Baca

Baca

Kamis, 05 November 2015

"Jelajah Sejarah: Misteri 1965"

50 Tahun Misteri 1965

Candra Kusuma

Hari Minggu tanggal 18 Oktober 2015 lalu, saya berkesempatan mengikuti kegiatan 'Jelajah Sejarah' yang disponsori oleh MIZAN. Lumayan seru. Ada sekitar 20-an orang peserta yang ikut. Dengan biaya yang cukup 'ramah kantong', peserta bisa jalan-jalan dengan bus AC, dapat snack dan makan siang, dapat dapat kaos dan tas tote, juga buku baru karya Salim Said berjudul "Gestapu 1965: PKI, Soekarno, Soeharto, dan Aidit." Di dalam bus, juga ada kuis yang berhadiah kaos dan buku-buku terbitan MIZAN. 

Cerita dan obrolan mengenai peristiwa 1965 dipandu oleh Hendi Jo, seorang jurnalis sejarah yang sebagian kumpulan tulisannya telah diterbitkan dalam buku "Zaman Perang: Orang Biasa Dalam Sejarah Luar Biasa" (lihat “Orang Biasa di Zaman Perang: History from Below”). Sedianya Pak Salim Said sendiri akan menjadi narasumber dalam diskusi penutup, namun beliau berhalangan dan digantikan oleh Pak Anhar Gongong.

Saya tidak berniat membahas panjang lebar peristiwa G30S dan berbagai tafsir dan versi kebenarannya di sini. Saya hanya ingin berbagi sedikit cerita kecil dan kesan yang saya tangkap dari "wisata sejarah" ini saja. 

Taman Surapati


Foto 1: Peserta 'Jelajah Sejarah' berkumpul dan berangkat dari Taman Surapati - Menteng.


Sasmita Loka, Rumah Dinas Jenderal Ahmad Yani



Foto 2: Peresmian Museum Sasmita Loka oleh Jenderal Soeharto, tanggal 1 Oktober 1966.

Museum ini awalnya adalah rumah dinas Jenderal Ahmad Yani, yang merupakan aset dari Angkatan Darat. Sekarang ini, lokasinya berada di pinggir Jl. Latuharhary  di kawasan Menteng. 



Foto 3: Salah satu dari tiga ekor koleksi Hariamau yang diawetkan yang ada di sini, 

Harimau yang diawetkan ini adalah pemberian dari para kolega di militer dan lainnya. Kira-kira ada berapa banyak koleksi Harimau awetan macam begini di rumah para Jenderal lainnya ya?



Foto 4: Mungkin begini tipikal furnitur di rumah dinas Jenderal kala itu. 

Gading gajah tampaknya juga merupakan jenis cinderamata dan hiasan rumah yang umum pada masa itu.



Foto 5: Meja bar di rumah dinas.



Foto 6: Mobil mewah merk Impala.



Foto 7: Di lantai ini Jenderal Yani tewas ditembak Tjakrabirawa.

Menurut pemandu museum ini, Pak Yani tewas karena ditembak dari belakang oleh Tjakrabirawa. Awalnya, Tjakrabirawa meminta Pak Yani ikut ke istana untuk menghadap Presiden Sukarno. Pak Yani bilang bahwa dia akan ganti baju dulu, namun dilarang. Pak Yani kemudian bilang dia mau cuci muka saja, tetapi tetap dilarang. Pak Yani marah dan akhirnya menempeleng salah seorang anggota Tjakrabirawa itu sampai tersungkur. Entah bagaimana, pasukan lainnya kemudian memuntahkan senjata otomatisnya. Pak Yani tewas di tempat. 

Jelas peristiwa ini terjadi pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, sehingga banyak yang mengkritik penamaan G30S. Presiden Soekarno-pun lebih suka menyebut peristiwa itu sebagai Gerakan Satu Oktober (Gestok).


Foto 8: Patung Jenderal Ahmad Yani, dengan bendera Merah Putih yang tampaknya perlu diganti karena sudah pudar dan ada tambalannya.


Rumah Pribadi A.H. Nasution


Foto 9: Patung Jenderal Besar A.H. Nasution 

Museum ini sebelumnya merupakan rumah pribadi keluarganya. Saat ini lokasinya terletak di Jl. Teuku Umar No. 40. Cukup besar, karena luas tanahnya ada 2.500 m2. Kabarnya dibeli Pak Nas dari orang Belanda, dengan cara mencicil selama beberapa tahun. Pak Nas menempati rumah ini sejak tahun 1949 sampai meninggalnya tahun 2000. Rumah ini kemudian diubah menjadi museum pada tahun 2007, dan diresmikan oleh Presiden SBY tanggal 3 Desember 2008.



Foto 10: Diorama di kamar tidur pribadi Pak Nas. 

Menurut pemandu museum ini, saat itu Pak Nas dan Bu Nas sedang di kamar ini bersama anak kedua mereka Ade yaitu Irma Suryani Nasution. Kemudian terdengar keributan dan suara tembakan di luar, dan ketika Bu Nas membuka pintu dia melihat ada pasukan Tjakrabirawa, lalu pintu ditutupnya kembali. Tjakrabirawa menggedor-gedor pintu, memaksa Pak Nas keluar.  Adik Pak Nas bernama Mardiah yang tidur di kamar sebelah terbangun dan masuk ke kamar ini (ruang utama di rumah ini saling terhubung). Bu Nas memberikan Ade Irma kepada Mardiah. Karena tidak tahu situasi, Mardiah membuka pintu kamar, dan seketika itu --entah kaget atau apa-- Tjakrabirawa melepaskan tembakan kembali. Ade Irma terkena tembakan di pinggang belakang.



Foto 11: Pak Nas melompati pagar.

Pak Nas mencoba bersembunyi dengan memanjat pagar ke Kedutaan Besar Iraq yang ada di samping rumahnya. Ketika mengetahui Ade Irma terluka, Pak Nas mencoba kembali, namun dilarang oleh Bu Nas. Pada saat memanjat pagar kedua kalinya itulah Pak Nas jatuh dan mengalami cedera pada kakinya.


Foto 12: Diorama yang menggambarkan sebagian dari pasukan Tjakrabirawa yang merangsek sampai ke ruang makan. 

Menurut pemandu museum ini, Tjakrabirawa terus mencari Pak Nas, namun hanya menemui Bu Nas yang tengah menggendong Ade Irma yang terluka karena terkena tembakan. Pada saat itu kemudian terdengar suara peluit yang mungkin sebagai kode bahwa operasi penculikan telah tuntas, dan Pak Nas telah ditemukan. Belakangan baru diketahui bahwa pasukan itu salah tangkap, karena yang mereka bawa ke Lubang Buaya ternyata adalah ajudan Pak Nas yaitu Lettu Czi. Pierre Tendean.



Foto 13: Bu Nas menggendong Ade Irma Surani yang terluka.

Luka tembakan yang dialami oleh Ade Irma tidak pada bagian vital, sehingga sempat di rawat di RS Gatot Subroto. Namun malang nyawanya tidak terselamatkan. Ade Irma meninggal pada tanggal 6 Oktober 1965. Ketika itu usianya baru 5 tahun.



Foto 14: Diorama penembakan dan penculikan Lettu Czi. Pierre Tendean, yang dibawa ke Lubang Buaya karena mengaku sebagai Jendral Nasution.


Foto 15: Foto Pak Nas dan Pak Harto. 

Pak Nas dianugerahi pangkat Jenderal Besar TNI pada tahun 1997. Dalam sejarah republik, hanya tiga orang yang menyandang pangkat Jenderal Besar, yaitu Sudirman, Nasution dan Suharto.



