Baca

Baca

Minggu, 16 Agustus 2015

"Ismail Kadare, Piramid dan Kekuasaan yang Despotik"


Candra Kusuma


Ismail Kadare dalam novelnya yang berjudul Piramid (2011) mengisahkan bagaimana pada satu saat ribuan tahun lalu, istana Mesir dilanda kegemparan yang sangat ketika Firaun yang baru, Cheops, memutuskan tak ingin lagi membangun piramid sebagaimana telah dilakukan dan menjadi tradisi leluhurnya. Keluarga kerajaan dan para petinggi istana kaget, dan sekaligus amat sangat cemas. Bagi mereka, piramid adalah satu hal yang sudah dibuat, dan selamanya harus terus dibuat, karena sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan bangsa Mesir sejak ribuan tahun.

Tak ada cara --dan tak ada yang berani pula mencoba-- untuk memaksa Cheops, karena sebagai Firaun, dia adalah sang penguasa tunggal yang punya kuasa menentukan hidup dan mati siapapun yang diinginkannya. Salah bicara, atau sekedar dianggap menghina, maka penjara atau kehilangan nyawa yang jadi taruhannya.

Sebagian dari para elit istana kemudian berupaya keras mencari cara dan argumentasi untuk meyakinkan Cheops mengenai “nilai historis dan strategis” dari piramid bagi Mesir. Mereka menggali informasi tentang piramid  dari papirus-papirus lama. Ternyata isinya lebih banyak tentang cara, alat, bahan, tenaga kerja, biaya maupun tetek bengek lain mengenai pembangunan sebuah piramid. Namun tak ada yang menjelaskan nalar rahasia akan keberadaan piramid itu sendiri: “untuk apa sesungguhnya –dibalik semua alasan resmi dan normatif— alasan dan tujuan dari pembangunan piramid-piramid tersebut.”

Setelah mempelajari lagi dengan seksama sejarah Mesir sejak pembangunan piramid pertama di masa Firaun Zoser, dilanjut dengan diskusi dan debat panjang mengenai “apa tujuan dan kegunaan tersebunyi” dibalik pembangunan piramid-piramid itu, akhirnya mereka sampai pada satu kesadaran. Namun, ternyata kesadaran tersebut justru sulit untuk mereka bicarakan diantara mereka sendiri, meskipun hal itu sesungguhnya sudah mereka masing-masing pahami sebelumnya, bahkan tanpa harus membuka satu lembarpun papirus-papirus lama tersebut. Sampai akhirnya tiba saatnya bagi mereka –dengan dipimpin oleh Pendeta Tinggi Hemiunu-- untuk mempresentasikan hasil kajian tentang pentingnya piramid ke hadapan Cheops sang Firaun.

Ternyata, meskipun secara fisik  --dan pemahaman awam menganggap bahwa-- piramid adalah sebuah tempat pemakaman yang menakjubkan bagi Firaun dan keluarganya, namun gagasan awal pembangunannya ribuan tahun sebelumnya sama sekali tidak berhubungan dengan urusan kematian dan makam. Gagasan pembangunan piramid ternyata dimulai dari suatu krisis. Bukan krisis akibat kemiskinan, kekeringan berkepanjangan, banjir besar Nil, dan wabah penyakit ataupun perang, namun justru krisis akibat kelimpahan. Kemakmuranlah ternyata yang telah membuat rakyat menjadi mandiri dan berpikir bebas, yang ujungnya menimbulkan pembangkangan terhadap pemerintah, dalam hal ini kekuasaan Firaun.

Para birokrat Mesir dan “Tim Konsultan Firaun” yang terdiri dari para ahli, peramal dan penasehat Firaun pada masa lalu tersebut kemudian berdebat panjang untuk menemukan cara meredam kelebihan dan kemakmuran rakyat tersebut, agar visi akan kejayaan Firaun tetap terjaga tanpa pembangkangan dari rakyatnya. Sampai akhirnya, Sobekhotep si dukun-peramal menemukan satu solusi orisinil dan jenius untuk mengatasi akar masalah tersebut. Misi yang dia ajukan untuk mengatasi kemakmuran adalah dengan “meniadakan kemakmuran itu sendiri.” Tapi bagaimana caranya? Sekali lagi para Tim Konsultan Firaun berdebat untuk menemukan strategi mengatasi kemakmuran rakyat.

Solusi jenius berikutnya konon justru muncul dari balik istana harem Firaun sendiri. Reneferef sang dayang-dayang harem, entah bagaimana berhasil membisikkan gagasannya sampai ke kalangan elit dan Tim Konsultan Firaun. Menurutnya, Mesir harus meniru apa yang telah dilakukan oleh kerajaan tetangga Mesopotamia dalam mengendalikan rakyatnya. Di sana, rakyat Mesopotamia setiap saat selalu sibuk membangun kanal-kanal raksasa, yang jika dinalar secara sederhanapun tampak tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi kerajaan dan kebutuhan bangsa dan rakyat mereka sendiri. Karenanya,  Mesir harus dapat menemukan cara yang sama untuk mengkonsumsi kelebihan energi rakyatnya. Dalam bahasa Pendeta Tinggi Hemiunu sendiri, caranya adalah:

“Dengan menyelenggarakan kerja raksasa yang melampaui batas imajinasi, yang akan memperlemah warganya, menghisap kering mereka. Pendeknya, hal yang meletihkan, hal yang menghancurkan jiwa raga, pun tanpa menghasilkan manfaat sama sekali. Atau lebih tepatnya, sebuah proyek tak bermanfaat bagi rakyat namun akan berguna bagi Negara” (hal.12)

Lantas, mega proyek macam apa yang sesuai dengan strategi tersebut? Lagi-lagi “Tim Konsultan Firaun” berdiskusi, berdebat dan menggali berbagai data dan informasi dari masa lalu maupun pengalaman bangsa dan kerajaan lain. Usulannya sangat beragam. Dari mulai membuat lubang besar tanpa dasar, tembok raksasa, air terjun buatan, dll. Namun semuanya ditolak Firaun. Dalam pandangan Hemiunu:

“Yang harus dicari adalah hal lain, sesuatu yang membuat masyarakat terus-menerus sibuk siang-malam sehingga jadi linglung. Namun, hal itu mestilah sebuah proyek yang pada dasarnya bisa diselesaikan, tanpa mencapai penyelesaian. Singkatnya, sebuah proyek yang memperbaharui dirinya terus menerus. Dan itu harus benar-benar dapat dilihat… Pusara Raksasa… Dengan segera Mesir akan mengidentifikasikan diri dengannya, dan ia juga bakal menjadi identifikasi Mesir” (hal.13)

Firaun kala itu takjub dan setuju dengan gagasan mega proyek pembangunan makam raksasa bagi keluarga istana tersebut. Para arsitek Firaun kemudian merancang sejumlah usulan bentuk kuburan raksasa, yang kemudian pilihan jatuh pada bentuk piramid. Di mana setiap Firaun akan punya piramidnya sendiri. Sehingga, meskipun rakyat belum lagi beristirahat dan pulih dari lelah dan kehebohan dalam membangun sebuah piramid, mereka sudah akan disibukkan lagi untuk membangun piramid baru bagi Firaun yang baru berkuasa pula.

Sampai disini, Pendeta Tinggi Hemiunu menutup presentasinya kepada Cheops. Kata-kata penutup dari Hemiunu-lah yang pada akhirnya dapat meyakinkan Cheops bahwa piramid itu memang “enak dilihat dan perlu” bagi kelanggengan kekuasaan Firauan di dunia, sekaligus memastikan tempat terbaik bagi Firaun di alam sana. Hermiunu, sang tokoh keagamaan terpenting di Mesir, menutup presentasinya dengan sekali lagi menekankan urgensi piramid, yang tidak saja untuk kelanggengan kekuasaan Firaun, namun juga kekuasaan para elit Mesir itu sendiri:

“Sedari mula, yang Mulia, piramid adalah kekuasaan. Ia adalah penindasan, kekuatan, kesejahteraan. Namun juga penakluk pemberontakan, penyempit pikiran, pelemah kehendak, kebosanan, dan kesia-siaan. O Firaunku, ia adalah bentaramu yang paling handal. Polisi rahasiamu. Bala tentaramu. Armadamu. Gundikmu, Makin tinggi ia, makin rapuh rakyatmu terlihat. Dan makin kecil rakyatmu, makin paduka menjulang, O Termulia, demi sepenuhnya kebesaranmu… Piramid adalah pilar penyangga kekuasaan. Jika ia terguncang, segalanya rubuh berantakan… Jadi jangan berpikir, Firaunku, untuk mengubah tradisi… Paduka bakal jatuh dan menyungkurkan kami bersamamu.” (hal.14-15)

Cheops akhirnya mengalami “pencerahan” dan menemukan “kebenaran” dari paparan “hasil kajian tentang urgensi piramid” berikut “analisis mengenai dampak politis (AMDAP)” jika tidak membangun piramid, yang telah disampaikan Pendeta Tinggi Hemiunu dan para petinggi istana lainnya. Sang Firaun pada akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan tradisi leluhurnya dengan juga mendirikan piramid baru: yang lebih tinggi, dan paling megah dari semua.

