. Menurut Pak Ben, bahasa sangat berperan dalam membentuk imagined communities ini karena dapat memberi effect particular solidarities (efek solidaritas tertentu) (h.133). Faktor lainnya, yang turut berperan diantaranya adalah karena adanya perubahan dalam birokrasi pemerintahan kolonial, yang kemudian mulai diisi oleh orang-orang dari negeri jajahan tersebut.

Dengan menggunakan pisau analisis dari teori Marxist mengenai nasionalisme, Pak Ben menyimpulkan bahwa nasionalisme itu dibangun dari penciptaan imagined communities melalui gerakan perlawanan terhadap kekuasaan absolut monarki, dan dengan mengimplementasikan sistem kapitalisme, yang perkembangannya didorong oleh tumbuhnya budaya cetak, yang disebutnya sebagai ‘print-capitalism’.

Dari buku itu saja terlihat betapa kaya perspektif yang ditawarkan oleh Pak Ben. Mungkin memang tidak mudah memasukkan Pak Ben dalam klasifikasi ilmuwan dalam disiplin ilmu tertentu. Latar belakang kehidupan pribadi, minat dan pendidikan akademis yang dijalaninya –program doktornya  pada The Interdisciplinary Indonesian Studies Programme, Cornell University--membuat Pak Ben menjadi ilmuwan lintas disiplin. Menurut Wollman dan Spencer (dalam McCleery dan Brabon, 2007:5), pembaca bukunya Pak Ben dapat saja menganggap beliau sebagai seorang antropolog, sejarawan, sarjana sastra serta (dan mungkin lebih dari) seorang ilmuwan politik. Karena itu pula barangkali Pak Ben dapat masuk dan diterima oleh berbagai kalangan baik aktivis, budayawan, mahasiswa maupun ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu.

Pesan Terakhir


Pak Ben datang ke Indonesia dalam rangka peluncuran bukunya yang berjudul “Di Bawah Tiga Bendera” pada hari Kamis tanggal 10 November 2015, dan sekaligus menjadi pembicara pada kuliah umum tentang “Anarkisme dan Nasionalisme” di Fakultas Ilmu Budaya – Universitas Indonesia, Depok. Buku tersebut adalah terjemahan dari Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination yang terbit tahun 2005. Kesediaan Pak Ben ini dianggap sangat istimewa, karena konon sebelumnya Pak Ben selalu menolak untuk diundang ke UI, karena menurutnya UI adalah loyalis Orde Baru.

Dalam wawancaranya dengan Majalah Loka setelah kuliah umum di UI tersebut, Pak Ben “mengeluhkan” bahwa generasi muda Indonesia sekarang sudah terlalu asik dengan dirinya sendiri. Pak Ben juga mengkritisi kecenderungan studi doktoral saat ini yang dominan tentang kajian Islam, dan minim tentang tema lainnya. Menurut Pak Ben ada kemalasan intelektual, kemiskinan kreativitas dan tidak adanya konsep baru tentang Indonesia ke depan seperti yang terjadi di dekade 1960-an.

Barangkali memang sudah takdirnya bahwa kuliah umum dan wawancara tersebut menjadi pesan terakhir Pak Ben sebelum meninggal dunia dua hari kemudian. Meskipun demikian, dalam suasana duka ini, tampaknya justru semakin terlihat jelas bahwa Pak Ben memang disukai dan banyak kawan di Indonesia. Umumnya mereka mengenang Pak Ben sebagai sosok yang bersahaja, ramah dan senang bercanda. Dari berbagai sumber di media massa dan media sosial, tergambarkan kesan para kolega, teman, atau orang yang pernah berinteraksi dengan beliau. Ada yang menganggap meskipun ‘jago nulis’ Pak Ben bukanlah pembicara yang asik karena gaya bicaranya yang monoton. Ada juga yang bilang bahwa meskipun sudah berusia lanjut, Pak Ben ini ‘kagak ada matinye’ karena masih terus beraktivitas mulai dari menulis biografi, menerjemahkan cerita pendek karya novelis Indonesia, dll. Ada juga yang mengajak untuk mengambil teladan dari sikap intelektualitas Pak Ben yang berani untuk menjelajahi wilayah dan isu yang baru, serta berani berbeda pendapat dan melawan arus dalam mencari kebenaran ilmiah.