Foto 16: Relief perjalanan karier Jenderal Nasution.


Eks Kantor CC PKI, Jl. Kramat Raya-Jakarta


Foto 17: Sisa-sisa bekas gedung CC PKI di Jl. Kramat Raya-Jakarta yang diserbu dan dibakar massa pada tanggal 8 Oktober 1965.

Meski pernah dibakar dan dijarah dan dibiarkan terbengkalai selama puluhan tahun, sepintas konstruksi bangunan ini masih terlihat kokoh. Kabarnya sekarang menjadi milik grup Hotel Acacia, namun masih belum dimanfaatkan. Belakangan hanya menjadi salah satu lokasi acara TV 'uji nyali' saja.


Kompleks Lubang Buaya



Foto 18: Diorama penyiksaan para Jenderal.

Barangkali, diorama ini adalah ilustrasi yang paling sering digunakan oleh pemerintah Orde Baru untuk menggambarkan kekejaman PKI dan oganisasi di bawahnya (Pemuda Rakyat dan Gerwani). Digambarkan bagaimana para Jendral disiksa dengan di silet, dicungkil matanya dan bahkan dipotong kemaluannya, setelah dipaksa mengakui bahwa mereka terlibat dalam Dewan Jenderal untuk menggulingkan Presiden Soekarno. Belakangan banyak bukti menunjukkan bahwa yang berkumpul di Lubang Buaya kebanyakan adalah para Sukarelawan dan Sukarelawati yang sedang dilatih untuk menghadapi konfrontasi dengan Malaysia. Dari hasil visum oleh para dokter yang mengotopsi mayat para Jendral itu, ternyata juga tidak ditemukan adanya bukti penyiksaan dan mutilasi. Mereka memang banyak mengalami luka tembak akibat 'disiram' oleh peluru ketika dimasukkan ke sumur tua yang sekarang dikenal sebagai Lubang Buaya.



Foto 19: Barang-barang peninggalan Ajun Inspektur Dua Polisi K.S. Tubun.

1 Oktober 1965, anggota Brimob Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun (K.S. Tubun) tengah bertugas mengawal kediaman Wakil Perdana Menteri DR. J. Leimena yang bertetangga dengan rumah dinas Jenderal A.H. Nasution. Ketika pasukan Tjakrabirawa menyerbu rumah Pak Nas, Tubun yang mendengar adanya suara tembakan dan kegaduhan itu berusaha melakukan perlawanan, namun malang dia justru tertembak lebih dulu dan tewas di tempat.



Foto 19: Peralatan golf para Jenderal.

Jenderal juga butuh olah raga dan punya hobi. Salah satunya golf. Tapi rasanya tetap saja ini hobi yang 'unik' di tengah inflasi dan kesulitan ekonomi yang luar biasa kala itu.



Foto 20: "Sumur Maut Lubang Buaya"

Menurut kisah, tadinya sumur itu hanyalah sumur tua yang sudah tidak terpakai lagi milik warga yang tinggal di kawasan ini. Ketika pasukan penculik bingung bagaimana menaruh mayat para Jendral dan lainnya yang sudah tewas terbunuh, akhirnya mereka memasukkannya ke dalam sumur ini.



Foto 21: Hendi Jo tengah bercerita seputar peristiwa di kawasan Lubang Buaya.



Foto 22: Diskusi mengenai peristiwa 1965 bersama sejarawan Anhar Gonggong.

Satu yang saya tangkap dari pandangan Pak Anhar adalah, bahwa semua pihak tampaknya memang ikut 'bermain' dalam peristiwa 65, dengan kepentingannya masing-masing. Sukarno yang ingin tetap memegang pengaruh utama dengan mengusung bendera Nasakom yang memainkan politik keseimbangan antara Angkatan Darat dan PKI. Begitu pula dengan keterlibatan kekuatan asing.

Menurutnya, situasi kala itu memang sudah 'menang-kalah'. Sejak awal 1960-an PKI juga sudah melakukan banyak sekali provokasi, diantaranya menuntuk pembubaran HMI, peristiwa Bandar Betsi, peristiwa Kanigoro, aksi sepihak oleh BTI, dll. Perubahan politik diluar jalan demokrasi pasti menumpahkan darah. Pak Anhar merujuk kejadian di Cina dan Kamboja, di mana ketika komunis berkuasa juga terjadi pembantaian dan kekerasan terhadap kekuatan-kekuatan yang dinilai kontra revolusi.

Karena itu menurut Pak Anhar akan sulit untuk mengetahui apa yang sesungguhnya benar-benar terjadi saat itu. Selain bukti-bukti yang ada juga selalu tidak lengkap, para sejarawan dan para ahli memiliki beragam versi yang sebagian besar juga dipengaruhi oleh seberapa kuat kesetiaan mereka pada metode ilmiah atau pada 'kecenderungan politik'-nya masing-masing.



Foto 23: Monumen 7 Pahlawan Revolusi.

Rasanya, saya pernah 1-2 kali ke tempat ini semasa sekolah dulu. Ternyata tempat ini masih cukup banyak pengunjungnya, baik rombongan anak sekolah, keluarga atau mereka yang sekedar mencari tempat alternatif buat pacaran.

Kamis, 08 Oktober 2015

"Kebakaran Hutan dan Kabut Asap di Indonesia"


Candra Kusuma

Pada minggu-minggu ini media massa ramai memberitakan tentang bencana kebakaran hutan dan kabut asap yang terutama terjadi Sumatera dan Kalimantan. Tidak hanya telah menggangu kesehatan maupun kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat di banyak daerah di kedua pulau tersebut, bahkan diberitakan bahwa telah jatuh korban jiwa sebagai akibat dari polusi asap yang ‘gila-gilaan’ tersebut. Negara-negara tetangga --Malaysia, Singapura dan belakangan juga Thailand-- sudah menyatakan ketidaknyamanan mereka akibat migrasi kabut asap di negara mereka. Banyak pihak menuding Pemerintah Indonesia lambat menangani bencana tahunan ini. Bahkan untuk menanggapi tawaran bantuan pemadaman api dari sejumlah negarapun terkesan ada sikap tarik ulur.

Saya teringat satu buku lama yang mengupas masalah kebakaran hutan dan kabut asap ini. Buku yang saya maksud berjudul  "Indonesia’s Fires and Haze: The Cost of Catastrophe" (1999) yang dieditori oleh David Glover and Timothy Jessup. Dari uraian buku ini, terlihat bahwa kebakaran hutan dan bencana kabut asap ini bukanlah masalah baru. Saya termasuk yang berharap agar pemerintah –siapapun presidennya-- dapat lebih sigap mengambil tindakan pencegahan, menangani masalah lapangan, dan menegakkan hukum khususnya terhadap pengusaha/perusahaan yang terbukti menjadi salah satu penyebab bencana ini. Itupun masih belum membahas mengenai bagaimana upaya memulihkan kerusakan ekologi akibat bencana ini.

Fokus dan cakupan
Buku ini menyoroti situasi di tahun 1997-1998. Kondisi kekeringan dipengaruhi oleh El Nino. Juga oleh  maraknya pembersihan lahan untuk pertanian dan perkebunan (clear land for agriculture), yang menyebabkan terjadinya kabut asap yang menyebar bukan saja di Indonesia tetapi juga sampai ke negara tetangga, khususnya Singapura dan Malaysia. Buku ini dibagi dalam beberapa Bab, yakni: Bab 1 - uraian tentang sebab dan dampak dari kebakaran hutan dan kabut asap; Bab 2 - metode penelitian yang digunakan; Bab 3 - dampak bagi Malaysia; Bab 4 - dampak bagi Singapura; Bab 5 - dampak bagi Indonesia; dan Bab 6 - kesimpulan dan rekomendasi kebijakan. Saya hanya ingin mengulas sedikit, khususnya dari Bab 1 saja.