Tepat pada saat keputusan dibuat dan pertemuan di istana itu berakhir, saat itu pula penderitaan rakyat Mesir dimulai lagi. Sejarah kembali berulang, dan kekuasaan Firaun dapat terus dipertahankan.

-----

Tulisan di atas adalah “cerita ulang” saya atas bagian awal dari novel Ismail Kadare. Menurut saya itulah bagian yang paling menarik, karena menawarkan tafsir unik tentang bagaimana para tiran dan penguasa despotik serta elit sosial pendukungnya di masa lalu memandang kekuasaan sebagai kepentingan utama mereka semata, dan pelemahan kekuatan rakyat sebagai agenda terpenting untuk melanggengkan kekuasan mereka sendiri. Selain polisi rahasia dan hukuman brutal, ternyata pembangunan pun dapat dijadikan instrumen untuk mengendalikan rakyat dengan jalan mengurangi kemakmuran dan kemandirian mereka. Caranya dengan membuat rakyat sibuk dan terserap habis energinya untuk hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu, dan pada akhirnya dapat menjadi sarana efektif untuk menundukkan dan menciptakan kepatuhan rakyat pada penguasa.

Di masa sekarang, mungkin sudah tidak ada lagi penguasa despotik yang dapat semena-mena dan punya kuasa penuh atas hidup dan mati rakyatnya. Kalaupun harus menyebut satu yang tersisa, barangkali negara itu adalah Korea Utara. Namun negara-negara dengan kebijakan pembangun mereka yang secara langsung maupun tidak langsung justru berakibat memiskinkan dan melemahkan rakyatnya dapat kita jumpai di banyak tempat. Pembangunan mega proyek macam monumen, gedung pemerintahan, bandara super modern, pembangkit listrik super canggih, dam raksasa, dan banyak lainnya, selalu ibarat pedang bermata ganda: dapat menghasilkan keuntungan dan kebaikan tertentu, namun dampaknya juga dapat merugikan bagi sebagian yang lain. Mulai dari penggunaan anggaran publik yang tidak tepat guna, sampai pada penggusuran, alih fungsi lahan, pengangguran, urbanisasi, keresahan sosial, dan lainnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Mari kita sama merenungkannya…

-----
*Ismail Kadare, penulis kelahiran Albania. Akibat tekanan dari rejim otoriter Enver Hoxha, Kadare terpaksa menyelundupkan naskah-naskah novelnya untuk diterbitkan di luar negeri. Pada tahun 1990, Kadare akhirnya melarikan diri dan kemudian menetap di Perancis. Karya-karyanya dianggap telah menginspirasi perlawanan terhadap rezim otoriter Albania.
Kadare menerima sejumlah penghargaan Prix modial Cino Del Duca (1992), Man Booker International Prize (2005), dan Premios Principe de Asturias (2009). Dia juga pernah beberapa kali dinominasikan sebagai pemenang Nobel. Pada tahun 2009 diangkat menjadi anggota kehormatan Academie des Sciences Morales et Politiques di Perancis menggantikan Karl R. Popper. Novelnya yang berjudul La Pyramide diterbitkan pertama kali pada tahun 1992, dan telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa.


Sumber:
  • Ismail Kadare. (terj. Dwi Pranoto) (2011). Piramid: Sebuah Novel. Margin Kiri.


Rabu, 12 Agustus 2015

“Orang Biasa di Zaman Perang: History from Below”



Candra Kusuma

ZAMAN PERANG. Baru melihat sampul dan belum lagi membaca bukunya saja, penulis buku ini sudah memaksa saya merenung. Gambar foto yang ada di sampul bagian depannya, bagi saya sudah bercerita cukup banyak. Pada gambar itu, tampak seorang laki-laki dari bangsa kita yang mengenakan pakaian sipil dan kopiah hitam. Meskipun badannya terlihat lebih kecil dibanding orang-orang yang dihadapinya, dengan percaya diri dia berbicara sambil bertolak pinggang dihadapan sekumpulan tentara bule berseragam militer. Mungkin saja tidak ada yang kenal atau sudah tidak ada yang ingat lagi siapa lelaki kecil tersebut. Pada bagian keterangan sampul, hanya disebutkan bahwa foto itu diambil di wilayah Perkebunan Ramawati-Sukabumi, pada saat proses evakuasi TNI ke daerah republik di tahun 1948. Si laki-laki kecil itu ternyata seorang perwira TNI, dan para lawan bicaranya adalah perwira pasukan Belanda dan seorang pemantau berkebangsaan Perancis.

-----

Oleh penulisnya, Hendi Jo*, buku ini diberi judul Zaman Perang: Orang Biasa dalam Sejarah Luar Biasa. Ada 28 kisah di dalamnya. Seluruhnya merupakan hasil riset swadaya yang dilakukannya sendiri. Berbekal potongan informasi sejarah yang didapatkannya sejak kecil, Hendi mencoba melacak detil-detil kisah tersebut, baik melalui penelusuran referensi buku dan dokumen sejarah, juga dengan menggali pendapat para sejarawan dan cerita langsung dari para pelaku sejarah itu sendiri. Kisah-kisah tersebut adalah sebagian dari tulisan Hendi yang sebelumnya pernah dimuat dalam berbagai media cetak dan online, yang kemudian dipilih dan dikompilasi ulang menjadi buku ini. Kalau terkesan terlalu banyak kisah yang berasal dari Jakarta dan Jawa Barat, bisa jadi dipengaruhi oleh unsur "keswadayaan" itu tadi, mengingat penelusuran sejarah lokal di daerah-daerah lain tentunya juga memerlukan energi dan biaya yang tidak ringan.

Pada intinya, menurut Hendi, buku ini mencoba mengangkat kisah mengenai sumbangan “orang-orang biasa” di tengah peristiwa luar biasa. Hendi memang menyebut para orang kecil pelaku sejarah yang sebagian kecil muncul dalam kisah yang diangkatnya ini sebagai sekedar para “figuran” saja. Dalam sebuah diskusi tentang buku ini di Jakarta pada 29 Mei 2015 lalu, Hendi menegaskan hal tersebut. Menurutnya: Sejarah kita dibangun oleh elit. Selama ini kita selalu mengatakan bahwa negara kita didirikan oleh Soekarno-Hatta-Syahrir-Tan Malaka. Tapi orang lupa bahwa di balik orang-orang besar itu ada orang-orang kecil yang mengabdikan diri kepada upaya pendirian bangsa ini begitu militant.”

Saya sepaham dengan Hendi. Di panggung sejarah, tampaknya hanya sutradara dan para aktor utama saja yang kemudian menjadi terkenal dan dianggap berjasa. Selebihnya hanya menjadi figuran, atau bahkan “stuntman" alias pemeran pengganti yang harus babak belur dan berdarah-darah tapi tetap dianggap sepi keberadaannya.

-----

Saya bukan ahli sejarah. Tapi setelah membaca Zaman Perang berikut pernyataan Hendi tadi, saya lantas teringat beberapa literatur yang juga mengangkat tema dan melakukan pendekatan yang kurang lebih senada dengan yang telah dilakukan Hendi ini. Diantaranya adalah sebuah  buku yang ditulis oleh Wayne Ph. Te Brake pada tahun 1998, berjudul Shaping History: Ordinary People in European Politics, 1500-1700. Lokus buku ini memang Eropa, tapi perspektif yang digunakannya menurut saya segaris dengan Zaman Perang.

