Baca

Baca

Kamis, 21 April 2016

"Raffles, Invasi Inggris ke Jawa, dan Sejarah yang Dipoles Ulang"



Candra Kusuma

Tim Hannigan, seorang sarjana jurnalistik asal Inggris, menulis Raffles and the British Invasion of Java yang diterbitkan oleh Monsoon tahun 2012. Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh KOMPAS dengan judul Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa pada tahun 2015.

Saya sangat senang sekaligus malu ketika selesai membaca buku ini. Senang, karena “buku sejarah” yang ditulis dengan  gaya populer ini memberi begitu banyak informasi baru mengenai sejarah kolonialisme di Indonesia, khususnya berkenaan dengan sosok Thomas Stamford Raffles sebagai salah satu “selebriti kolonialis” yang paling populer. Tetapi, saya juga merasa malu, karena sekali lagi harus mengakui betapa sangat sedikitnya pengetahuan saya tentang sejarah bangsa sendiri.

-----
Raffles dan sejarah yang bertentangan

Mula Hannigan menulis buku ini diawali oleh keheranannya pada masyarakat Indonesia yang banyak diantaranya merasa “menyesal” karena Indonesia tidak (lama) dijajah Inggris: “Akan lebih baik seandainya Indonesia dijajah Inggris, bukannya Belanda.” Begitu ungkapan yang sering dia dengar sejak awal berkunjung ke Indonesia tahun 2002 silam. Mereka umumnya membandingkan dan merujuk pada “kesuksesan Inggris” membangun Singapura hingga menjadi salah satu negara paling maju di dunia.

Dari situ nama Raffles selalu muncul sebagai sosok kolonialis yang pandai dan cakap dalam memimpin dan membangun daerah jajahannya. Selama Inggris menguasai Hindia Belanda di bawah kepemimpinan Raffles tahun 1811-1816, citra yang terbangun tentangnya lama kemudian adalah sebagai seorang liberal dan humanis yang anti perbudakan, berhasil menciptakan sistem sewa tanah yang bagus, menghapuskan hukuman brutal bagi para penjahat, pecinta budaya, ahli botani, dll. Namanya dikaitkan dengan Candi Prambanan dan Borobudur, bunga Raflesia Arnoldi, gamelan Jawa, penulisan sejarah masyarakat dan budaya Jawa, dan lainnya.

Namun ternyata, dari penelusuran Hannigan atas dokumen-dokumen kolonial awal 19 dan catatan dari kalangan bangsawan lokal, ada banyak data yang membantah klaim dan citra tentang Raffles tersebut. Dengan berbagai alasan dan sebab, Raffles ternyata masih membiarkan praktek perbudakan terjadi, menerapkan model sewa tanah yang makin menyengsarakan rakyat jajahan; memprovokasi pembantaian orang Belanda oleh Kesultanan Palembang dalam rangka memenuhi hasratnya menguasai sumber timah di Bangka dan Belitung; serta menyerbu, menghancurkan dan menjarah harta dan kekayaan budaya milik Keraton Yogyakarta. Bagi para atasannya di Inggris dan India, Raffles juga dianggap telah menggelapkan sebagian uang “sogokan” Sultan Badaruddin dari Palembang; menjual tanah pemerintah tanpa izin untuk keuntungan pribadi; gagal memimpin anak buahnya sendiri karena menjelang akhir masa jabatannya dia digugat oleh mantan Panglima Pasukan Inggris, dan oleh salah seorang bawahannya sendiri; dan memicu konspirasi rencana pemberontakan pasukan India-Inggris yang didukung sejumlah bangsawan Jawa, meskipun (untung bagi Raffles) pemberontakan itu gagal. Menurut Hannigan, akibat yang ditinggalkan Raffles berupa kemiskinan yang meluas dan rusaknya administrasi pemerintahan kolonial, bahkan membuat para petinggi Belanda yang kembali berkuasa setelah Inggris hengkang dari Hindia Belanda sampai menggeleng-gelengkan kepala mereka saking terkejutnya.