Pada Bab 1, James Schweithelm dan David Glover mengidentifikasi sejumlah sebab dan dampak dari api dan asap tersebut. Tidak seluruh kerusakan dapat dianalisis, terutama karena keterbatasan data. Beberapa variabel yang dimasukkan yaitu: kerusakan kayu; kerusakan pertanian; kerusakan hutan; biaya pemadaman api; pelepasan karbon yang mempengaruhi perubahan iklim; gangguan kesehatan, kerugian dalam turisme; dan kerugian produksi ekonomi. Schweithelm dan Glover memperkirakan kerugian tersebut jika dikonversi secara ekonomi mencapai US$4.5 milyar.

Luasan hutan yang terbakar
Berdasarkan hasil penginderaan jauh, area hutan yang terbakar pada tahun 1997 diperkirakan sekitar 1,5 juta hektar yang terkena dampak di Sumatera, dan 3.060.000 hektar di Kalimantan (Liew dkk. 1998). Dari jumlah ini, diperkirakan sebanyak 20 persen adalah areal hutan, 50 persen lahan pertanian, dan 30 persen merupakan vegetasi non-hutan dan padang rumput. Dari hasil assessment, kebanyakan bekas kebakaran tersebut berada di area dekat daerah yang dihuni, dekat jalan, dan sungai-sungai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran dimulai dan disengaja oleh manusia. Untuk keperluan buku ini, perkiraan area yang terbakar seluas 5 juta hektar, untuk kebakaran tahun 1997 saja.

Penyebab
Di bagian ini Schweithelm dan Glover menguraikan penyebab dari terbakarnya hutan hujan di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Menurut mereka, hutan terbakar dipengaruhi dua faktor, yaitu: (a) Bahaya kebakaran (fire hazard), yaitu ukuran dari jumlah, jenis, dan kekeringan bahan atau benda yang potensial terbakar di hutan. Faktor ini terkait jenis hutan, cuaca dan iklim; dan (b) Resiko kebakaran (fire risk), yaitu ukuran probabilitas bahwa bahan atau benda mudah terbakar tadi akan terbakar. Faktor ini terkait dengan aktivitas manusia. Penebangan kayu, pembukaan lahan, dan praktek pembukaan pemukiman dan pertanian di Indonesia telah menciptakan fire hazard dan fire risk yang  tinggi di sebagian besar wilayah hutan dataran rendah yang kemudian telah menyebabkan kebakaran hutan besar-besaran seperti yang terjadi di 1997-1998.

Sumatera dan Kalimantan adalah kawasan hutan hujan yang khas, namun sangat disayangkan memiliki fire regime yang tinggi. Fire regime atau rezim api adalah istilah yang mengacu pada frekuensi, intensitas, dan tingkat spasial kebakaran di tipe vegetasi tertentu di bawah kondisi iklim dan manajemen tertentu. Rezim api di hutan hujan Indonesia telah berubah secara dramatis selama dua dekade terakhir kebakaran telah menjadi lebih sering, lebih intens, dan lebih besar.

Schweithelm dan Glover memetakan beberapa isu terkait kebakaran hutan dan kabut asap ini, sbb.:
  • Sejarah kebakaran (history of fire), di mana berdasarkan hasil penelitian sejarah dan kondisi hutan di Indonesia khususnya di Sumatera dan Kalimantan, kebakaran hutan dan pembakaran hutan bukan hal baru, baik karena faktor alamiah maupun akibat dari tindakan manusia. Namun memang cenderung meningkat dalam beberapa dekade terakhir;
  • Perladangan berpindah (swidden agriculture), yang berkaitan dengan isu pertambahan populasi yang membutuhkan permukiman dan lahan pertanian, dan pada akhirnya  mengakibatkan peningkatan deforestasi dan risk fire dalam beberapa dekade terakhir;
  • El Nino, yang dipengaruhi oleh cuaca dan iklim global/regional. El Nino menyebabkan kekeringan ekstrim, ditambah dengan meningkatnya besaran benda/bahan mudah terbakar di hutan. Ditambah oleh meluasnya penggunaan api untuk pembukaan lahan, telah menciptakan bahaya kebakaran ekstrim. Kebakaran pada awalnya dapat terjadi secara alami (misalnya, dari sambaran petir atau kebakaran lapisan batubara), tapi kecerobohan dan keserakahan manusialah sesungguhnya yang paling bertanggung jawab atas jumlah dan meluasnya kebakaran hutan di Indonesia;
  • Konsesi perusahaan kayu (timber concessions). Adanya kebijakan pemerintah dan prosedur de facto yang cacat dalam mengalokasikan dan mengawasi konsesi kayu, serta terbuka untuk korupsi, menyebabkan penebangan yang menyebabkan dampak parah bagi ekosistem hutan, keanekaragaman hayati, dan masyarakat yang tinggal di hutan. Praktik pembalakan yang buruk mengakibatkan sejumlah besar limbah kayu yang tersisa di hutan, sangat berpotensi memicu bahaya kebakaran. Kegagalan pemerintah dan pemegang konsesi untuk melindungi hutan bekas tebangan dan sekitar jalur jalan logging yang telah digunakan, menyebabkan invasi hutan oleh pemukim pertanian yang pada akhirnya juga meningkatkan resiko kebakaran di area yang tersisa;
  • Perkebunan (tree plantations). Tahun 1990-an telah terlihat munculnya perusahaan perkebunan sebagai kekuatan paling kuat di balik maraknya konversi lahan hutan di Sumatera dan Kalimantan. Penyebabnya karena pemerintah mendukung pengembangan industri kayu pulp dan perkebunan kelapa sawit, dengan memberikan insentif seperti tanah gratis, modal bersubsidi, dan penggunaan gratis tegakan kayu. Meningkatnya permintaan domestik dan internasional untuk minyak sawit, pulp, dan kertas, ditambah dengan fakta bahwa Indonesia adalah produsen dengan biaya produksi murah dari komoditas ini, telah memberi dorongan tambahan untuk pertumbuhan industri ini, yang dibaliknya kerap didukung oleh modal dan bantuan teknis asing. Seperti halnya dengan konsesi kayu tadi, perkebunan besar telah membuat daftar panjang masalah lingkungan dan sosial, termasuk menjadi sumber terbesar dari resiko kebakaran. Perusahaan perkebunan dan kontraktor pemegang izin lahan umumnya menggunakan api hampir secara eksklusif untuk pembukaan lahan. Skala pembakaran terus meningkat setiap tahun selama dekade 1990-an. Pembakaran lahan tersebut menciptakan kabut selama setiap musim kemarau. Selama kekeringan tahun 1997, kebakaran melebar dari wilayah  hutan ke wilayah rawa gambut, dan tanaman produksi, yang mengakibatkan terjadinya kebakaran di jutaan hektar lahan, dan menyebabkan meluasnya penyebaran kabut asap;
  • Penduduk. Masyarakat yang tinggal di dalam atau sekitar hutan adalah termasuk pihak yang mengeksploitasi hutan dan sekaligus menjadi korban dari eksploitasi untuk tujuan komersial. Paradoks di sini adalah dari sebelumnya merupakan daerah terpencil berubah menjadi daerah yang bisa diakses oleh manusia berikut sarana dan insentif untuk mengeksploitasi hutan secara tidak berkelanjutan. Individu petani bertanggung jawab atas hampir setengah dari area yang terbakar di provinsi Sumatera Selatan pada tahun 1997, karena mereka menggunakan api untuk membersihkan lahan dan membakar limbah pertanian. Masyarakat adat dan pendatang baru sama-sama menjadi korban ketika datang aktor/agen kuat pelaku eksploitasi seperti pemegang konsesi kayu dan perkebunan yang mengambil alih tanah hutan dan sumber daya yang sebelumnya menjadi tempat bergantung penduduk di dalam dan sekitar hutan.