Dari kajiannya mengenai  perkembangan masyarakat Eropa, Brake (1998:2) berpendapat bahwa orang-orang biasa (ordinary people) sesungguhnya pernah menjadi aktor politik yang berpengaruh, jauh sebelum diciptakannya sistem demokrasi parlementer seperti yang kita kenal saat ini. Para orang biasa tersebut menurutnya juga memiliki kemampuan untuk membentuk dan mewarnai sejarah mereka sendiri. Sejarah itu mungkin berbeda atau bahkan tidak ada dalam sejarah resmi yang ditulis oleh para pujangga dan sejarawan resmi kerajaan, negara atau gereja. Inilah yang oleh para sejarawan kemudian disebut sebagai “sejarah sosial” (social history). Dalam hal ini Brake mengutip pandangan Charles Tilly yang menyebutkan bahwa sejarah sosial adalah sejarah tentang orang-orang biasa yang terlibat dalam sejarah besar: “social history is concerned with how ordinary people actively ‘lived the big changes’ in history” (Tilly, “Retrieving European Lives,” dalam Reliving the Past: The Worlds of Social History, ed. Olivier Zunz, 1985:11).

Dalam pandangan Tilly, seluruh proses politik, diplomasi, perang, perekonomian dan kebudayaan, merupakan bentuk dari hubungan sosial (social relationships). Karenanya, social history adalah juga social relationships. Berkembangnya social history, adalah untuk menantang sejarah politik yang sebelumnya bersifat makro (skala nasional dan internasional) dan dimonopoli oleh negara (statecraft and national politics). Karenanya, pendekatan social history lahir untuk menjembatani antara pengalaman skala kecil atau individual, dengan sejarah yang bersifat makro tadi. Pendekatan yang digunakan adalah "history from below,” yaitu mengumpulkan dan mengolah sejarah kecil tadi (individual biography) menjadi semacam sejarah kolektif (collective biography) suatu masyarakat.

Setelah meneliti sejarah perkembangan Eropa, Charles Tilly dan Yves-Marie BercĂ© menemukan bahwa berbagai konflik dengan kekerasan dan pemberontakan adalah juga merupakan bentuk dari aspirasi politik. Sejak itu tema mengenai “aksi kolektif” atau “kekerasan kolektif” maupun kerusuhan (riot) dan “protes” menjadi kajian tersendiri yang dikembangkan oleh para pengusung aliran social history (Brake:1998:5). Tantangannya kemudian adalah pada bagaimana dapat mengumpulkan data dan merekonstruksi potongan-potongan sejarah kecil (microhistory) dari bagian peristiwa besar yang pernah terjadi. Langkah yang diambil adalah dengan memfokuskan diri pada orang-orang biasa (ordinary people) yang dipandang sebagai aktor politik juga. Selanjutnya, para peminat dan ahli sejarah aliran “social history” ini kemudian banyak mempertanyakan dan menggugat sejarah versi resmi atau yang mereka sebut sebagai "official story" tadi (Brake, 1998:4).

Saya melihat, upaya Hendi merekam "sejarah orang-orang biasa" ini sejalan dengan pendekatan Tilly tadi. Jika Tilly meneliti konflik dengan kekerasan dan pemberontakan sebagai arena ekspresi dan artikulasi politik para ordinary people di Eropa, maka Hendi memfokuskan perhatian pada peran dan kontribusi ordinary people dalam perang kemerdekaan di Indonesia.

-----

Di antara semua kisah dalam Zaman Perang, saya paling tertarik dengan riwayat Haji Prawatasari, yaitu seorang menak atau bangsawan Sunda dari Cianjur yang menjadi penentang VOC pada sekitar awal tahun 1700-an. Meskipun cakupan pemberontakan cukup luas --sampai ke sebagian kawasan Jawa Tengah saat ini--, namun nama Prawatasari sangat kurang dikenal dibandingkan Pangeran Diponegoro yang pemberontakkannya baru meletus 100 tahun lebih kemudian. Kisah lain yang juga baru buat saya adalah mengenai sosok Jenderal Moestopo yang ternyata merupakan seorang perwira tinggi tentara yang sangat nyentrik dan terkadang menimbulkan kekesalan bagi para anak buah dan atasannya.

-----

Dari kacamata pembaca buku, menurut saya, upaya Hendi mengangkat “history from below” mengenai peran para “ordinary people” sangatlah patut dihargai. Namun beberapa kisah yang muncul menurut saya agak sulit untuk sepenuhnya disebut sebagai orang-biasa saja, setidaknya karena pangkat dan kedudukannya secara strata sosial bukan termasuk rakyat kebanyakan. Contohnya antara lain kisah tentang bangsawan Cianjur bernama Prawatasari, maupun kisah Jenderal Moestopo tadi. Beberapa yang saya anggap dapat mewakili sosok orang biasa, diantaranya kisah tentang para pelaut yang membajak sebuah kapal perang Belanda bernama De Zeven Provincien. Atau kisah tentang pembantaian rakyat dan para pejuang di Takokak-Cianjur.

Namun, menurut saya, buku ini sangat penting dan menarik untuk dapat menjadi pembanding, penyeimbang atau pelengkap dari versi sejarah resmi yang dibuat oleh pemerintah dan pemegang kuasa lainnya. Membaca dan mempelajari sejarah kecil ini --petite histoire, menurut lidah Perancis--, juga dapat membantu untuk lebih mengenal dan memahami konteks sosial dan historis dari berbagai daerah di Indonesia. Bisa jadi, kita tinggal cukup lama di suatu tempat atau kerap melewati jalan dengan nama tertentu atau nama seseorang, namun sama sekali tidak tahu tentang apa, siapa serta mengapa nama-nama tersebut digunakan. Menyajikan kisah sejarah secara “ringan” tentunya diharapkan juga lebih mampu menarik perhatian masyarakat khususnya kaum muda dan anak-anak mengenai “social history” dari masyarakat dan bangsa kita sendiri. Termasuk diharapkan dapat membangkitkan kepedulian terhadap nasib para pelaku sejarah (baik yang masih hidup maupun sudah meninggal) dan situs-situs perjuangan mereka, yang tampaknya juga menjadi perhatian yang coba diberikan Hendi, sebagai bagian dari perjalanannya sebagai jurnalis sejarah.

-----

*Hendi Jo, jurnalis kelahiran Cianjur tahun 1975. Kuliah di FISIP Unas –Jakarta, dan pernah bekerja di sejumlah LSM dan media cetak/online. Sejak 2008 menjadi jurnalis lepas, dengan fokus pada penelusuran dan penulisan sejarah, politik, sosial dan keagamaan di sejumlah media. Hendi juga merupakan pendiri dan pengelola situs Arsip Indonesia ( www.arsipindonesia.com ).

------
Sumber:
  •  Hendi Jo (2015). Zaman Perang:Orang Biasa dalam Sejarah Luar Biasa. MataPadi Pressindo.
  •  Wayne Ph. Te Brake (1998). Shaping History : Ordinary People in European Politics, 1500-1700.  University of California Press.
  • Charles Tilly (1985). “Retrieving European Lives,” dalam Reliving the Past: The Worlds of Social History, ed. Olivier Zunz, University of North Carolina Press.
  • “Sejarah Orang Kecil, Pilar Bangsa Yang Besar,”  http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/sejarah-orang-kecil-pilar-bangsa-yang-besar/


Selasa, 11 Agustus 2015

“Alwi Shahab Punye Cerite…”



Candra Kusuma

Bisa jadi, bukan tanpa alasan Alwi Shahab memilih judul buku ini Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia. Karena menurut Abah Alwi –demikian dia kerap dipanggil-- riwayah penamaan Batavia memang demikianlah adanya. Pada bagian tulisan berjudul “Jenderal Coen, Batavia dan Belanda Mabuk,”  dikisahkannya bahwa:

“Ketika Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen menaklukkan Jayakarta pada Mei 1619, dia ingin menamakan kota yang baru dibangun dari reruntuhan puing-puing di Sunda Kelapa ini dengan nama De Hoorn, sebuah kota kelahirannya yang terletak di salah satu provinsi di Noord Holland (Belanda Utara). Yang merupakan kawasan nelayan. Tetapi, belum sempat dia menamakannya, tiba-tiba dalam sebuah pesta kemenangan ada seorang soldadu VOC yang tengah mabuk meneriakkan kata-kata "Batavia…Batavia…” Entah bagaimana prosesnya, akhirnya kota yang terletak di muara Sungai Ciliwung dan sekitarnya itu akhirnya bernama Batavia.” (hal.19-20)

Konon, --menurut Abah Alwi-- Jenderal Coen tidak ingin kota itu dinamakan Batavia, dan tetap ingin bernama De Hoorn. Tapi apa daya, ternyata para bos besar VOC di Netherland sana lebih suka nama Batavia dibandingkan usulan nama dari Coen. Sampai-sampai, selama beberapa waktu Coen tidak ingin menyebut nama kota itu sama sekali.