-----

Orang-orang dalam pusaran hidup Raffles

Ada ungkapan, karakter dan kualitas seorang pemimpin dapat lebih dikenali dari jenis orang yang ada di sekitarnya. Ibarat sebuah drama kehidupan di mana Raffles menjadi pemeran utamanya, ada banyak nama dan tempat yang muncul dalam buku Hannigan ini. Gilbert Elliot (Lord Minto pertama) menjabat Gubernur Jenderal Wilayah Kekuasaan Perusahaan Hindia Timur Inggris (British East India Company - EIC) di Asia, atasan sekaligus mentor dan patron yang perannya sangat besar dalam sebagian besar karier Raffles. Olivia Mariamne Devenish, istri pertama Raffles yang ikut serta dalam penugasannya di Jawa. Meninggal dan dimakamkan di Tanah Abang, di samping makam Leyden. Sophia Hull, istri kedua Raffles setelah kematian Olivia. Berperan besar mengkonstruksi citra Raffles melalui buku yang disusunnya tak lama setelah Raffles meninggal: Memoir of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles. John Casper Leyden, seorang dokter, ahli bahasa dan penyair yang nyentrik, sekaligus teman Lord Minto dan sahabat terpercaya Raffles. Meninggal karena sakit tak lama pasukan Inggris melumpuhkan bentang utama Belanda di Meester Cornelis, dan dimakamkan di Tanah Abang. Thomas Otho Travers, seorang Kapten dalam pasukan Inggris yang menjadi asisten Raffles. Travers juga seorang pengagum dan pembela Raffles yang paling setia. Jurnal yang ditulisnya menjadi salah satu sumber utama buku memoir tentang Raffles yang disusun Olivia.

Nama lain yang juga berperan besar dalam karier Raffles adalah Hugh Robert Rollo Gillespie, seorang perwira tinggi yang dianggap paling berani dan menonjol dalam pasukan Inggris, sekaligus veteran berpengalaman dalam operasi di Jamaika, Karibia dan India. Gillespie menjabat sebagai Panglima Angkatan Perang Inggris yang mendampingi Raffles sebagai Letnan Gubernur Jawa. Namun Gillespie ini juga yang kemudian membuat pengaduan mengenai “perbuatan tidak patut Raffles” kepada atasan mereka di India. William Robison, mantan Residen Palembang, yang kemudian juga menggugat Raffles. William Thorn, tentara yang menulis buku Memoirs of the Conquest of Java.  Colin Mackenzie, tentara, asisten Raffles, perwira survei sekaligus  peminat dan kolektor seni dan benda purbakala. Hermanus Christian Cornelius, peneliti dan juru survei yang berjasa melakukan pendataan candi-candi di Jawa. Alexander Hare, Residen Banjarmasin namun dengan reputasi buruk karena membangun harem dan melakukan perdagangan budak di Kalimantan. William Farquhar, tentara, dan kolega Raffles ketika mulai membangun Singapura. Bahkan menurut banyak pihak sesungguhnya Farquhar-lah yang lebih banyak berperan dalam meletakkan dasar pembangunan Singapura, karena Raffles sendiri hanya sekitar 9 bulan saja berada di koloni baru tersebut. John Crawfurd, mantan Residen Yogyakarta, kolektor budaya, penulis History of the Indian Archipelago, sekaligus pengganti Raffles dan Farquhar sebagai  Residen Singapura.

Sementara dari sisi para tokoh “lokal” dalam buku Hannigan ini dapat dijumpai sejumlah nama, khususnya dari kalangan bangsawan Jawa dan Palembang. Satu yang secara tidak langsung paling berjasa dalam membantu Hannigan menyusun buku ini adalah Arya Panular, seorang anak dari selir Sultan Hamengkubuwono I. Dialah penulis Babad Panular, yang terutama mengisahkan episode penyerbuan Raffles ke Keraton Yogyakarta tahun 1812.