Dari paparan tadi,  Schweithelm dan Glover menyimpulkan bahwa kebakaran di hutan hujan di Indonesia jarang terjadi dalam kondisi tidak terganggu, tetapi tidak berarti belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan sebelum adanya permukiman manusia di hutan. Namun tindakan manusialah yang telah sangat meningkatkan bahaya dan resiko kebakaran selama tiga dekade terakhir. Tahun 1997/98 kebakaran hutan yang besar terjadi terutama akibat pengelolaan hutan yang buruk dan pengendalian kebakaran yang lemah.

Dampak
Dampak dari kebakaran hutan 1997/98 di Indonesia dapat dibagi ke dalam kategori di bawah ini:
  • Dampak langsung, berupa kerusakan langsung yang disebabkan oleh api, seperti habis/rusaknya vegetasi alami atau tanaman pertanian dan membunuh binatang;
  • Dampak jangka pendek langsung, yaitu dampak yang dihasilkan dari kerusakan vegetasi, seperti satwa liar yang mati akibat hilangnya makanan dan habitat mereka, kerugian manusia akibat berkurangnya makanan dari hutan dan pendapatan, erosi tanah yang lebih cepat, sedimentasi di sungai atau badan air, penurunan fungsi hyrological huta , dan gangguan siklus hara. Asap dan kabut penyebab penyakit manusia yang akut, mengganggu pariwisata, transportasi, dan bisnis, mengurangi kenikmatan hidup, berkontribusi terhadap peningkatan produksi ozon, hujan asam, dan gas rumah kaca, serta mengurangi fotosintesis pada tumbuhan;
  • Dampak jangka panjang langsung, di mana dampak ini lebih sulit untuk didokumentasikan dan dikaitkan dengan kebakaran, dibandingkan dua kategori dampak sebelumnya. Termasuk efek kesehatan yang mungkin bersifat jangka panjang pada manusia akibat paparan asap dan kabut dari kebakaran. Dampak lain seperti adanya perubahan komposisi spesies atau proses ekologi yang berlangsung selama beberapa dekade atau abad;
  • Dampak kumulatif, yaitu dampak jangka panjang perubahan ekologi yang dihasilkan dari serangkaian kebakaran besar yang terjadi pada interval pendek seperti di Indonesia selama dua dekade terakhir. Masing-masing ataupun dikombinasikan dengan faktor gangguan lain seperti konversi hutan, efek kumulatif dari kebakaran berurutan dapat menyebabkan kepunahan dan perubahan komposisi jenis hutan dan struktur vegetasi yang tidak dapat dipulihkan.

-----
Sumber:
  • David Glover and Timothy Jessup (ed.) (1999, reprint 2006). Indonesia’s fires and haze : the cost of catastrophe. Institute of Southeast Asian Studies, Singapore.




Minggu, 16 Agustus 2015

"Ismail Kadare, Piramid dan Kekuasaan yang Despotik"


Candra Kusuma


Ismail Kadare dalam novelnya yang berjudul Piramid (2011) mengisahkan bagaimana pada satu saat ribuan tahun lalu, istana Mesir dilanda kegemparan yang sangat ketika Firaun yang baru, Cheops, memutuskan tak ingin lagi membangun piramid sebagaimana telah dilakukan dan menjadi tradisi leluhurnya. Keluarga kerajaan dan para petinggi istana kaget, dan sekaligus amat sangat cemas. Bagi mereka, piramid adalah satu hal yang sudah dibuat, dan selamanya harus terus dibuat, karena sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan bangsa Mesir sejak ribuan tahun.

Tak ada cara --dan tak ada yang berani pula mencoba-- untuk memaksa Cheops, karena sebagai Firaun, dia adalah sang penguasa tunggal yang punya kuasa menentukan hidup dan mati siapapun yang diinginkannya. Salah bicara, atau sekedar dianggap menghina, maka penjara atau kehilangan nyawa yang jadi taruhannya.

Sebagian dari para elit istana kemudian berupaya keras mencari cara dan argumentasi untuk meyakinkan Cheops mengenai “nilai historis dan strategis” dari piramid bagi Mesir. Mereka menggali informasi tentang piramid  dari papirus-papirus lama. Ternyata isinya lebih banyak tentang cara, alat, bahan, tenaga kerja, biaya maupun tetek bengek lain mengenai pembangunan sebuah piramid. Namun tak ada yang menjelaskan nalar rahasia akan keberadaan piramid itu sendiri: “untuk apa sesungguhnya –dibalik semua alasan resmi dan normatif— alasan dan tujuan dari pembangunan piramid-piramid tersebut.”

Setelah mempelajari lagi dengan seksama sejarah Mesir sejak pembangunan piramid pertama di masa Firaun Zoser, dilanjut dengan diskusi dan debat panjang mengenai “apa tujuan dan kegunaan tersebunyi” dibalik pembangunan piramid-piramid itu, akhirnya mereka sampai pada satu kesadaran. Namun, ternyata kesadaran tersebut justru sulit untuk mereka bicarakan diantara mereka sendiri, meskipun hal itu sesungguhnya sudah mereka masing-masing pahami sebelumnya, bahkan tanpa harus membuka satu lembarpun papirus-papirus lama tersebut. Sampai akhirnya tiba saatnya bagi mereka –dengan dipimpin oleh Pendeta Tinggi Hemiunu-- untuk mempresentasikan hasil kajian tentang pentingnya piramid ke hadapan Cheops sang Firaun.

Ternyata, meskipun secara fisik  --dan pemahaman awam menganggap bahwa-- piramid adalah sebuah tempat pemakaman yang menakjubkan bagi Firaun dan keluarganya, namun gagasan awal pembangunannya ribuan tahun sebelumnya sama sekali tidak berhubungan dengan urusan kematian dan makam. Gagasan pembangunan piramid ternyata dimulai dari suatu krisis. Bukan krisis akibat kemiskinan, kekeringan berkepanjangan, banjir besar Nil, dan wabah penyakit ataupun perang, namun justru krisis akibat kelimpahan. Kemakmuranlah ternyata yang telah membuat rakyat menjadi mandiri dan berpikir bebas, yang ujungnya menimbulkan pembangkangan terhadap pemerintah, dalam hal ini kekuasaan Firaun.

Para birokrat Mesir dan “Tim Konsultan Firaun” yang terdiri dari para ahli, peramal dan penasehat Firaun pada masa lalu tersebut kemudian berdebat panjang untuk menemukan cara meredam kelebihan dan kemakmuran rakyat tersebut, agar visi akan kejayaan Firaun tetap terjaga tanpa pembangkangan dari rakyatnya. Sampai akhirnya, Sobekhotep si dukun-peramal menemukan satu solusi orisinil dan jenius untuk mengatasi akar masalah tersebut. Misi yang dia ajukan untuk mengatasi kemakmuran adalah dengan “meniadakan kemakmuran itu sendiri.” Tapi bagaimana caranya? Sekali lagi para Tim Konsultan Firaun berdebat untuk menemukan strategi mengatasi kemakmuran rakyat.