Ada 71 tulisan pendek dalam buku tersebut. Beragam kisahnya, diantaranya tentang pesta pelantikan Gubernur Jenderal VOC, keberadaan ‘wanita publik’ (semacam pekerja seks komersial sekarang), penggunaan gas sebagai sumber penerangan, pengoperasian trem, kehidupan masyarakat Cina, gedung Harmoni, Nyai Dasima, dll. Saya sendiri senang sekali membaca bagian tentang Meester Cornelis, Jatinegara dan Matraman, karena memang lahir dan sempat tinggal beberapa lama di kawasan tersebut.

Sebagai wartawan, Abah Alwi kabarnya tidak sekedar mengandalkan sumber-sumber sekunder dari dokumen atau buku tentang Batavia/Jakarta. Dia juga rajin mendatangi nara sumber dan tempat-tempat yang mejadi bahan tulisannya. Selain itu, Abah Alwi juga selalu berupaya mengkontekskan kisah-kisah tempo doeloe itu dengan perkembangan yang ada dan kondisi kekinian, berikut kisah unik, tragis maupun lucu di dalamnya. Foto atau ilustrasi yang ditampilkan juga cukup membantu memberi gambaran tersebut. Dengan itu pembaca dapat membayangkan lokasi, pelaku dan bumbu-bumbu peristiwa yang terjadi di masa lalu dengan lebih mudah dan mengasyikan untuk dibaca.

Menurut saya buku ini dan karya Abah Alwi lainnya sangat penting. Tidak saja bagi warga Jakarta, namun juga bagi semua orang yang ingin mengetahui sejarah Batavia/Jakarta, baik sebagai ibukota negara maupun sebagai pusat pemerintahan VOC dan kolonialis Belanda selama ratusan tahun di Nusantara.

------
*Alwi Shahab, seorang wartawan senior kelahiran Jakarta tahun 1936. Pernah bekerja selama 30 tahun di Kantor Berita Antara (1963-1993). Sejak 1993 bekerja di H.U. Republika, mengasuh rubrik Sketsa Jakarta dan Nostalgia, yang mengangkat persoa;an Kota Jakarta dan kisah-kisah tempo dulunya. Selain artikel, Abah Alwi juga menulis sejumlah buku, diantaranya: buku, 2001  Alwi Shahab mengeluarkan buku Robin Hood Betawi (2001); Betawi: Queen of the East (2002); Saudagar Baghdad dari Betawi (2004); Oey Tambahsia Playboy Betawi (2007).

Sumber:
  • Alwi Shahab  (2013). Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia. BUKU REPUBLIKA.

Senin, 10 Agustus 2015

"Kisah Kapten Woodes Rogers di Batavia Abad-18"



Candra Kusuma



Kapten Woodes Rogers tercengang melihat Batavia yang dinilainya sebagai salah satu kota paling menyenangkan di seluruh dunia! Kota itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeck. Di dalam benteng kokoh yang mengelilingi Batavia, tampak bangunan-bangunan yang rapi; lingkungannya asri dengan berbagai pohon buah, bebungaan, air mancur dan patung-patung hias…” 

Demikian dikisahkan oleh Frieda Amran* dalam buku tipis karangannya yang berjudul “Batavia: Kisah Kapten Woodes Rogers & Dr. Strehler” (2012). Menurut Frieda, Kapten Rogers kagum dengan fasilitas kesehatan, pendidikan, sosial, keagamaan, perbentengan dan kanal-kanalnya yang dibangun VOC di Batavia. Sang Kapten juga terpukau dengan  kehidupan sosial bangsa Belanda di tanah jajahannya ini, termasuk tingkah polah kaum perempuan Belanda yang menurutnya memiliki kebebasan yang jauh lebih besar daripada di tempat lain, bahkan di negeri mereka sendiri.

Kebetulan, saya juga dapat membaca cepat buku yang menjadi referensi Frieda Amran menulis kisah Kapten Rogers tadi. Buku itu berjudul “Pirate Hunter of The Caribian: The Adventurous Life of Captain Woodes Rogers,” yang ditulis oleh David Cordingly** dan terbit pada 2011 lalu. Cordingly sendiri menyusunnya dari catatan harian Kapten Rogers selama petualangannya memimpin armada Inggris.

-----

Saat datang ke Batavia, armada Kapten Rogers terdiri dari empat kapal, yakni The Duke, The Duchess, The Marquis dan kapal hasil rampasan dari armada Spanyol yang kemudian oleh Kapten Rogers diberi nama baru The Batchelor Frigate. Armada ini masuk ke Batavia tanggal 22 Juni 1710 untuk mengisi persediaan dan memperbaiki kerusakan kapal di galangan kapal VOC di Pulau Onrust (bagian Kepulauan Seribu di Utara Jakarta sekarang ini). Sekitar empat bulan mereka melepas sauh di Batavia. Pada 24 Oktober 1710 mereka kembali ke Inggris dengan tiga kapal saja, karena kerusakan The Marquis terlalu parah dan tidak dapat diperbaiki.

Kapten Roger adalah sosok terkenal di Inggris pada masanya. Dia adalah pimpinan armada Inggris yang bertugas menyerang kapal-kapal Spanyol di Samudera Pasifik yang menjadi pesaing dagang Inggris, dan sekaligus menumpas para perompak laut di kawasan Karibia, Jamaika, Bahama, dan daerah lainnya di Amerika Tengah dan Selatan saat ini, serta tentu saja berwenang merampas harta jarahan dari musuh-musuhnya untuk Kerajaan Inggris.

Dalam buku Cordingly yang kemudian dikutip Frieda, disebutkan bahwa “kesuksesan“ besar Kapten Rogers adalah ketika berhasil merebut kapal pengangkut harta bernama Manila Galleon dari armada kapal Spanyol yang tengah menuju Eropa dan membawa hasil jarahan dari Kerajaan Aztek pada tahun 1709. Diperkirakan, Rogers berhasil membawa pulang harta rampokan dari hasil jarahan Spanyol yang berupa patung dan biji emas serta perak dari Amerika Selatan, maupun barang eksotis dari Timur berupa sutera, rempah-rempah, porselin, dll., pada saat itu nilainya sekitar 200 ribu poundsterling, atau kurnag lebih Rp 240 milyar saat ini.

-----

Selain sebagai kapten kapal pembasmi bajak laut, dia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Bahama (Royal Governor of the Bahamas) yang pertama pada tahun 1718. Buat para gamer, sosok Woodes Rogers mungkin juga tidak terlalu asing. Setting kepemimpinannya di Bahama ini kemudian juga menjadi salah satu karakter dalam games dan novel yang cukup populer, yaitu “Assassin’s Creed,” khususnya pada episode “Black Flag.”

“Sumbangan” lain dari petualangan sang Kapten adalah diangkatnya kisah penyelamatan sorang pelaut bernama Alexander Selkirk oleh kru Rogers, yang kemudian menjadi inspirasi bagi Daniel Defoe --seorang pengarang Inggris-- dalam menulis sebuah kisah terkenal yang saat ini sudah menjadi novel klasik berjudul “Robinson Crusoe.”

-----

Buat saya, kisah Kapten Rogers di buku Frieda rasanya terlalu ringkas. Kisah tersebut hanya merupakan satu dari 10 tulisan lainnya yang lebih banyak berkisah tentang pengalaman Dokter Strehler, yaitu seorang dokter berkebangsaan Jerman yang bekerja sebagai tenaga medis di sebuah kapal Belanda yang bolak-balik antara Belanda dan Tropisch Nederland (Hindia Belanda). Namun buku Frieda Amran ini menurut saya cukup memberi informasi yang menarik mengenai kehidupan pada pelaut penjelajah dan kehidupan kaum kolonial dan masyarakat di Batavia di abad ke 17-18.