Pak Ben memang sudah meninggal, tapi seperti sebuah ungkapan Yunani “verba volant, scripta manent,” bahwa kata-kata bisa hilang tertiup angin, namun tulisan akan “abadi.” Tariq Ali dari Verso Publishing menyebutkan bahwa segera dalam beberapa waktu ke depan pihaknya akan menerbitkan memoir/biografi Pak Ben yang telah selesai disusunnya berjudul “A Life Beyond Boundaries,” yang untuk pertama kali akan dipublikasikan di Jepang. Memoir ini bersama semua karya yang pernah ditulisnya akan membuat pemikiran Pak Ben menjadi “abadi” bagi semua murid dan pembaca karyanya.

Selamat datang di “keabadian” Pak Ben…

----------
Sumber:

Selasa, 08 Desember 2015

"Mafia oh Mafia…"


Candra Kusuma

Minggu-minggu di akhir tahun 2015 ini, media massa tengah asik meliput berita tentang kisah segitiga antara bos perusahaan tambang asing yang beroperasi di Indonesia, bos lembaga legislatif dan bos perusahaan yang menguasai pengelolaan migas di Indonesia. Kata Mafia kemudian menjadi sangat sering muncul dalam pemberitaan di media massa tersebut. Saya jadi tergoda untuk membaca lagi literatur tentang per-Mafia-an ini.

Mafia: Dari Italia, ke Amerika, lalu Mendunia

Sepertinya, awal mula istilah Mafia sendiri sesungguhnya tidak begitu jelas benar. Menurut Sifakis (2005:291), tidak ada kesepakatan diantara para sejarawan --bahkan diantara para mafiosi itu sendiri-- mengenai asal dari kata Mafia. Ada yang berpendapat istilah Mafia mulai ada sejak tahun 1812 atau 1860. Ada juga yang menyebutkan Mafia pertama kali muncul pada Abad 13, yang merujuk pada perjuangan rakyat Italia melawan tekanan bangsa Perancis. Slogan perjuangan merekea yang terkenal kala itu adalah “Morete alla Francia Italia anela!” (yang kurang lebih maknanya: “Kematian Perancis adalah kebahagiaan Italia”). Kata MAFIA diambil dari huruf depan slogan tersebut.

Versi lain menyebutkan asal-usul kata Mafia dari satu peristiwa pada hari Senin Paskah tahun 1282 di Palermo-Sicilia, ketika seorang tentara Perancis memperkosa seorang pengantin perempuan di hari pernikahannya yang kemudian menyulut pemberontakan rakyat. Kata Mafia diambil dari jeritan histeris sang ibu pengantin yang berlari sepanjang jalan sambil berteriak “Ma fia… ma fia…” yang artinya “anak perempuanku… anak perempuanku…”. Pada abad ke-19, Mafia muncul sebagai budaya kriminal (criminal culture) di Italia, yang kadang mengganggu para tuan tanah kaya, namun lebih sering menjadi tukang pukul bayaran untuk menakut-nakuti para petani.

Albini dan McIllwain (2012:7) mencatat bahwa ada sebagian orang yang berpendapat bahwa istilah Mafia adalah sinonim dari nama tradisional Cosa Nostra (“Our Thing”), namun ada pula yang berpendapat bahwa keduanya adalah organisasi yang berbeda. Cosa Nostra sendiri baru muncul kembali ke permukaan pada tahun 1960-an.

Sementara Dickie (2014) punya pendapat lain. Menurutnya, Mafia berawal di tahun 1860, dan mulai membesar dan masuk dalam sistem masyarakat Italia tahun 1876. Tetapi, baru ketika mereka migrasi ke Amerika pada awal tahun 1900-an, Mafia tumbuh menjadi kelompok-kelompok yang lebih terorganisir dan lebih luas pengaruhnya. Keluarga-keluarga Mafia muncul di kota-kota New York, Boston, Philadelphia, Pittsburgh, Baltimore, New Orleans, Cleveland, Detroit, Chicago, Kansas City, Denver, Los Angeles and San Francisco, Las Vegas, Newark, dll. (diantaranya lihat Albanese, 2007; Ferrante, 2011; Albini dan McIllwain, 2012; Albanese, 2015). Lima keluarga Mafia yang paling terkenal di Amerika adalah Keluarga Bonanno, Colombo, Genovese, Gambino dan Lucchese (Deitche, 2009). (Mengenai sejarah Mafia dan Cosa Nostra lihat juga pada Paoli, 2003; Reppetto, 2004;  Critchley, 2009; Cawthorne, 2011; Newton, 2011; Reski, 2012; Nicaso dan Danesi, 2013; Dickie, 2014)