-----

Napoleon di Eropa, Raffles di Jawa

Kekuasaan Inggris selama sekitar lima tahun di Hindia Belanda tidak dapat dilepaskan dari konteks persaingan dan perang besar di Eropa pada akhir abad 18 dan awal abad 19. Ketika itu, tepatnya pada tahun 1794, Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte menyerbu kerajaan Belanda. Penguasa Belanda, Pangeran Willem V van Oranje melarikan diri dan minta perlindungan Inggris. Pangeran Willem kemudian memerintahkan para gubernur koloninya untuk menyerahkan wilayah mereka kepada Inggris, tapi ternyata tidak semua mau menurut begitu saja perintah tersebut, termasuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Di mata Inggris, Hindia Belanda kemudian dipandang sebagai musuh yang harus direbut, menegaskan persaingan lama antara kedua negara di Timur. Namun sampai satu dekade kemudian tidak ada serangan nyata Inggris ke Hindia Belanda, karena EIC sendiri tengah menghadapi banyak masalah di basis utama kekuasaannya di India.

Tahun 1810 Napoleon menganeksasi Belanda. Dia kemudian menunjuk saudaranya laki-lakinya sendiri sebagai Raja Belanda, dan menjadikan Belanda sepenuhnya sebagai bagian dari Kekaisaran Perancis. Kala itu Herman Willem Daendels yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1807-1811. Konon, Napoleon sendiri pernah memerintahkan untuk mempertahankan Jawa dengan segala cara, berapapun harga yang harus dibayarkan untuk itu. Namun, karena adanya dugaan korupsi, Daendels ditarik pulang dan digantikan oleh Jan Willem Janssens sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Ternyata usia jabatan Jansenns hanya bertahan sebentar saja, yaitu hanya sekitar tujuh bulan, sejak Februari 1811 sampai 18 September 1811, ketika Belanda menyerah pada Inggris di Tuntang. Lebih menyakitkan lagi, jauh dari yang digembar-gemborkan sebelumnya, pasukan Belanda ternyata hanya mampu mempertahankan Jawa selama sekitar empat minggu saja, sejak pertama kali pasukan Inggris mendarat di pantai Cilincing –di Utara kota Batavia--, pada tanggal 4 Agustus 1811.

Ilustrasi: Pendaratan pasukan Inggris di Pantai Cilincing.
Sumber: Egerton, T. (1815). The landing of the British Army at Chillinching on the island of Java, 4th Augt. 1811


Meskipun dalam skala yang berbeda, kedua laki-laki tersebut tampaknya punya satu kesamaan, yaitu ambisi yang besar untuk berkuasa dan berpengaruh. Hanya saja, berbeda dengan Napoleon, Raffles bukanlah “orang milter.” Dalam invasi ke Jawa, dan selama pemerintahannya di Hindia Belanda, Raffles sama sekali tidak pernah terlibat dalam pertempuran langsung. Raffles punya minat dan kesibukannya sendiri.

-----

Raffles: Citra yang paradoks

Hannigan menggambarkan Raffles sebagai seorang pria kecil dengan ambisi dan hasrat yang besar untuk “menjadi orang besar.” Kecakapannya dalam administrasi kolonial mengantarkanya menjadi juru tulis paling menonjol di kantor cabang EIC di Penang. Tak lama, Raffles diangkat menjadi Agen Gubernur Jenderal untuk Negara-negara Melayu. Setahun kemudian, setelah Jawa berhasil direbut, Raffles kemudian diangkat menjadi Letnan Gubernur Jawa, atau resminya Lieutenant-Governor of Java and its Dependencies. Waktu itu Raffles bahkan baru berusia 30 tahun.

Namun Raffles bukan orang yang sesederhana itu. Menurut Hannigan, Raffles adalah pribadi dengan begitu banyak paradoks.