-----

Cuma saya membayangkan, kalau Kapten Rogers masih hidup saat ini dan datang kembali ke "Batavia Baru" alias Jakarta sekarang, bisa jadi dia batal melepas sauh dan memilih meneruskan perjalanan saja karena merasa sumpek melihat kondisi Jakarta saat ini.

-------
*Frieda Agnani Amran, lulusan Antropologi-Universitas Indonesia dan pernah kuliah di Rijksuniversiteit Leiden-Belanda. Kemampuannya memahami bahasa Belanda membantunya mengakses dokumen dan buku-buku lama khususnya yang berkenaan dengan masa penjajahan di Indonesia. Dia menjadi penulis artikel mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat Sumatera Selatan di rubrik “Tempo Doeloe” pada Harian Berita Pagi di Palembang, dan mengenai masyarakat Batavia di haran Warta Kota pada rubrik “Wisata Kota Toea.” Dia juga merupakan seorang penulis punisi yang produktif.
**David Cordingly adalah doktor lulusan  University of Sussex, dan pernah menjadi staff di the National Maritime Museum in Greenwich, Inggris. Dia menulis beberapa buku lain tentang bajak laut, yakni: “Cochrane the Dauntless: The Life and Adventures of Thomas Cochrane 1775-1860” (2007); “Pirate: Fact and Fiction” (xxxx); “Under the Black Flag: The Romance and Reality of Life Among the Pirates” (2006).

Sumber:
  • Frieda Amran (2012). Batavia: Kisah Kapten Woodes Rogers & Dr. Strehler.  Penerbit Buku KOMPAS.
  • David Cordingly (2011). Pirate Hunter of The Caribian: The Adventurous Life of Captain Woodes Rogers. Random House Publishing.
  • Oliver Bowden (2013). Assassin’s Creed: Black Flag. Penguin.

Senin, 03 Agustus 2015

"Indonesia Bangsa yang Belum Selesai?"





Candra Kusuma

Apa yang Anda bayangkan tentang isi sebuah buku, jika kata-kata yang paling banyak muncul dalam daftar Indeks-nya adalah: Aksi; Buruh; Demonstrasi; Ideologi; Ingatan; Kiri; Komunis; Mahasiswa; Massa; Miskin; Partai Rakyat Demokratik (PRD); Politik; Radikal; Rakyat; Revolusi; Sosial; dan Tani? Jika Anda menduga penulisnya menggunakan analisis Marxis, dan isi buku itu adalah seputar Reformasi 1998, kejatuhan Suharto dan analisis tentang peran kelompok ‘kiri’ dalam momentum tersebut, maka dugaan itu tidak terlalu keliru sama sekali.

Buku yang saya maksud adalah karya Max Lane* yang berjudul Unfinished Nation, dan diterbitkan oleh Penerbit Djaman Baroe pada 2014 lalu. Judul aslinya adalah Unfinished Nation: Indonesia Before and After Suharto, yang diterbitkan oleh Verso di tahun 2008. Dalam buku ini Lane mengupas perjalanan perubahan sosial sejak masa kolonial sampai setelah Reformasi 1998, dengan fokus pada momentum seputar Reformasi tadi.

Jika umum dipahami bahwa perubahan sosial di sebuah negara akan dipengaruhi oleh faktor endogen (internal) dan exogen (eksternal) dalam perubahan sosial, maka Lane meyakini bahwa faktor endogen, yakni adanya desakan rakyat dari sebuah proses mobilisasi massa yang dilakukan oleh sejumlah kelompok pelopor, merupakan faktor yang paling dominan dalam mendongkel Soeharto dari tiga dekade lebih kekuasaannya. Dalam hal ini Lane menganggap dirinya mengajukan analisis berbeda dari mayoritas analis Barat yang mengidentifikasi bahwa kekuatan luar negeri atau elitlah yang mejadi penyebab utama kejatuhan Soeharto.

…Soeharto tidak sekedar jatuh dari kekuasaan –dia didorong jatuh. Gerakan yang mendorongnya jatuh dari kekuasaan berkembang sebagai hasil dari upaya yang sengit (sulit) dan sadar untuk membangun gerakan politik yang benar-benar bisa menjatuhkan sang diktator dan karenanya, dalam tindakannya berbasiskan pada mobilisasi massa rakyat.” (Hal.19)

Menurut Lane, aktor utama yang melakukan pendidikan politik, radikalisasi, dan mobilisasi kalangan kaum miskin, buruh, tani dan mahasiswa adalah para aktivis dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang kemudian berubah menjadi Partai Pembebasan Rakyat (PPR). Lane memang juga menyebutkan beberapa aktor lain seperti Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Pemuda Sosialis, atau koalisi “dadakan” kelompok aksi mahasiswa yang baru muncul dan dibentuk pada 1998 macam Forum Kota (Forkot),  namun perannya dipandang lebih kecil.

Yang pertama mengambil inisitif tersebut, dalam kerangka organisasi politik, adalah mereka yang muncul melawan Soeharto di awal 1990-an, yang mampu membangun dan mempertahankan orientasi ideologinya. Sangat sedikit yang seperti itu. Semuanya masih kecil, dan hanya satu yang sudah sanggup membangun profil signifikan, yakni PRD. Jaringan nasional lainnya termasuk Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Front Mahasiswa Nasional (FMN), dan Pemuda Sosialis. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), merupakan reorganisasi jaringan nasional yang signifikan dan dengan fokus ideologi yang lebih lemah dan longgar, kecuali AGRA yang memiliki penekanan yang kuat.” (Hal.383-384).

Jika ada kesan bahwa Lane terlalu membesar-besarkan peran PRD, hal tersebut dapat dimaklumi, karena dia memang menggunakan kerangka analisis Marxian yang menekankan pada teori revolusi, kelompok/partai pelopor, kontradiksi, kesadaran kelas, radikalisasi dan mobilisasi massa. Bagi Lane, tampaknya hanya PRD yang paling mendekati ideal dari perspektif tersebut. Mungkin agak berlebihan bagi saya maupun banyak pihak lainnya, tapi bagi Lane, keberadaan PRD yang dideklarasikan tahun 1994 telah menjadi aktor sentral baik langsung maupun tidak langsung dalam meradikalisasi rakyat sehingga berani bergerak menentang rezim Soeharto.

Namun Lane juga menyayangkan bahwa aksi-aksi yang berpuncak di 1998 tersebut tidak dapat membawa gerakan ke arah selanjutnya (hal. 294). Lane tidak menyatakan dengan tegas, namun mungkin dapat dikatakan bahwa PRD “gagal” meyakinkan gagasan mereka pasca turunnya Soeharto, yakni membangun kekuasaan dari bawah sebagai hasil dari proses mobilisasi, sekaligus melakukan penyingkiran semua elit politik Orde Baru. Sementara, menurut Lane, di kalangan aktivis mahasiswa lain berkembang konsep yang campur aduk, yang salah satu dan kemudian menjadi arus utama adalah mengkonsentrasikan arah perubahan pada figur-figur elit politik yang luas dan tidak termasuk atau dicap Orde Baru, khususnya Amien Rais, Abdurrahman Wahid dan Megawati (hal. 282-283).

Meskipun tampaknya agak kecewa, Lane masih tetap optimis bahwa perubahan sosial yang radikal masih akan terjadi di Indonesia. Bagaimanapun, generasi 1990-an telah berhasil menumbangkan Soeharto, dan terlebih juga meninggalkan jejak yang cukup kuat bagi benih kepeloporan selanjutnya.

Warisan 1990-an dapat dijelaskan dalam dua tingkatan. Pertama, terdapat jalan bagaimana sentimen positif yang luas –namun hanya sentimen—diangkat ke dalam gagasan-gagasan politik yang kuat, walaupun dirumuskan secara kabur. Kedua, terdapat aktivis-aktivis yang berorientasi ideologis dan secara politik terdidik, yang muncul selama 1990-an serta segera setelah kejatuhan Soeharto, yang mencoba membangun kelompok yang bertujuan menghidupkan kembali orientasi ideologi sosialis dan demokratik” (Hal.496-497)

Di bagian akhir bukunya tersebut, Lane memetakan tujuh karakter situasi yang diyakininya memberikan kemungkinan bahwa akan terjadi lagi politik masa yang agresif di Indonesia. Ketujuh situasi tersebut berkenaan dengan: kemiskinan dan kesenjangan sosial yang akut; terbangunnya kesadaran kelas; tumbuhnya kelas pekerja yang professional dan teroganisir; meluasnya penyebaran gagasan kritis; tumbuhnya gerakan politik non-partai berbasiskan demokrasi dan kiri; adanya kelompok-kelompok aktivis dan kader yang berpengalaman; dan makin lazimnya terjadi mobilisasi massa dari kalangan buruh dan miskin kota (hal.507-511).