Lebih jauh, pada akhirnya istilah Mafia tidak lagi hanya secara eksklusif  merujuk pada kelompok kriminal asal Italia saja, namun sudah menjadi semacam istilah generik untuk segala bentuk kejahatan terorganisir (organized crime) di seluruh dunia (diantaranya lihat Sterling, 1994; Ryan, 1995; Siegel, Allum dan Siebert, 2003; Bunt dan Zaitch, 2003; DeVito, 2005; Albanese, 2007; Siegel dan Nelen, 2008; Benson, 2008; Allum et.al., 2010; Briquet dan Favarel-Garrigues, 2010; McCarthy, 2011; Albini dan McIllwain, 2012; Paoli, 2014; dan Albanese, 2015). Umumnya, mereka juga terkait dengan ikatan etnis atau primordial tertentu (Albanese, 2015:12; McCarthy, 2011; Siegel, 2012). Tak heran, meskipun berbeda dengan Mafia Italia dan mungkin sama sekali tidak ada hubungan diantara mereka, kelompok/organisasi kriminal  di berbagai negara kemudian juga umum disebut orang sebagai Mafia, sehingga dikenal adanya istilah Mafia Irlandia, Mafia Jepang (Yakuza), Mafia China (Triad dan Tong), Mafia Rusia, Mafia Cuba (Marelitos), Mafia Albania, dll.

Albanese (2007:4) merangkum pendapat dari berbagai ahli/penulis dan membuat definisinya sendiri, bahwa kejahatan terorganisir adalah sebuah usaha kriminal yang bekerja secara rasional untuk mendapatkan keuntungan dari kegiatan terlarang terkait dengan apa yang sering merupakan permintaan atau kebutuhan publik yang besar. Keberadaannya terus dipertahankan melalui penggunaan kekuatan, ancaman, kontrol monopoli, dan/atau korupsi pejabat publik.[1] Dengan kata lain, Mafia adalah kelompok penjahat terorganisir –baik dari kalangan penjahat jalanan sampai pejabat/aparat pemerintahan-- yang melakukan berbagai usaha baik legal maupun illegal untuk mencari keuntungan, dengan menggunakan berbagai cara termasuk didalamnya penggunakan kekuatan, kekerasan dan penyuapan/korupsi, dll. Sebagai contoh, dalam tubuh Mafia Italia dikenal adalah hierarki mirip seperti dalam perusahaan, di mana ada banyak anggota biasa (pekerja/prajurit), Capo (manajer menengah), Don (bos: ada ‘bos kecil’ dan ‘bos besar’), Consigliere (penasehat), konsultan/tenaga lepas, dll. (lihat Ferrante, 2011).

Mafia di Indonesia: Dari ‘Mafia Berkeley’ ke ‘Mafia Palugada’

Istilah Mafia bukan barang baru di Indonesia. Jika Mafia asli di Italia (dan kemudian di Amerika) muncul sebagai bentuk perlawanan atau budaya tanding atas kekuasaan pemerintah di sana, maka Mafia di Indonesia justru lahir dari rumah penguasa sendiri.

Di awal Orde Baru, ada istilah ‘Mafia Berkeley’ (diantaranya lihat Baswir, 2006). Istilah ini pertama kali digunakan oleh David Ransom (1970). Sama sekali berbeda dari makna awalnya, namun lebih melambangkan sebagai sekelompok orang berpengaruh yang menurut Ransom telah bertindak jahat di Indonesia. Mafia Berkeley merujuk pada kelompok elit intelektual lulusan University of California, Berkeley di AS di tahun 1960-an (sesungguhnya juga banyak yang merupakan alumni dari MIT dan Cornell). Mereka kemudian banyak yang menjadi dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan menjadi “otak” pada kementerian perekonomian dan perencanaan pembangunan di era Orde Baru, diantaranya Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Ali Wardhana, Mohamad Sadli, Barli Halim, J.B. Sumarlin, dll.