Raffles merupakan salah seorang paling aneh, rumit, dan bertentangan di antara banyak pencuri, pahlawan, jenius, dan penipu yang membentuk karakter Kerajaan Inggris. Meski dianggap memalukan di akhir kariernya, dia juga berakhir dengan reputasi anumerta yang mulus. Meskipun kadang ada ahli sejarah Belanda patriotik yang marah atau cendekia pasca-kolonial antusias telah mencoba –di jurnal-jurnal sejarah paling tidak dikenal—untuk menggambarkannya sebagai jelmaan iblis, dalam pendapat populer dia telah menjadi sesuatu yang tidak pernah dilakukannya: seorang pahlawan. Dalam setiap generasi sesudah kematiannya muncul seorang penulis biografi baru yang memuja-mujanya, masing-masing memoles dan meniru karya pendahulunya dalam rantai pemujaan tanpa henti, hingga reputasi Raffles, yang telah terjalin erat dengan status Singapura yang modern dan gemerlap, menjadi sesuatu yang tidak dapat dijatuhkan. Seorang laki-laki baik di Timur, kata mereka; seorang sarjana sensitif dan seorang jenius pemerintahan, dan sosok penjajah terakhir yang masih bisa disukai. Ketika nama Minto, Mayo dan Victoria telah dihapus dari peta jalan di India, nama Raffles tetap menjamur di seluruh Singapura, diabadikan di banyak sekolah, hotel, dan rumah sakit.” (Hannigan, 2015:28)

Ketika Raffles ditemukan meninggal oleh Sophia istrinya di bawah anak tangga rumah mereka di Inggris pada tanggal 5 Juli 1826, bangsa Inggris sama sekali tidak berduka. “Tidak ada patung megah yang diukir, dan tidak ada tulisan hebat dipahat di batu nisan; tidak ada banyak duka cita nasional karena kehilangan seorang visioner, malah banyak mantan pegawai Perusahaan Hindia Timur di Asia yang mencemooh kalau mendengar nama Raffles” (Hannigan, 2015:389-390). Bagi keluarganya sendiri kala itu, Raffles hanya menyisakan hutang dan tagihan yang sangat besar, yang sebagian besar terkait dengan “skandal keuangan” semasa dia menjabat sebagai Letnan Gubernur di Jawa.



Dalam situasi serba terpuruk itulah Sophia Raffles mengambil keputusan untuk membuat buku yang kemudian diberinya judul Memoir of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles. Memoir ini sebagian besar disusun berdasarkan surat-menyurat antara Raffles dengan atasan, kolega dan kawan-kawannya, dan terlebih lagi dari jurnal harian asisten dan pengagumnya yang paling setia, Otho Travers. Bahkan, Travers membantu langsung Sophia untuk menjelaskan detail peristiwa yang ingin ditonjolkan dalam memoir tersebut. “Sulit membayangkan sepasang penulis biografi yang lebih tak netral dan memihak daripada mereka, dan hasil akhirnya merupakan monumen penyucian” (Hannigan, 2015:392). Dapat diduga, jika konstruksi citra diri Raffles yang ditampilkan dalam buku tersebut sangatlah berpihak. Sosok Raffles “dipoles” sedemikian rupa menjadi sosok yang baru: pintar, cakap, bersih, dan sukses. Dari sumber aslinya, dapat dilihat bagaimana Sophia (dan Travers) menggambarkan sosok Raffles, diantaranya sebagai berikut:

“It is evident from what has been stated, that during the whole period of his administration,  Mr. Raffles had constantly been occupied with the varied and extensive duties of his situation, which had required from him incessant labour and attention; every thing, in fact, rested upon himself. He was nacquainted, or but slightly acquainted, with the principles or characters of most of those whom he had to employ; he was compelled to instruct, direct, and confide in all; and these, untried and unknown, were to be surrounded by temptations and examples of peculation, bribery, and corruption. It is to the honour of the individuals so employed and so chosen, that, under all succeeding circumstances, so few were found to fail in their duty, and so many proved themselves worthy of the confidence reposed in them.” (Sophia Raffles, 1835:289)