Solusi jenius berikutnya konon justru muncul dari balik istana harem Firaun sendiri. Reneferef sang dayang-dayang harem, entah bagaimana berhasil membisikkan gagasannya sampai ke kalangan elit dan Tim Konsultan Firaun. Menurutnya, Mesir harus meniru apa yang telah dilakukan oleh kerajaan tetangga Mesopotamia dalam mengendalikan rakyatnya. Di sana, rakyat Mesopotamia setiap saat selalu sibuk membangun kanal-kanal raksasa, yang jika dinalar secara sederhanapun tampak tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi kerajaan dan kebutuhan bangsa dan rakyat mereka sendiri. Karenanya,  Mesir harus dapat menemukan cara yang sama untuk mengkonsumsi kelebihan energi rakyatnya. Dalam bahasa Pendeta Tinggi Hemiunu sendiri, caranya adalah:

“Dengan menyelenggarakan kerja raksasa yang melampaui batas imajinasi, yang akan memperlemah warganya, menghisap kering mereka. Pendeknya, hal yang meletihkan, hal yang menghancurkan jiwa raga, pun tanpa menghasilkan manfaat sama sekali. Atau lebih tepatnya, sebuah proyek tak bermanfaat bagi rakyat namun akan berguna bagi Negara” (hal.12)

Lantas, mega proyek macam apa yang sesuai dengan strategi tersebut? Lagi-lagi “Tim Konsultan Firaun” berdiskusi, berdebat dan menggali berbagai data dan informasi dari masa lalu maupun pengalaman bangsa dan kerajaan lain. Usulannya sangat beragam. Dari mulai membuat lubang besar tanpa dasar, tembok raksasa, air terjun buatan, dll. Namun semuanya ditolak Firaun. Dalam pandangan Hemiunu:

“Yang harus dicari adalah hal lain, sesuatu yang membuat masyarakat terus-menerus sibuk siang-malam sehingga jadi linglung. Namun, hal itu mestilah sebuah proyek yang pada dasarnya bisa diselesaikan, tanpa mencapai penyelesaian. Singkatnya, sebuah proyek yang memperbaharui dirinya terus menerus. Dan itu harus benar-benar dapat dilihat… Pusara Raksasa… Dengan segera Mesir akan mengidentifikasikan diri dengannya, dan ia juga bakal menjadi identifikasi Mesir” (hal.13)

Firaun kala itu takjub dan setuju dengan gagasan mega proyek pembangunan makam raksasa bagi keluarga istana tersebut. Para arsitek Firaun kemudian merancang sejumlah usulan bentuk kuburan raksasa, yang kemudian pilihan jatuh pada bentuk piramid. Di mana setiap Firaun akan punya piramidnya sendiri. Sehingga, meskipun rakyat belum lagi beristirahat dan pulih dari lelah dan kehebohan dalam membangun sebuah piramid, mereka sudah akan disibukkan lagi untuk membangun piramid baru bagi Firaun yang baru berkuasa pula.

Sampai disini, Pendeta Tinggi Hemiunu menutup presentasinya kepada Cheops. Kata-kata penutup dari Hemiunu-lah yang pada akhirnya dapat meyakinkan Cheops bahwa piramid itu memang “enak dilihat dan perlu” bagi kelanggengan kekuasaan Firauan di dunia, sekaligus memastikan tempat terbaik bagi Firaun di alam sana. Hermiunu, sang tokoh keagamaan terpenting di Mesir, menutup presentasinya dengan sekali lagi menekankan urgensi piramid, yang tidak saja untuk kelanggengan kekuasaan Firaun, namun juga kekuasaan para elit Mesir itu sendiri:

“Sedari mula, yang Mulia, piramid adalah kekuasaan. Ia adalah penindasan, kekuatan, kesejahteraan. Namun juga penakluk pemberontakan, penyempit pikiran, pelemah kehendak, kebosanan, dan kesia-siaan. O Firaunku, ia adalah bentaramu yang paling handal. Polisi rahasiamu. Bala tentaramu. Armadamu. Gundikmu, Makin tinggi ia, makin rapuh rakyatmu terlihat. Dan makin kecil rakyatmu, makin paduka menjulang, O Termulia, demi sepenuhnya kebesaranmu… Piramid adalah pilar penyangga kekuasaan. Jika ia terguncang, segalanya rubuh berantakan… Jadi jangan berpikir, Firaunku, untuk mengubah tradisi… Paduka bakal jatuh dan menyungkurkan kami bersamamu.” (hal.14-15)

Cheops akhirnya mengalami “pencerahan” dan menemukan “kebenaran” dari paparan “hasil kajian tentang urgensi piramid” berikut “analisis mengenai dampak politis (AMDAP)” jika tidak membangun piramid, yang telah disampaikan Pendeta Tinggi Hemiunu dan para petinggi istana lainnya. Sang Firaun pada akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan tradisi leluhurnya dengan juga mendirikan piramid baru: yang lebih tinggi, dan paling megah dari semua.

Tepat pada saat keputusan dibuat dan pertemuan di istana itu berakhir, saat itu pula penderitaan rakyat Mesir dimulai lagi. Sejarah kembali berulang, dan kekuasaan Firaun dapat terus dipertahankan.

-----

Tulisan di atas adalah “cerita ulang” saya atas bagian awal dari novel Ismail Kadare. Menurut saya itulah bagian yang paling menarik, karena menawarkan tafsir unik tentang bagaimana para tiran dan penguasa despotik serta elit sosial pendukungnya di masa lalu memandang kekuasaan sebagai kepentingan utama mereka semata, dan pelemahan kekuatan rakyat sebagai agenda terpenting untuk melanggengkan kekuasan mereka sendiri. Selain polisi rahasia dan hukuman brutal, ternyata pembangunan pun dapat dijadikan instrumen untuk mengendalikan rakyat dengan jalan mengurangi kemakmuran dan kemandirian mereka. Caranya dengan membuat rakyat sibuk dan terserap habis energinya untuk hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu, dan pada akhirnya dapat menjadi sarana efektif untuk menundukkan dan menciptakan kepatuhan rakyat pada penguasa.

Di masa sekarang, mungkin sudah tidak ada lagi penguasa despotik yang dapat semena-mena dan punya kuasa penuh atas hidup dan mati rakyatnya. Kalaupun harus menyebut satu yang tersisa, barangkali negara itu adalah Korea Utara. Namun negara-negara dengan kebijakan pembangun mereka yang secara langsung maupun tidak langsung justru berakibat memiskinkan dan melemahkan rakyatnya dapat kita jumpai di banyak tempat. Pembangunan mega proyek macam monumen, gedung pemerintahan, bandara super modern, pembangkit listrik super canggih, dam raksasa, dan banyak lainnya, selalu ibarat pedang bermata ganda: dapat menghasilkan keuntungan dan kebaikan tertentu, namun dampaknya juga dapat merugikan bagi sebagian yang lain. Mulai dari penggunaan anggaran publik yang tidak tepat guna, sampai pada penggusuran, alih fungsi lahan, pengangguran, urbanisasi, keresahan sosial, dan lainnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Mari kita sama merenungkannya…

-----
*Ismail Kadare, penulis kelahiran Albania. Akibat tekanan dari rejim otoriter Enver Hoxha, Kadare terpaksa menyelundupkan naskah-naskah novelnya untuk diterbitkan di luar negeri. Pada tahun 1990, Kadare akhirnya melarikan diri dan kemudian menetap di Perancis. Karya-karyanya dianggap telah menginspirasi perlawanan terhadap rezim otoriter Albania.
Kadare menerima sejumlah penghargaan Prix modial Cino Del Duca (1992), Man Booker International Prize (2005), dan Premios Principe de Asturias (2009). Dia juga pernah beberapa kali dinominasikan sebagai pemenang Nobel. Pada tahun 2009 diangkat menjadi anggota kehormatan Academie des Sciences Morales et Politiques di Perancis menggantikan Karl R. Popper. Novelnya yang berjudul La Pyramide diterbitkan pertama kali pada tahun 1992, dan telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa.