Bagi Lane, Indonesia adalah bangsa yang belum selesai (unfinished nation). Karena itu, gerakan perubahan diyakininya akan dan harus terus berlangsung. Tujuannya tetap, yang menurut Lane, yaitu dapat menggantikan sistem dan mengukuhkan bentuk pemerintahan demokratik baru yang radikal.

Lane tampaknya memang memiliki posisi yang unik diantara para Indonesianis lain saat ini. Dia meyakini dan optimis bahwa perubahan sosial yang radikal dapat terjadi di Indonesia. Edward Aspinall dalam komentar singkat di sampul belakang buku ini bahkan menyebut Lane sebagai Indonesianis yang “berdiri diluar kesepakatan para ahli” di Australia.

Kesepakatan para sarjana ilmu politik pengamat Indonesia ditandai oleh ketidakpercayaan pada kemungkinan perubahan revolusioner ataupun kemampuan transformatif dari kelompok-kelompok tertundukkan. Pada studi politik Indonesia di Australia kita lantas menemui sedikit sekali perbedaan pedapat mengenai dinamika dasar dari politik Indonesia, sifat dasar masyarakatnya atau arah dari transformasi demokratik yang sebaiknya dijalani. Namun Max Lane merupakan satu-satunya penulis Australia ahli Indonesia yang berdiri di luar kesepakatan para ahli tadi.”

Terlepas dari pisau analisis yang digunakannya, saya sepakat dengan review dari Curaming (2011) yang berpandangan bahwa buku ini tampaknya memang tidak ditujukan sebagai karya akademik, yang diindikasikan oleh minimnya referensi dan keterangan sumber informasi dan dokumen. Namun saya sendiri juga merasa buku ini terlalu berat untuk sekedar menjadi “bacaan ringan.” Selain itu saya juga lebih suka cover buku dalam versi Inggris dibanding versi terjemahannya yang rasanya juga menjadi terlalu kaku.

Tertarik? Silakan beli/baca sendiri bukunya ya…

-----
* Nama lengkapnya Maxwell Ronald Lane. Dia adalah dosen politik dan sejarah di Universitas Victoria-Australia, dan menjadi Visiting Fellow di Institute of Southeast Studies-Singapura. Lane juga merupakan salah satu pendiri Inside Indonesia, yaitu media yang mengangkat isu sosial-politik di Indonesia. Pernah menerjemahkan buku-buku Pramoedya Ananta Toer (diantaranya This Earth of Mankind;  Child of All Nations; Footsteps and House of Glass; Arok of Java) dan W.S. Rendra (The Struggle of the Naga Tribe). Lane juga pernah menjadi Social science tutor pada sekolah drama  Bengkel Teater di Jogjakarta (1974), dan konsultan proyek pembangunan dari Kedutaan Australia di Aceh, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi.

Lane Memiliki jaringan luas dengan para pemikir dan aktivis, khususnya PRD. Bukunya yang lain dan sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia diantaranya adalah Malapetaka di Indonesia: Sebuah Esei Renungan tetang Penglaman Sejarah Gerakan Kiri (2012). Sementara ada dua buku yang akan segera diterbitkan, yakni Ketidakhadiran Indonesia di Bumi Manusia, dan Burung Merak Menyimpang Jalan: Sastra dan Politik Pembangkan di Indonesia.


Sumber:
  • Max Lane, Unfinished Nation, Penerbit Djaman Baroe, 2014.
  • R.A. Curaming, Review of Unfinished Nation, Max Lane. London: Verso, Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 42, No.1, 2011, pp. 176-178.
 Saran untuk referensi lebih lanjut:

Kamis, 02 Juli 2015

"Mitos Dijajah 350 Tahun"


Candra Kusuma


Saya ingin cerita sedikit tentang satu buku yang saya beli beberapa tahun lalu. Judulnya "Bukan 350 Tahun Dijajah," yang ditulis oleh G.J. Resink*, dan diterbitkan oleh Penerbit Komunitas Bambu pada tahun 2012. Buku ini judul aslinya "Indonesia’s History Between the Myths: Essays in Legal History and Historical Theory" yang terbit pertama kali tahun 1968 oleh University of British Colombia-Canada.

Saya tertarik dengan buku ini, awalnya karena judulnya lugas dan covernya-pun keren, yaitu ilustrasi sebuah pertempuran yang menggambarkan ekspedisi militer Belanda pada tahun 1894 ke Puri Cakranegara di Lombok, yang kemudian mengakhiri kekuasaan dinasti Bali di pulau tersebut.

Lebih tertarik lagi karena sinopsis yang ada di bagian cover belakang buku ini, dengan singkat dan jelas memberikan gambaran mengenai isinya, yaitu bantahan terhadap klaim penjajahan Indonesia selama 350 tahun. Coba simak:

Siapa bilang Indonesia dijajah 350 tahun? Bohong. Mitos belaka. Melalui buku ini G.J. Resink sebagai sejarawan dan ahli hukum internasional sekaligus penyair memaparkan bukti-bukti betapa semua itu konstruksi politik colonial. Kebohongan 350 tahun dijajah dipopulerkan politisi Belanda dan buku-buku pelajaran sekolah kolonial, tetapi semakin kuat dipercaya sebagai kebenaran sejarah ketika Sukarno dan para pejabat juga politisi kerap menggunakannya dalam pidato-pidato. Tidak kecuali para sejarawan. Celakanya lagi, pemerintah malah memasukkan mitos 350 tahun dijajah itu ke dalam kurikulum pelajaran di sekolah-sekolah sampai akhirnya diterima dan tertanam sebagai kebenaran absolut di mayarakat.

Dalam buku ini Resink memberikan bukti-bukti kuat yang menggambarkan betapa banyak kerajaan-kerajaan dan negeri-negeri di Indonesia yang belum pernah takluk dan di bawah cengkeraman tangan besi hukum kolonial Negara Hindia Belanda. Resink siap dengan segudang sumber, terutama detail fakta hukum yang membuat argumennya bukan saja fokus dan kukuh, tetapi juga punya vitalitas dalam memperlihatkan wilayah-wilayah Indonesia yang berdaulat selama kekuatan kolonial bercokol. Hitungan Resink, paling-paling Hindia Belanda sebagai negara hanya ada selama 40 tahun, tetapi itupun tidak benar-benar seluas wilayah Republik Indonesia hari ini, meskipun Belanda sudah benar-benar mengusahakan penaklukan selama 350 tahun.

Menolak klaim Pax Nerlandica

Resink memang menolak mitos 3,5 abad Pax Neerlandica, atau klaim pemerintah Belanda bahwa mereka telah berhasil menciptakan perdamaian (Pax) di daerah kekuasaan Nederland (Neerlandica). Dalam 14 bagian tulisan di buku ini, Resink menggunakan analisis hukum dan sejarah dengan merujuk segudang dokumen masa kolonial milik Belanda sendiri untuk membantah klaim tersebut.

Secara awampun sesungguhnya klaim tersebut memang sulit diterima akal. Jika akhir penjajahan dianggap terjadi pada tahun 1945 pada saat Indonesia merdeka, sementara klaim lama penjajahan adalah 350 tahun, maka penjajahan Belanda dianggap mulai terjadi sejak tahun 1595. Sementara jika akhir penjajahan Belanda adalah pada tahun 1949 pada saat “penyerahan kedaulatan,” maka penjajahan dianggap dimulai pada tahun 1599. Sementara jika merujuk ke suber-sumber sejarah, para pelaut Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman pertama kali tiba di Banten tahun 1596. VOC sebagai perusahaan dagang yang ditunjuk oleh Kerajaan Belanda untuk menjalin perdagangan baru memperoleh izin membuka kantor perwakilannya di Banten pada tahun 1603. Jadi sampai awal 1600-an itu dapat dikatakan belum ada wilayah “Indonesia” yang dikuasai Belanda sepenuhnya.