“The deep interest which Mr. Raffles took in the happiness of the Javanese induced him to exert every faculty of his mind to instruct and improve them ; and this was to him comparatively easy, even in the pressure of all the more direct and ordinary business of his station; he was gifted with a power of such rapid decision, his discrimination was so clear, and his arrangements so immediate and perfect, that he was able to effect more business, of every kind, than any single person of those around him could have thought possible. It is stated by some of those who were in the habit of observing him at this time, that they have seen him write upwards of twenty sheets of minutes, orders, &c. &c. without any correction or even alteration being necessary. It has already been stated, that he required three clerks to copy and keep up with he wrote; and that he frequently dictated to two persons whilst engaged in writing letters himself.” (Sophia Raffles, 1835:290)

Dalam memoir tersebut, Sophia menggambarkan bagaimana Raffles merupakan seorang pejabat kolonial yang selalu sibuk dan terus menerus bekerja, harus memimpin anak buahnya, dalam situasi kerja yang dengan godaan berupa berbagai bentuk spekulasi, suap dan korupsi. Raffles juga selalu mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan sukses. Digambarkan bahwa Raffles adalah orang yang cerdas, berbakat, dan mampu mengambil keputusan secara cepat. Oleh Sophia, Raffles juga digambarkan sebagai seorang yang cekatan sekaligus teliti, sehingga mampu menulis catatan, laporan dan berbagai dokumen secara cepat dengan tanpa kesalahan dan tanpa perlu dikoreksi lagi. Raffles dapat mendiktekan tulisan berbeda pada dua orang asistennya sekaligus, sembari dia sendiri menulis surat yang lain. Di tangan Sophia, sejarah hidup dan karier Raffles diubah menjadi legenda dan mitos. Dalam istilah Wright (2008), Raffles adalah seorang pahlawan yang diciptakan (a manufactured hero). Karenanya, Glendinning dalam Raffles and the Golden Opportunity 1781-1826 menyebut bahwa Sophia-lah yang menyelamatkan reputasi Raffles sebagai administatur kolonial (2012:14). 

Bagi Hannigan, segala glorifikasi dan puja-puji dalam memoir Rafles yang disusun Sophia tersebut -- sekaligus upaya ketat menyingkirkan segala kisah yang dapat menodai citra Raffles--, meskipun mungkin kurang dapat dibenarkan, tapi masih dapat dipahami. Toh mereka juga bukan sejarawan. Masalah sesungguhnya ada pada para sejarawan maupun para penulis kisah Raffles berikutnya yang --seperti dikatakan Hannigan—hanya mengikuti saja dan menganggap “biografi Raffles” yang disusun oleh Sophia dan Travers tadi sebagai sumber yang paling benar untuk menggambarkan sosok Raffles. Pada akhirnya, sejak akhir 1890-an sampai 1990-an, hampir semua tulisan mengenai Raffles menggambarkannya sebagai sosok yang “liberal, visioner, dan pahlawan, kemudian membuang kesan yang menyatakan sebaliknya” (Hannigan, 2015:393). Sebagai contoh, Coupland dalam Raffles 1781-1826 dengan meyakinkan menulis bahwa hanya dalam waktu singkat Raffles telah sukses melakukan revolusi administrasi kolonial di Jawa: "...he built up his new system, till, at the end of two or three years, not indeed without effort but with astonishingly little friction, the great revolution was as complete as administrative machinery could make it" (1934:46).

-----

Bias sejarah

Membaca buku Hannigan ini saya seperti diingatkan kembali bahwa apa yang disebut sebagai “kebenaran dalam sejarah” itu sangatlah relatif. Sejarah rentan oleh kesalahan metodologis, bias, dan kepentingan. Sejarah dapat dibuat, ditutupi, dikaburkan, dipalsukan atau bahkan dibentuk ulang. Sejarah adalah tentang apa yang ingin diingat, sekaligus apa yang ingin kita lupakan (MacMillan, The Uses and Abuses of History, 1998:127). Sejarah adalah juga soal interpretasi, sehingga pada akhirnya menjadi subyektif sifatnya. Dalam hal ini, sejarawan bukanlah orang yang dapat dianggap sepenuhnya netral juga  (Wiersma, “Politics of the Past: The Use and Abuse of History,” dalam Swoboda dan Wiersma, 2009:15).