Menurut Ransom, pemerintah AS melalui RAND Corporation (lembaga think tank yang dekat dengan pemerintah AS) dan Ford Foundation berperan besar membentuk para ekonom-birokrat-teknokrat yang beraliran ekonomi liberal tersebut. Tokoh yang lebih awal yang turut mempengaruhi kelompok ini adalah Soedjatmoko (kuliah di Harvard, pernah jadi dosen di Cornell, Duta Besar Indonesia di AS, dan dewan direktur Ford Foundation) dan Sumitro Djojohadikusumo (ekonom di era Soekarno, dan dianggap dekat dengan AS melalui Ford Foundation) (tentang Mafia Berkeley dan Ford Foundation ini lihat juga Siskel et.al., 2003:15; dan Korey, 2007).

Di masa Suharto berkuasa, konon ada yang disebut juga sebagai ‘Mafia Geng Sembilan Naga’ yang anggotanya adalah para pengusaha yang dekat dengan lingkaran Cendana.[2] Setelah Orde Baru “tumbang” di tahun 1998, ternyata rakyat Indonesia justru malah menjadi semakin familiar dengan istilah Mafia ini. Muncul banyak pemain dan kelompok baru, yang mungkin juga merupakan kembangan atau pecahan dari para pemain lama. Ada  Mafia sektoral yang terkait dengan komoditas penting tertentu seperti Mafia Migas, Mafia Tambang, Mafia Beras, Mafia Daging, Mafia Ikan, Mafia Kayu, Mafia Pupuk, dll. Ada pula Mafia yang bermain di bidang atau urusan tertentu seperti Mafia Hukum, Mafia Peradilan, Mafia Pajak, Mafia Sepak Bola, dll. Semuanya berkonotasi negatif, yang merujuk pada konspirasi atau persekutuan jahat --yang umumnya melibatkan segitiga kongkalikong antara pengusaha rakus/hitam, birokrat dan aparat korup, serta politisi “makelar proyek”-- yang semuanya bertujuan mencari rente bagi kepentingan pribadi dan kelompoknya, meskipun dengan merugikan negara/rakyat.

Berbeda dengan Mafia Berkeley yang memang lebih intelektual dan ideologis (meski cenderung hanya dimanfaatkan oleh kepentingan ekonomi rente dari penguasa saja), para Mafia generasi baru ini kelihatannya semata lebih didorong oleh kerakusan dan mental korup mereka saja. Tak heran jika perilaku ekonomi mereka justru terlihat lebih primitif, telanjang, kasar dan brutal. Pelakunya juga semakin banyak, meski sesunguhnya tidak jauh dari lingkaran kekuasaan yang itu-itu juga. Dan karena tampaknya mereka ini juga tidak puas hanya bermain di satu arena saja tetapi juga merambah di segala sektor, bidang, urusan dan lembaga, maka --mengikuti kebiasaan di Indonesia yang gemar membuat istilah aneh dan konyol-- dapatlah kiranya mereka diberi sebutan baru: ‘Mafia Rupa-rupa’ atau ‘Mafia Palugada’ (“apa lu perlu gua ada”) atau boleh juga ‘Mafia Palugata’ (“apa yang ada di elu, gua minta”).  Jadi kalau memang ada tempat kumpul khusus para Mafia --yang mungkin sebagian ada di kantor kementerian, gedung parlemen atau hotel-hotel tertentu-- saya kira bisa juga nanti kita sebut sebagai ‘Pumasera’ alias ‘Pusat Mafia Serba Ada’  he..he..he..