Kerajaan-kerajaan tersebut eksis dan berdaulat atas wilayah dan rakyatnya sendiri. Banyak bahkan yang telah menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain di Asia dan Eropa. Namun jelas ada persaingan diantara kerajaan-kerajaan di Nusantara itu sendiri, yang kemudian berujung pada peperangan dan perebutan wilayah. Sayangnya persaingan tersebut kemudian juga melibatkan "pihak ketiga" yaitu para kolonialis, seperti yang terjadi pada perang antara kerajaan Gowa yang dipimpin Hasanuddin dengan kerajaan Bone-Soppeng dengan Arung Palakka sebagai pimpinannya du Sulawesi pada sekitar abad 17 lalu.

Belum lagi jika mencermati bahwa bahkan sampai dengan awal tahun 1900-an masih banyak kerajaan di Nusantara yang merdeka. Sebagai contoh, Kesultanan Aceh di Sumatera baru dapat dikalahkan Belanda pada tahun 1903-1904. Begitupula Kerajaan Bone di Sulawesi yang baru ditaklukan Belanda pada tahun 1905, dan Kerajaan Klungkung di Bali yang tunduk tahun 1908. Jadi paling lama ketiga kerajaan tersebut dijajah Belanda sekitar 40-an tahun saja. Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada satupun wilayah “Indonesia” yang pernah benar-benar dijajah selama 350 tahun.

Bagaimana klaim tersebut dapat bertahan?

Jelas klaim tersebut sangat Belandasentris. Konstruksi sejarah yang mereka bangun tersebut dapat diduga tujuannya adalah untuk mengukuhkan eksistensi dan dominasi mereka sebagai salah satu negara Eropa yang menjadi penguasa daerah jajahan, khususnya di Dutch East Indies atau Hindia Belanda.

Lantas kenapa klaim tersebut kemudian diadopsi oleh para pejuang kemerdekaan dan pemerintah Indonesia?. Di awal kemerdekaan, bisa jadi klaim tersebut digunakan oleh para pejuang dan pemimpin kemerdekaan untuk membangun sentimen rakyat Nusantara bahwa mereka adalah “satu bangsa,” yaitu bangsa Indonesia, dan kemudian menjadi “satu negara,” yaitu negara Republik Indonesia. Sumpah Pemuda 1928 menunjukkan dengan jelas kecenderungan tersebut. Upaya membangun sentimen sebagai “satu bangsa” yang sama-sama mengalami penjajahan dan penindasan selama ratusan tahun ini kemudian menjadi mantra yang terus dipelihara sampai saat ini.

Meskipun sesungguhnya logika tersebut tampaknya juga tidak tepat benar. Jika meminjam istilah "imagined community" atau “komunitas yang dibayangkan” dari Benedict Anderson, konstruksi sejarah bahwa wilayah Indonesia adalah sama dengan wilayah kerajaan-kerajaan Nusantara dan bekas jajahan Belanda di masa lalu juga tidaklah tidak tepat. Negara Indonesia adalah konstruksi sosial yang sama sekali baru, yang “dibayangkan” oleh para pemuda dan tokoh pejuang sebagai gabungan dari kerajaan dan wilayah bekas jajahan Belanda tersebut.

Lantas lagi, kenapa mitos tersebut dipelihara sampai saat ini? Resink menduga sebagian disebabkan oleh kemalasan para sejarawan Indonesia untuk menggali sendiri sejarah bangsanya ini. Mereka lebih asik mengadopsi sumber-sumber sejarah tertulis lama, yang tentu saja sebagian besar juga berasal dari para bangsa penjajah itu sendiri, atau para orientalis yang juga menggunakan perspektif Eropasentris ketika menganalisis negara-negara jajahannya.

Belum berubah

Sambil menulis ini, saya sempat bertanya pada anak saya yang masih duduk di Sekolah Dasar, apakah di buku pelajarannya masih ada bagian yang menyebutkan bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun? Dia bilang masih, dan adanya di pelajaran Pendidikan Kewarnegaraan (PKn).

Jadilah selama hampir setengah jam saya “terpaksa” mesti bercerita padanya mengenai isi buku Resink ini. Nasib


-----
* Nama lengkapnya adalah Gertrudes Johan Resink. Dia lahir di Yogyakarta tahun 1911. Resink keturunan Indo, namun pada tahun 1950 di memilih menjadi WNI. Tidak aneh jika Resink menyukai kebudayaan Jawa, dan cukup pandai berbahasa Jawa. Dia adalah seorang ahli hukum, penyair dan sejarawan, dengan karya-karya yang cukup dihargai di semua bidang tersebut. Resink pernah menjadi guru besar hukum di Universitas Indonesia, sejak tahun 1947 sampai 1976. Di akhir 1950-an dia juga pernah menjadi peneliti di School of Oriental and African Studies (SOAS). Resink meninggal pada tahun 1997. Seluruh karyanya kemudian dihibahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia, dan disimpan di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.

 -----

Sumber:

  

Senin, 15 Juni 2015

"Rasa Cinta dalam Secangkir Kopi"



Candra Kusuma


Suka minum kopi?, atau bahkan sudah kecanduan?”

Saya juga peminum kopi. Sehari diupayakan paling banyak dua gelas saja. Jauh lebih sedikit dibanding beberapa tahun lalu –sebelum diperingatkan dokter karena terkena maag cukup berat-- yang bisa sampai 4-6 gelas sehari. Boleh dibilang agak kecanduan, karena saya bisa senewen  kalau sehari saja tidak ketemu kopi. "Rasanya, kopi bisa membantu saya menjadi lebih tenang..."

Bisa jadi saya ketularan ibu yang memang rutin minum kopi. Sejak remaja saya suka ikutan mencicip kopi yang beliau buat tiap siang, dan akhirnya keterusanlah sampai sekarang ini.

Tapi sayangnya saya sama sekali bukan ahli tentang kopi. Saya tidak paham jenis, asal-usul dan ‘deskripsi rasa’ dari tiap biji kopi yang berbeda. Jadi saya senang sekali ketika awal 2013 lalu berjumpa dengan novel ini di deretan rak toko buku. Novel yang saya maksud adalah The Various Flavours of Coffee: Rasa Cinta dalam Kopi yang ditulis oleh Anthony Capella. Novel terjemahan ini diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2012, sementara edisi aslinya dalam Bahasa Inggris terbit pertama kali tahun 2008.

----

Novel ini berkisah tentang Robert Wallis, seorang penyair amatir dengan gaya hidup borjuis muda yang gemar kongkow di café-café di London. Pada akhir 1890-an, café memang menjadi bagian dari gaya hidup kaum elite dan menengah di Eropa sebagai tempat ngobrol, diskusi, berdebat, atau sekedar saling pamer diri saja. Di kemudian hari para pemikir sosial seperti Habermas dkk., menyebut café sebagai bagian penting dari tumbuhnya public sphere dan pemikiran demokrasi di Eropa.

Satu ketika secara kebetulan Wallis bertemu dengan Samuel Pinker, pemilik Castle Coffee, yaitu perusahaan yang terlibat dalam perdagangan kopi internasional. Sadar bahwa Wallis pandai mengolah kata, Pinker kemudian memberinya pekerjaan untuk menyusun daftar “kosakata kopi” berdasarkan cita rasa dan aroma kopi, yang kemudian mereka sebut sebagai “Metode Pinker-Wallis Untuk Penjelasan dan Klasisifikasi Berbagai Rasa Kopi” atau kemudian mereka singkat sebagai “Pedoman Pinker-Wallis” saja. Pedoman tersebut dijadikan Pinker dan Castle Coffee sebagai dasar dan standar dalam mengklasifikasi dan mengolah jenis kopi yang akan diproduksinya. Bahkan kemudian mereka juga menciptakan “kotak sampel” yang berisi wewangian yang merupakan bau inti yang dapat dipakai sebagai acuan bagi para pencicip kopi di distributor dan pabrik Castle Coffee.