Fischer (Hitorians’ Falacies, 1970) menyebutkan adanya sejumlah kesalahan yang dilakukan oleh para sejarawan, mulai dari kesalahan dalam menyusun kerangka pertanyaan, verifikasi, menentukan fakta signifikan, melakukan generalisasi, menyusun narasi, memetakan hubungan sebab-akibat, kesalahan dalam hal motivasi/tujuan, dll. Merujuk pada pandangan McCullagh (The Truth of History, 1998:21), ada sejarah yang salah, unjustified, dan bias. Salah atau unjustified dalam penulisan sejarah bersifat tidak sengaja, karena mungkin kesalahannya pada proses mengambil data atau intepretasi. Disitu ada kesalahan yang bersifat metodologis. Tetapi bias dalam penulisan sejarah adalah lebih merupakan faktor kesengajaan, karena ada kepentingan lain dari pemilihan fakta dan produksi tafsir sejarah tertentu (McCullagh, 2000:40). Bias penulisan sejarah dalam banyak kasus mungkin semata karena urusan eksistensi, tapi bisa jadi juga lebih karena alasan-alasan politis (Heinzen, “Memory Wars,” 2004:148). Saya kira, pada banyak kasus lain, pemelintiran sejarah bisa jadi juga karena alasan-alasan yang lebih bersifat ideologis, seperti pada kasus pembunuhan massal 1965 di Indonesia, misalnya. 

Kembali ke soal Raffles, saya menjadi “sedikit curiga” bahwa sejarah dan citra Raffles yang telah dipoles Sophia dan Travers tersebut memang sengaja dibiarkan dan berkembang begitu saja oleh para sejarawan Barat –yang notabene memiliki sebagian besar dokumentasi masa kolonial--, sebagai bagian dari upaya cuci tangan dan menciptakan imaji baru bahwa “tidak selamanya kolonialisme hanya menghadirkan penindasan di tanah jajahan mereka.” Dalam hal ini barangkali Raffles “beruntung” karena telah terpilih menjadi salah satu ikon kolonial yang dikonstruksikan sebagai seorang yang humanis dan berhasil menciptakan “peradaban baru yang lebih baik” di Timur, dengan Singapura sebagai etalasenya.

Hannigan dalam bukunya ini memberikan keterangan yang cukup jelas mengenai referensi yang digunakannya. Saya sendiri bukan sejarawan yang punya kompetensi dan kredibilitas untuk membantah atau membenarkan apa yang ditulis Hannigan ini. Namun dari beberapa referensi lain, memang ada banyak penulis yang mengkonfirmasi mengenai apa yang ditulis oleh Hannigan ini. Contohnya, tentang penyerbuan dan penjarahan Keraton Yogyakarta, yang oleh Carey (2008) dalam The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855 disebutnya sebagai  "perkosaan Inggris atas Yogyakarta" (the British rape of Yogyakarta).

Menurut saya, buku Hannigan ini memberikan alternatif informasi yang penting dan berguna, khususnya bagi masyarakat Indonesia. Buat saya, jika setengah saja dari isi buku ini benar, maka itu sudah memberi perspektif yang baru tentang sejarah Indonesia. Sayangnya, saya belum menemukan tanggapan dan komentar dari sejarawan Indonesia tentang buku Hannigan ini. Mungkin karena buku ini bukan dalam format buku teks atau laporan penelitian formal, atau memang tidak banyak (tidak ada?) ahli dengan spesialiasi tentang sejarah dan sepak terjang Raffles di Indonesia? Entahlah…

"Tapi yang pasti saya terhibur dengan buku ini. Terima kasih mas Hannigan..."

---ck---

Tentang Tim Hannigan: Mantan Chef penggemar surfing, turing dan sejarah

Hannigan lahir di Penzance, Cornwall-UK. Dia pernah bekerja sebagai chef profesional, namun panggilan jiwanya adalah menjadi backpacker keliling dunia, sekaligus untuk memenuhi  hobinya akan hiking, surfing dan kayaking. Hannigan belajar tentang jurnalisme di the University of Gloucestershire, Inggris. Pernah bekerja sebagai guru Bahasa Inggris dan tour guide sebelum menjadi full-time writer, sebagai travel journalist dan freelance author dengan spesialisasi Indonesia dan India.