----------
Sumber:
  • Albanese, Jay S. (2007). Organized Crime in Our Times. Fifth Edition. LexisNexis Group, New Jersey.
  • Albanese, Jay S. (2015). Organized Crime: From the Mob to the Transnational Organized Crime. Seventh Edition. Elvesier, Massachusetts.
  • Albini, Joseph L. dan Jeffrey Scott McIllwain (2012). Deconstructing Irganized Crime: A Historical and Theoritical Study. McFarland & Company, Inc., North Carolina.
  • Allum, Felia dan Renate Siebert (Eds.) (2003). Organized Crime and the Challenge to Democracy. Routledge, London.
  • Allum, Felia, et.al. (Eds.) (2010). Defining and Defying Organized Crime: Discourse, Perceptions and Reality. Routledge, London.
  • Baswir, Revrisond (2006). Mafia berkeley dan krisis ekonomi Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
  • Benson, Michael (2008). Organized Crime. Infobase Publishing, Massachussets.
  • Brique, Jean-Louis t dan Gilles Favarel-Garrigues (Eds.) (2010). Organized Crime and States: The Hidden Face of Politics. Translated by Roger Leverdier et.al. Palgrave Macmillan, New York.
  • Cawthorne, Nigel (2011). The History of yhe Mafia. Arcturus, London.
  • Critchley, David (2009). The Origin of Organized Crime in America: The New York City Mafi a, 1891–1931. Routledge, New York.
  • Deitche, Scott M. (2009). The Everything Mafia Book: True-life Accounts of Legendary Figures, Infamous Crime Families, and Nefarious Deeds. 2nd Edition. Adams Media, Massachussets.
  • DeVito, Carlo (2005). The Encyclopedia of International Organized Crime. Facts On File, Inc. New York.
  • Dickie, John (2014). Cosa Nostra: A History of the Sicilian Mafia. Palgrave Macmillan Ltd., Hampshire.
  • Ferrante, Louis (2011). Mob Rules: What The Mafia Can Teach The Legitimate Businessman. Portfolio/Penguin, New York.
  • Korey, William (2007). Taking on the World's Repressive Regimes: The Ford Foundation's International Human Rights Policies and Practices. Palgrave Macmillan Ltd., New York.
  • McCarthy, Dennis M. P. (2011). An Economic History of Organized Crime: A National and Transnational Approach. Routledge, Oxfordshire-UK.
  • Newton, Michael (2011). Chronology of Organized Crime Worldwide, 6000 B.C.E. to 2010. McFarland & Company, Inc., North Carolina.
  • Nicaso, Antonio dan Marcel Danesi (2013). Made Men: Mafia Culture and the Power of Symbols, Rituals, and Myth. Rowman and Littlefield Publishers, Inc., Maryland.
  • Paoli, Letizia (2003).Mafia brotherhoods : organized crime, Italian style. Oxford University Press, Inc., New York.
  • Paoli, Letizia (Ed.) (2014). The Oxford Handbook of Organized Crime. Oxford University Press, New York
  • Ransom, David (1970). “The Berkeley Mafia and the Indonesian Massacre,” pada Ramparts, Vol.9, No.4, October 1970, pp.26-28, 40-49.
  • Reppetto, Thomas (2011). American Mafia: A History of Its Rise to Power. Henry Holt and Company, LLC., New York.
  • Reski, Petra (2012). The Honoured Society: The Secret History of Italy’s Most Powerful Mafia. Diterjemahkan oleh Shaun Whiteside. Atlantic Books Ltd., Great Britain.
  • Ryan, Patrick J. (1995). Organized Crime: A Reference Handbook. ABC-CLIO, Inc., Caifornia.
  • Siegel, Dani, Henk van de Bunt, dan Damián Zaitch (Eds.) (2003). Global Organized Crime: Trends and Developments. Springer, Dordrecht.
  • Siegel, Dani dan Hans Nelen (Eds.) (2008). Organized Crime: Culture, Markets and Policies. Springer, New York.
  • Siegel, Dina dan Henk van de Bunt (2012). Traditional Organized Crime in the Modern World: Responses to Socioeconomic Change. Springer, New York.
  • Sifakis, Carl (2005). The Mafia Encyclopedia: From Accardo to Zwillman. Third Edition. Facts On File, Inc., New York.
  • Siskel, Suzanne E., et.al. (Eds.) (2003). Celebrating Indonesia: Fifty Years with the Ford Foundation 1953-2003). Ford Foundation.
  • Sterling, Claire (1994). Thieves’ World: The Threat of the New Global Network of Organized Crime. Simon & Schuster, New York.

 ----------------

Endnotes:
[1]  “Organized crime is a continuing criminal enterprise that rationally works to profit from illicit activities that are often in great public demand. Its continuing existence is maintained through the use of force, threats, monopoly control, and/or the corruption of public officials” (Albanese, 2007:4).
[2] Lihat “Membidik Jaringan Mafia Sembilan Naga Ala KPK, “ 22 Juni 2014,  http://www.kabarsatu.co/archives/4205