Baca

Baca

Selasa, 11 Agustus 2015

“Alwi Shahab Punye Cerite…”



Candra Kusuma

Bisa jadi, bukan tanpa alasan Alwi Shahab memilih judul buku ini Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia. Karena menurut Abah Alwi –demikian dia kerap dipanggil-- riwayah penamaan Batavia memang demikianlah adanya. Pada bagian tulisan berjudul “Jenderal Coen, Batavia dan Belanda Mabuk,”  dikisahkannya bahwa:

“Ketika Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen menaklukkan Jayakarta pada Mei 1619, dia ingin menamakan kota yang baru dibangun dari reruntuhan puing-puing di Sunda Kelapa ini dengan nama De Hoorn, sebuah kota kelahirannya yang terletak di salah satu provinsi di Noord Holland (Belanda Utara). Yang merupakan kawasan nelayan. Tetapi, belum sempat dia menamakannya, tiba-tiba dalam sebuah pesta kemenangan ada seorang soldadu VOC yang tengah mabuk meneriakkan kata-kata "Batavia…Batavia…” Entah bagaimana prosesnya, akhirnya kota yang terletak di muara Sungai Ciliwung dan sekitarnya itu akhirnya bernama Batavia.” (hal.19-20)

Konon, --menurut Abah Alwi-- Jenderal Coen tidak ingin kota itu dinamakan Batavia, dan tetap ingin bernama De Hoorn. Tapi apa daya, ternyata para bos besar VOC di Netherland sana lebih suka nama Batavia dibandingkan usulan nama dari Coen. Sampai-sampai, selama beberapa waktu Coen tidak ingin menyebut nama kota itu sama sekali.

Ada 71 tulisan pendek dalam buku tersebut. Beragam kisahnya, diantaranya tentang pesta pelantikan Gubernur Jenderal VOC, keberadaan ‘wanita publik’ (semacam pekerja seks komersial sekarang), penggunaan gas sebagai sumber penerangan, pengoperasian trem, kehidupan masyarakat Cina, gedung Harmoni, Nyai Dasima, dll. Saya sendiri senang sekali membaca bagian tentang Meester Cornelis, Jatinegara dan Matraman, karena memang lahir dan sempat tinggal beberapa lama di kawasan tersebut.

Sebagai wartawan, Abah Alwi kabarnya tidak sekedar mengandalkan sumber-sumber sekunder dari dokumen atau buku tentang Batavia/Jakarta. Dia juga rajin mendatangi nara sumber dan tempat-tempat yang mejadi bahan tulisannya. Selain itu, Abah Alwi juga selalu berupaya mengkontekskan kisah-kisah tempo doeloe itu dengan perkembangan yang ada dan kondisi kekinian, berikut kisah unik, tragis maupun lucu di dalamnya. Foto atau ilustrasi yang ditampilkan juga cukup membantu memberi gambaran tersebut. Dengan itu pembaca dapat membayangkan lokasi, pelaku dan bumbu-bumbu peristiwa yang terjadi di masa lalu dengan lebih mudah dan mengasyikan untuk dibaca.

Menurut saya buku ini dan karya Abah Alwi lainnya sangat penting. Tidak saja bagi warga Jakarta, namun juga bagi semua orang yang ingin mengetahui sejarah Batavia/Jakarta, baik sebagai ibukota negara maupun sebagai pusat pemerintahan VOC dan kolonialis Belanda selama ratusan tahun di Nusantara.

------
*Alwi Shahab, seorang wartawan senior kelahiran Jakarta tahun 1936. Pernah bekerja selama 30 tahun di Kantor Berita Antara (1963-1993). Sejak 1993 bekerja di H.U. Republika, mengasuh rubrik Sketsa Jakarta dan Nostalgia, yang mengangkat persoa;an Kota Jakarta dan kisah-kisah tempo dulunya. Selain artikel, Abah Alwi juga menulis sejumlah buku, diantaranya: buku, 2001  Alwi Shahab mengeluarkan buku Robin Hood Betawi (2001); Betawi: Queen of the East (2002); Saudagar Baghdad dari Betawi (2004); Oey Tambahsia Playboy Betawi (2007).

Sumber:
  • Alwi Shahab  (2013). Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia. BUKU REPUBLIKA.