Karyanya yang sudah dipublikasi adalah Murder in the Hindu Kush (The History Press, 2011, dan menjadi nominator pada the Boardman Tasker Prize), Raffles and the British Invasion of Java (Monsoon Books, 2012), dan A Brief History of Indonesia. Sultans, Spices and Tsunamis: The Incredible Story of Southeast Asia’s Largest Nation (TUTTLE, 2015). Buku lainnya yang terkait dengan jurnalisme adalah Specialist Journalism (Routledge, 2012), dan Open School of Journalism. Dari hasil perjalanannya, Hannigan juga banyak menulis artikel untuk banyak media di Asia, Timur Tengah dan UK, juga untuk sejumlah jaringan hotel di UK dan USA. Dia juga kerap menulis resensi buku di the Asian Review of Books dan media lainnya. Buku Raffles and the British Invasion of Java memperoleh penghargaan John Brooks Award 2013 dari the West Country Writers’ Association di Inggris.

-----
Sumber utama:
  • Carey, Peter (2008). The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855. KITLV Press, Leiden.
  • Coupland, R. (1934). Raffles 1781 - 1826. Second Ed. Oxford University Press, London.
  • Glendinning, Victoria (2012). Raffles and the Golden Opportunity 1781-1826. Profile Books, London.
  • Hannigan, Tim (2011). “When Raffles Ran Java,” History Today, Sep 2011, Vol. 61, Issue 9, p.10-17.
  • Hannigan, Tim (2012). Raffles and the British Invasion of Java. Monsoon Books, Singapore.
  • Hannigan, Tim (2015). Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa. Penerjemah: Bima Sudiarto. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.
  • Heinzen, Jasper (2004). “’Memory Wars’: The Manipulation of History in the Context of Sino-Japanese Relations,” New Zealand Journal of Asian Studies 6, 2 (December, 2004): 148-164.
  • Fischer, David Hackett (1970). Historians’ Fallacies: Toward a Logic of Historical Thouhgt. Harper Perennial, New York.
  • McCullagh, C. Behan (1998). The Truth of History. Routledge, New York.
  • McCullagh, C. Behan (2000). “Bias in Historical Description, Interpretation, and Explanation,” History and Theory, Vol. 39, No. 1 (Feb., 2000), pp. 39-66.
  • MacMillan, Margaret (2008). The Uses and Abuses of History. Penguin, Ontario-Canada.
  • Raffles, Sophia (1835). Memoir of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles: Particularly in the Government of Java, 1811-1816, Becooolen and Its Dependences, 1817-1824; With Details of the Commerce and Resources of the Eastern Archipelago, and Selections from His Correspondence. Vol. 1. James Duncan, London.
  • Roscher, Jean (2011). Perang Napoleon di Jawa 1811: Kekalahan Memalukan Gubernur Jenderal Janssens. Penerjemah: Rahayu S. Hidayat. Kompas, Jakarta.
  • The British Invasion of Java 1811, http://asianmil.typepad.com/stage3/2009/05/the-british-invasion-of-java-1811.html
  • Wiersma, Jan Marinus (2009). “Politics of the Past: The Use and Abuse of History,” on Politics of the Past: The Use and Abuse of History, Hannes Swobodan and Jan Marinus Wiersma, The Socialist Group in the European Parliament.
  • Wright, Nadia (2008). “Sir Stamford Raffles – A Manufactured Hero?” paper on the 17st Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia ini Melbourne, 1-3 July 2008.
  • http://timhannigan.com/about-2/  
  • http://www.amazon.co.uk/Tim-Hannigan/e/B0069YJIO0
  • http://harnas.co/2015/10/12/petualangan-seorang-chef-dibalik-kelahiran-a-brief-history-of-indonesia