Sumber:
  • Ismail Kadare. (terj. Dwi Pranoto) (2011). Piramid: Sebuah Novel. Margin Kiri.


Rabu, 12 Agustus 2015

“Orang Biasa di Zaman Perang: History from Below”



Candra Kusuma

ZAMAN PERANG. Baru melihat sampul dan belum lagi membaca bukunya saja, penulis buku ini sudah memaksa saya merenung. Gambar foto yang ada di sampul bagian depannya, bagi saya sudah bercerita cukup banyak. Pada gambar itu, tampak seorang laki-laki dari bangsa kita yang mengenakan pakaian sipil dan kopiah hitam. Meskipun badannya terlihat lebih kecil dibanding orang-orang yang dihadapinya, dengan percaya diri dia berbicara sambil bertolak pinggang dihadapan sekumpulan tentara bule berseragam militer. Mungkin saja tidak ada yang kenal atau sudah tidak ada yang ingat lagi siapa lelaki kecil tersebut. Pada bagian keterangan sampul, hanya disebutkan bahwa foto itu diambil di wilayah Perkebunan Ramawati-Sukabumi, pada saat proses evakuasi TNI ke daerah republik di tahun 1948. Si laki-laki kecil itu ternyata seorang perwira TNI, dan para lawan bicaranya adalah perwira pasukan Belanda dan seorang pemantau berkebangsaan Perancis.

-----

Oleh penulisnya, Hendi Jo*, buku ini diberi judul Zaman Perang: Orang Biasa dalam Sejarah Luar Biasa. Ada 28 kisah di dalamnya. Seluruhnya merupakan hasil riset swadaya yang dilakukannya sendiri. Berbekal potongan informasi sejarah yang didapatkannya sejak kecil, Hendi mencoba melacak detil-detil kisah tersebut, baik melalui penelusuran referensi buku dan dokumen sejarah, juga dengan menggali pendapat para sejarawan dan cerita langsung dari para pelaku sejarah itu sendiri. Kisah-kisah tersebut adalah sebagian dari tulisan Hendi yang sebelumnya pernah dimuat dalam berbagai media cetak dan online, yang kemudian dipilih dan dikompilasi ulang menjadi buku ini. Kalau terkesan terlalu banyak kisah yang berasal dari Jakarta dan Jawa Barat, bisa jadi dipengaruhi oleh unsur "keswadayaan" itu tadi, mengingat penelusuran sejarah lokal di daerah-daerah lain tentunya juga memerlukan energi dan biaya yang tidak ringan.

Pada intinya, menurut Hendi, buku ini mencoba mengangkat kisah mengenai sumbangan “orang-orang biasa” di tengah peristiwa luar biasa. Hendi memang menyebut para orang kecil pelaku sejarah yang sebagian kecil muncul dalam kisah yang diangkatnya ini sebagai sekedar para “figuran” saja. Dalam sebuah diskusi tentang buku ini di Jakarta pada 29 Mei 2015 lalu, Hendi menegaskan hal tersebut. Menurutnya: “Sejarah kita dibangun oleh elit. Selama ini kita selalu mengatakan bahwa negara kita didirikan oleh Soekarno-Hatta-Syahrir-Tan Malaka. Tapi orang lupa bahwa di balik orang-orang besar itu ada orang-orang kecil yang mengabdikan diri kepada upaya pendirian bangsa ini begitu militant.”

Saya sepaham dengan Hendi. Di panggung sejarah, tampaknya hanya sutradara dan para aktor utama saja yang kemudian menjadi terkenal dan dianggap berjasa. Selebihnya hanya menjadi figuran, atau bahkan “stuntman" alias pemeran pengganti yang harus babak belur dan berdarah-darah tapi tetap dianggap sepi keberadaannya.

-----

Saya bukan ahli sejarah. Tapi setelah membaca Zaman Perang berikut pernyataan Hendi tadi, saya lantas teringat beberapa literatur yang juga mengangkat tema dan melakukan pendekatan yang kurang lebih senada dengan yang telah dilakukan Hendi ini. Diantaranya adalah sebuah  buku yang ditulis oleh Wayne Ph. Te Brake pada tahun 1998, berjudul Shaping History: Ordinary People in European Politics, 1500-1700. Lokus buku ini memang Eropa, tapi perspektif yang digunakannya menurut saya segaris dengan Zaman Perang.

Dari kajiannya mengenai  perkembangan masyarakat Eropa, Brake (1998:2) berpendapat bahwa orang-orang biasa (ordinary people) sesungguhnya pernah menjadi aktor politik yang berpengaruh, jauh sebelum diciptakannya sistem demokrasi parlementer seperti yang kita kenal saat ini. Para orang biasa tersebut menurutnya juga memiliki kemampuan untuk membentuk dan mewarnai sejarah mereka sendiri. Sejarah itu mungkin berbeda atau bahkan tidak ada dalam sejarah resmi yang ditulis oleh para pujangga dan sejarawan resmi kerajaan, negara atau gereja. Inilah yang oleh para sejarawan kemudian disebut sebagai “sejarah sosial” (social history). Dalam hal ini Brake mengutip pandangan Charles Tilly yang menyebutkan bahwa sejarah sosial adalah sejarah tentang orang-orang biasa yang terlibat dalam sejarah besar: “social history is concerned with how ordinary people actively ‘lived the big changes’ in history” (Tilly, “Retrieving European Lives,” dalam Reliving the Past: The Worlds of Social History, ed. Olivier Zunz, 1985:11).

Dalam pandangan Tilly, seluruh proses politik, diplomasi, perang, perekonomian dan kebudayaan, merupakan bentuk dari hubungan sosial (social relationships). Karenanya, social history adalah juga social relationships. Berkembangnya social history, adalah untuk menantang sejarah politik yang sebelumnya bersifat makro (skala nasional dan internasional) dan dimonopoli oleh negara (statecraft and national politics). Karenanya, pendekatan social history lahir untuk menjembatani antara pengalaman skala kecil atau individual, dengan sejarah yang bersifat makro tadi. Pendekatan yang digunakan adalah "history from below,” yaitu mengumpulkan dan mengolah sejarah kecil tadi (individual biography) menjadi semacam sejarah kolektif (collective biography) suatu masyarakat.

Setelah meneliti sejarah perkembangan Eropa, Charles Tilly dan Yves-Marie Bercé menemukan bahwa berbagai konflik dengan kekerasan dan pemberontakan adalah juga merupakan bentuk dari aspirasi politik. Sejak itu tema mengenai “aksi kolektif” atau “kekerasan kolektif” maupun kerusuhan (riot) dan “protes” menjadi kajian tersendiri yang dikembangkan oleh para pengusung aliran social history (Brake:1998:5). Tantangannya kemudian adalah pada bagaimana dapat mengumpulkan data dan merekonstruksi potongan-potongan sejarah kecil (microhistory) dari bagian peristiwa besar yang pernah terjadi. Langkah yang diambil adalah dengan memfokuskan diri pada orang-orang biasa (ordinary people) yang dipandang sebagai aktor politik juga. Selanjutnya, para peminat dan ahli sejarah aliran “social history” ini kemudian banyak mempertanyakan dan menggugat sejarah versi resmi atau yang mereka sebut sebagai "official story" tadi (Brake, 1998:4).

Saya melihat, upaya Hendi merekam "sejarah orang-orang biasa" ini sejalan dengan pendekatan Tilly tadi. Jika Tilly meneliti konflik dengan kekerasan dan pemberontakan sebagai arena ekspresi dan artikulasi politik para ordinary people di Eropa, maka Hendi memfokuskan perhatian pada peran dan kontribusi ordinary people dalam perang kemerdekaan di Indonesia.

-----

Di antara semua kisah dalam Zaman Perang, saya paling tertarik dengan riwayat Haji Prawatasari, yaitu seorang menak atau bangsawan Sunda dari Cianjur yang menjadi penentang VOC pada sekitar awal tahun 1700-an. Meskipun cakupan pemberontakan cukup luas --sampai ke sebagian kawasan Jawa Tengah saat ini--, namun nama Prawatasari sangat kurang dikenal dibandingkan Pangeran Diponegoro yang pemberontakkannya baru meletus 100 tahun lebih kemudian. Kisah lain yang juga baru buat saya adalah mengenai sosok Jenderal Moestopo yang ternyata merupakan seorang perwira tinggi tentara yang sangat nyentrik dan terkadang menimbulkan kekesalan bagi para anak buah dan atasannya.

-----

Dari kacamata pembaca buku, menurut saya, upaya Hendi mengangkat “history from below” mengenai peran para “ordinary people” sangatlah patut dihargai. Namun beberapa kisah yang muncul menurut saya agak sulit untuk sepenuhnya disebut sebagai orang-biasa saja, setidaknya karena pangkat dan kedudukannya secara strata sosial bukan termasuk rakyat kebanyakan. Contohnya antara lain kisah tentang bangsawan Cianjur bernama Prawatasari, maupun kisah Jenderal Moestopo tadi. Beberapa yang saya anggap dapat mewakili sosok orang biasa, diantaranya kisah tentang para pelaut yang membajak sebuah kapal perang Belanda bernama De Zeven Provincien. Atau kisah tentang pembantaian rakyat dan para pejuang di Takokak-Cianjur.

Namun, menurut saya, buku ini sangat penting dan menarik untuk dapat menjadi pembanding, penyeimbang atau pelengkap dari versi sejarah resmi yang dibuat oleh pemerintah dan pemegang kuasa lainnya. Membaca dan mempelajari sejarah kecil ini --petite histoire, menurut lidah Perancis--, juga dapat membantu untuk lebih mengenal dan memahami konteks sosial dan historis dari berbagai daerah di Indonesia. Bisa jadi, kita tinggal cukup lama di suatu tempat atau kerap melewati jalan dengan nama tertentu atau nama seseorang, namun sama sekali tidak tahu tentang apa, siapa serta mengapa nama-nama tersebut digunakan. Menyajikan kisah sejarah secara “ringan” tentunya diharapkan juga lebih mampu menarik perhatian masyarakat khususnya kaum muda dan anak-anak mengenai “social history” dari masyarakat dan bangsa kita sendiri. Termasuk diharapkan dapat membangkitkan kepedulian terhadap nasib para pelaku sejarah (baik yang masih hidup maupun sudah meninggal) dan situs-situs perjuangan mereka, yang tampaknya juga menjadi perhatian yang coba diberikan Hendi, sebagai bagian dari perjalanannya sebagai jurnalis sejarah.

-----

*Hendi Jo, jurnalis kelahiran Cianjur tahun 1975. Kuliah di FISIP Unas –Jakarta, dan pernah bekerja di sejumlah LSM dan media cetak/online. Sejak 2008 menjadi jurnalis lepas, dengan fokus pada penelusuran dan penulisan sejarah, politik, sosial dan keagamaan di sejumlah media. Hendi juga merupakan pendiri dan pengelola situs Arsip Indonesia ( www.arsipindonesia.com ).

------
Sumber:
  •  Hendi Jo (2015). Zaman Perang:Orang Biasa dalam Sejarah Luar Biasa. MataPadi Pressindo.
  •  Wayne Ph. Te Brake (1998). Shaping History : Ordinary People in European Politics, 1500-1700.  University of California Press.
  • Charles Tilly (1985). “Retrieving European Lives,” dalam Reliving the Past: The Worlds of Social History, ed. Olivier Zunz, University of North Carolina Press.
  • “Sejarah Orang Kecil, Pilar Bangsa Yang Besar,”  http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/sejarah-orang-kecil-pilar-bangsa-yang-besar/


Selasa, 11 Agustus 2015

“Alwi Shahab Punye Cerite…”



Candra Kusuma

Bisa jadi, bukan tanpa alasan Alwi Shahab memilih judul buku ini Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia. Karena menurut Abah Alwi –demikian dia kerap dipanggil-- riwayah penamaan Batavia memang demikianlah adanya. Pada bagian tulisan berjudul “Jenderal Coen, Batavia dan Belanda Mabuk,”  dikisahkannya bahwa:

“Ketika Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen menaklukkan Jayakarta pada Mei 1619, dia ingin menamakan kota yang baru dibangun dari reruntuhan puing-puing di Sunda Kelapa ini dengan nama De Hoorn, sebuah kota kelahirannya yang terletak di salah satu provinsi di Noord Holland (Belanda Utara). Yang merupakan kawasan nelayan. Tetapi, belum sempat dia menamakannya, tiba-tiba dalam sebuah pesta kemenangan ada seorang soldadu VOC yang tengah mabuk meneriakkan kata-kata "Batavia…Batavia…” Entah bagaimana prosesnya, akhirnya kota yang terletak di muara Sungai Ciliwung dan sekitarnya itu akhirnya bernama Batavia.” (hal.19-20)

Konon, --menurut Abah Alwi-- Jenderal Coen tidak ingin kota itu dinamakan Batavia, dan tetap ingin bernama De Hoorn. Tapi apa daya, ternyata para bos besar VOC di Netherland sana lebih suka nama Batavia dibandingkan usulan nama dari Coen. Sampai-sampai, selama beberapa waktu Coen tidak ingin menyebut nama kota itu sama sekali.

Ada 71 tulisan pendek dalam buku tersebut. Beragam kisahnya, diantaranya tentang pesta pelantikan Gubernur Jenderal VOC, keberadaan ‘wanita publik’ (semacam pekerja seks komersial sekarang), penggunaan gas sebagai sumber penerangan, pengoperasian trem, kehidupan masyarakat Cina, gedung Harmoni, Nyai Dasima, dll. Saya sendiri senang sekali membaca bagian tentang Meester Cornelis, Jatinegara dan Matraman, karena memang lahir dan sempat tinggal beberapa lama di kawasan tersebut.

Sebagai wartawan, Abah Alwi kabarnya tidak sekedar mengandalkan sumber-sumber sekunder dari dokumen atau buku tentang Batavia/Jakarta. Dia juga rajin mendatangi nara sumber dan tempat-tempat yang mejadi bahan tulisannya. Selain itu, Abah Alwi juga selalu berupaya mengkontekskan kisah-kisah tempo doeloe itu dengan perkembangan yang ada dan kondisi kekinian, berikut kisah unik, tragis maupun lucu di dalamnya. Foto atau ilustrasi yang ditampilkan juga cukup membantu memberi gambaran tersebut. Dengan itu pembaca dapat membayangkan lokasi, pelaku dan bumbu-bumbu peristiwa yang terjadi di masa lalu dengan lebih mudah dan mengasyikan untuk dibaca.

Menurut saya buku ini dan karya Abah Alwi lainnya sangat penting. Tidak saja bagi warga Jakarta, namun juga bagi semua orang yang ingin mengetahui sejarah Batavia/Jakarta, baik sebagai ibukota negara maupun sebagai pusat pemerintahan VOC dan kolonialis Belanda selama ratusan tahun di Nusantara.

------
*Alwi Shahab, seorang wartawan senior kelahiran Jakarta tahun 1936. Pernah bekerja selama 30 tahun di Kantor Berita Antara (1963-1993). Sejak 1993 bekerja di H.U. Republika, mengasuh rubrik Sketsa Jakarta dan Nostalgia, yang mengangkat persoa;an Kota Jakarta dan kisah-kisah tempo dulunya. Selain artikel, Abah Alwi juga menulis sejumlah buku, diantaranya: buku, 2001  Alwi Shahab mengeluarkan buku Robin Hood Betawi (2001); Betawi: Queen of the East (2002); Saudagar Baghdad dari Betawi (2004); Oey Tambahsia Playboy Betawi (2007).

Sumber:
  • Alwi Shahab  (2013). Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia. BUKU REPUBLIKA.

Senin, 10 Agustus 2015

"Kisah Kapten Woodes Rogers di Batavia Abad-18"



Candra Kusuma



“Kapten Woodes Rogers tercengang melihat Batavia yang dinilainya sebagai salah satu kota paling menyenangkan di seluruh dunia! Kota itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeck. Di dalam benteng kokoh yang mengelilingi Batavia, tampak bangunan-bangunan yang rapi; lingkungannya asri dengan berbagai pohon buah, bebungaan, air mancur dan patung-patung hias…” 

Demikian dikisahkan oleh Frieda Amran* dalam buku tipis karangannya yang berjudul “Batavia: Kisah Kapten Woodes Rogers & Dr. Strehler” (2012). Menurut Frieda, Kapten Rogers kagum dengan fasilitas kesehatan, pendidikan, sosial, keagamaan, perbentengan dan kanal-kanalnya yang dibangun VOC di Batavia. Sang Kapten juga terpukau dengan  kehidupan sosial bangsa Belanda di tanah jajahannya ini, termasuk tingkah polah kaum perempuan Belanda yang menurutnya memiliki kebebasan yang jauh lebih besar daripada di tempat lain, bahkan di negeri mereka sendiri.

Kebetulan, saya juga dapat membaca cepat buku yang menjadi referensi Frieda Amran menulis kisah Kapten Rogers tadi. Buku itu berjudul “Pirate Hunter of The Caribian: The Adventurous Life of Captain Woodes Rogers,” yang ditulis oleh David Cordingly** dan terbit pada 2011 lalu. Cordingly sendiri menyusunnya dari catatan harian Kapten Rogers selama petualangannya memimpin armada Inggris.

-----

Saat datang ke Batavia, armada Kapten Rogers terdiri dari empat kapal, yakni The Duke, The Duchess, The Marquis dan kapal hasil rampasan dari armada Spanyol yang kemudian oleh Kapten Rogers diberi nama baru The Batchelor Frigate. Armada ini masuk ke Batavia tanggal 22 Juni 1710 untuk mengisi persediaan dan memperbaiki kerusakan kapal di galangan kapal VOC di Pulau Onrust (bagian Kepulauan Seribu di Utara Jakarta sekarang ini). Sekitar empat bulan mereka melepas sauh di Batavia. Pada 24 Oktober 1710 mereka kembali ke Inggris dengan tiga kapal saja, karena kerusakan The Marquis terlalu parah dan tidak dapat diperbaiki.

Kapten Roger adalah sosok terkenal di Inggris pada masanya. Dia adalah pimpinan armada Inggris yang bertugas menyerang kapal-kapal Spanyol di Samudera Pasifik yang menjadi pesaing dagang Inggris, dan sekaligus menumpas para perompak laut di kawasan Karibia, Jamaika, Bahama, dan daerah lainnya di Amerika Tengah dan Selatan saat ini, serta tentu saja berwenang merampas harta jarahan dari musuh-musuhnya untuk Kerajaan Inggris.

Dalam buku Cordingly yang kemudian dikutip Frieda, disebutkan bahwa “kesuksesan“ besar Kapten Rogers adalah ketika berhasil merebut kapal pengangkut harta bernama Manila Galleon dari armada kapal Spanyol yang tengah menuju Eropa dan membawa hasil jarahan dari Kerajaan Aztek pada tahun 1709. Diperkirakan, Rogers berhasil membawa pulang harta rampokan dari hasil jarahan Spanyol yang berupa patung dan biji emas serta perak dari Amerika Selatan, maupun barang eksotis dari Timur berupa sutera, rempah-rempah, porselin, dll., pada saat itu nilainya sekitar 200 ribu poundsterling, atau kurnag lebih Rp 240 milyar saat ini.

-----

Selain sebagai kapten kapal pembasmi bajak laut, dia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Bahama (Royal Governor of the Bahamas) yang pertama pada tahun 1718. Buat para gamer, sosok Woodes Rogers mungkin juga tidak terlalu asing. Setting kepemimpinannya di Bahama ini kemudian juga menjadi salah satu karakter dalam games dan novel yang cukup populer, yaitu “Assassin’s Creed,” khususnya pada episode “Black Flag.”

“Sumbangan” lain dari petualangan sang Kapten adalah diangkatnya kisah penyelamatan sorang pelaut bernama Alexander Selkirk oleh kru Rogers, yang kemudian menjadi inspirasi bagi Daniel Defoe --seorang pengarang Inggris-- dalam menulis sebuah kisah terkenal yang saat ini sudah menjadi novel klasik berjudul “Robinson Crusoe.”

-----

Buat saya, kisah Kapten Rogers di buku Frieda rasanya terlalu ringkas. Kisah tersebut hanya merupakan satu dari 10 tulisan lainnya yang lebih banyak berkisah tentang pengalaman Dokter Strehler, yaitu seorang dokter berkebangsaan Jerman yang bekerja sebagai tenaga medis di sebuah kapal Belanda yang bolak-balik antara Belanda dan Tropisch Nederland (Hindia Belanda). Namun buku Frieda Amran ini menurut saya cukup memberi informasi yang menarik mengenai kehidupan pada pelaut penjelajah dan kehidupan kaum kolonial dan masyarakat di Batavia di abad ke 17-18.

-----

Cuma saya membayangkan, kalau Kapten Rogers masih hidup saat ini dan datang kembali ke "Batavia Baru" alias Jakarta sekarang, bisa jadi dia batal melepas sauh dan memilih meneruskan perjalanan saja karena merasa sumpek melihat kondisi Jakarta saat ini.

-------
*Frieda Agnani Amran, lulusan Antropologi-Universitas Indonesia dan pernah kuliah di Rijksuniversiteit Leiden-Belanda. Kemampuannya memahami bahasa Belanda membantunya mengakses dokumen dan buku-buku lama khususnya yang berkenaan dengan masa penjajahan di Indonesia. Dia menjadi penulis artikel mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat Sumatera Selatan di rubrik “Tempo Doeloe” pada Harian Berita Pagi di Palembang, dan mengenai masyarakat Batavia di haran Warta Kota pada rubrik “Wisata Kota Toea.” Dia juga merupakan seorang penulis punisi yang produktif.
**David Cordingly adalah doktor lulusan  University of Sussex, dan pernah menjadi staff di the National Maritime Museum in Greenwich, Inggris. Dia menulis beberapa buku lain tentang bajak laut, yakni: “Cochrane the Dauntless: The Life and Adventures of Thomas Cochrane 1775-1860” (2007); “Pirate: Fact and Fiction” (xxxx); “Under the Black Flag: The Romance and Reality of Life Among the Pirates” (2006).

Sumber:
  • Frieda Amran (2012). Batavia: Kisah Kapten Woodes Rogers & Dr. Strehler.  Penerbit Buku KOMPAS.
  • David Cordingly (2011). Pirate Hunter of The Caribian: The Adventurous Life of Captain Woodes Rogers. Random House Publishing.
  • Oliver Bowden (2013). Assassin’s Creed: Black Flag. Penguin.