Deskripsi yang dibuat Wallis memang terlihat unik, dan umumnya mengacu pada bau, bentuk, warna dan rasa yang sudah dikenal cukup umum sebelumnya. Coba simak contoh dari daftar deskripsi rasa dan aroma berikut:

Pikirkan rasa-rasa ini. Asap adalah api yang berderak dalam tumpukan dedaunan mati di musim gugur; udara dingin, terasa garing dalam lubang hidung. Vanili adalah pulau rempah-rempah hangat dan sensual yang dihangatkan oleh matahari tropis. Berdamar mempunyai ketajaman kental dari biji cemara atau terpentin. Semua kopi, Kalau diamati dengan seksama, samar-samar mempunyai bau bawang bakar, kain linen bersih atau rumput yang sudah dipotong. Ada yang sudah mengeluarkan bau yang sudah meragi, seperti apel yang baru saja dikupas, sementara yang lain mempunyai rasa asam seperti kanji, dari kentang mentah. Ada yang mengingatkanmu pada lebih dari satu rasa: kami mendapati satu kopi yang menggabungkan seledri dan blackberry, yang lain mengawinkan melati  dengan roti jahe, yang ketiga yang menyatukan cokelat dengan bau wangi yang samar-samar dari timun segar yang renyah… 
(The Various…, hal.82)

Novel ini juga mengambil kutipan yang menarik tentang rasa dan aroma kopi dari beberapa buku lainnya yang juga mengangkat tema mengenai kopi. Diantaranya ini: ‘Cemara’ –aroma nikmat, segar, dan seperti pedalaman ini berasal dari kayu yang belum diolah, dan hampir serupa dengan serutan pensil. Ditandai oleh minyak inti alami dari cemara Atlas. Berbau lebih tajam pada panen matang (Jean Lenoir, Le Nez du CafĂ©). Atau ini: ‘Hijau’ –rasa keasaman yang dikeluarkan kacang hijau yang belum matang (Michael Sivetz, Coffee Technology). Juga ini: ‘Bergelora’ –rasa yang pahit yang umumnya terjadi karena pemanggangan berlebihan (Smith, Coffee Tasting Terminology). Dan juga ini: ‘Seperti ter’ –cacat rasa yang memberi kopi sifat gosong yang tidak enak (Lingle, The Coffee Cupper’s Handbook).

-----

Namun bagi saya, sejatinya buku ini bukan hanya bicara tentang kopi, tapi juga kritik sosial terhadap imperialisme Barat. Dari pengalamannya mengelola perkebunan dan perdagangan kopi di Afrika, Wallis melihat adanya ketidakadilan yang nyata. Dalam berbagai kesempatan, baik secara samar maupun terang-terangan, Wallis mengkritik kelakuan para penguasa dan pedagang di Eropa yang menjadikan Afrika sebagai tanah jajahan, memperlakukan penduduknya sebagai budak, dan mengambil kekayaan alamnya sesuka hati.

Artikel-artikelku muncul, dan dalam beberapa minggu aku tahu apa artinya dihormati dan dijamu. Ada undangan-undangan ke rumah-rumah pribadi—pesta malam di mana aku diharapkan mendebarkan para tamu dengan kisah-kisah tentang orang biadab yang haus darah dan keeksotisan Afrika, semuanya dikemas dengan rapi dengan komentar-komentar basi bahwa Perdagangan suatu hari  akan mengubah tempat itu menjadi Eropa lain. Aku mengecewakan. Dalam artikel-artikelku aku terpaksa melembutkan pendapatku atau harus mengalami tulisanku ditolak, tetapi di ruang-ruang tamu Mayfair dan Westminster aku tidak terlalu hati-hati. Aku menunjukkan bahwa orang-orang biadab dan haus darah satu-satunya yang pernah kutemui, memakai kulit putih dan seragam khaki; bahwa apa yang sekarang kami sebut Perdagangan hanya kelanjutan perbudakan dengan cara yang lebih berliku-liku; bahwa orang-orang pribumi di tempat aku tinggal sama tinggi wawasan kebudayaan mereka dengan masyarakat manapun yang kutemui di Eropa. Orang-orang mendengarkan aku dengan sopan, sesekali saling melempar tatapan berarti, lalu berkata hal-hal semacam, “Tetapi kalau begitu, Mr Wallis, apa yang harus Dilakukan dengan Afrika?
           
Dan aku menjawab, “Astaga, tidak ada. Kita harus menyingkir dari sana—mengakui bahwa kita tidak memiliki sedikitpun, dan pergi saja. Kalau kita ingin kopi Afrika, kita harus membayar orang Afrika untuk menanamnya. Bayar sedikit lebih banyak kalau perlu, sehingga mereka punya kesempatan untuk mulai sendiri. Akan menguntungkan dalam jangka panjang.

Ini bukan sesuatu yang ingin mereka dengar…
(The Various …, hal.498-499)

Membaca novel ini membuat saya teringat novel lain yang juga berkisah tentang kolonialisme dan perkebunan kopi di Indonesia masa lampau, yakni Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company yang ditulis Multatuli alias Douwes Deker tahun 1860. “Apakah novel Capella ini memang diinspirasi oleh kisah yang ditulis Multatuli hampir 150 tahun sebelumnya? Bisa jadi…



-----

Selain itu novel ini juga berkisah tentang pemberontakan yang lain, yakni keterlibatan Emily Pinker, putri tunggal Samuel Pinker, dalam gerakan persamaan hak perempuan di Inggris. Dia terlibat dalam demonstrasi dan mogok makan, ditangkap, diadili, dipenjara, tetap ngotot melanjutkan mogok makan selama di penjara, sampai akhirnya meninggal di rumah sakit.

Kisah Emily tampaknya juga mengambil latar belakang konteks sosial yang sesungguhnya terjadi di Inggris, Eropa dan Amerika pada awal Abad 20. Pada awal tahun 1900-an, Inggris memang tengah bergejolak berkenaan dengan tuntutan keras dari kaum perempuan yang dimotori oleh para buruh perempuan dari pabrik tekstil di Northern England, yang awalnya menuntut kelayakan upah. Gerakan tersebut kemudian meluas dan dengan tuntutan lain yang lebih politis, yaitu hak perempuan untuk juga ikut memilih dalam Pemilu dan menjadi pejabat publik. Salah satu tokohnya kala itu adalah Emmeline Pankhurst yang menjadi pendiri Women's Social and Political Union (WSPU) (diantaranya, lihat June Purvis (2002), Emmeline Pankhurst: A Biography, Routledge). “Apakah nama dan kisah Emily juga diinspirasi dari tokoh Emmeline ini? Bisa jadi…”



-----

Saya suka novel ini, dan meskipun terjemahannya cukup tebal –lebih dari 650 halaman— ternyata saya sudah dua kali membacanya. Rasanya cukup lengkap buat saya: ada kisah tentang kopi, ada sejarah kopi dan gerakan sosial juga, plus bumbu roman barang sedikit. Ungkapan “If a book is well written, I always find it too short” dari Jane Austen rasanya ada benarnya juga dalam kasus novel ini.

-----

Sebagai penutup, bagi yang gemar membaca tentang kisah kopi dan kaitannya dengan konteks sosiologis dan political ekonomi per-kopi-an, izinkan saya menyarankan beberapa buku dan artikel yang saya anggap cukup menarik untuk dibaca:
  • Multatuli (1868). Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company. Edmonton & Douglas.
  • Charles W. Bergquist (1986). Coffee and Conflict in Colombia, 1886-1910. Duke University Press.
  • Ralgh S. Hattox (1996). Coffee and Coffeehouses: The Origins of a Social Beverage in the Medieval Near East. University of Washington Press.
  • Stewart Lee Allen (2001). The Devil’s Cup: Coffee, The Driving Force in History. Canongate.
  • William Gervase Clarence-Smith and Steven Topik  (Eds.) (2003). The Global Coffee Economy in Africa, Asia, and Latin America, 1500–1989. Cambridge University Press.
  • Steven Topik (2004). “The World Coffee Market in the Eighteenth And Nineteenth Centuries, from Colonial To National Regimes,”  Working Paper No. 04/04, May, 2004.
  • Brian Cowan (2005). The Social Life of Coffee: The Emergence of the British Coffeehouse. Yale University Press.
  • John Scalzi (2007). You're Not Fooling Anyone When You Take Your Laptop to a Coffee Shop: Scalzi on Writing. Subterranean Press.
  • Dana Sajdi (2007). Ottoman Tulips, Ottoman Coffee: Leisure and Lifestyle in the Eighteenth Century. Tauris Academic Studies.
  • Bryant Simon (2009). Everything but the Coffee: Learning about America from Starbucks. University of California Press, Ltd.
  • Mark Pendergrast (2010). Uncommon Grounds: The History of Coffee and How it Transformed Our World. Basic Books.
  • Catherine M. Tucker (2011). Coffee Culture: Local Experiences, Global Connections. Routledge.
  • Scott F. Parker and Michael W. Austin (2011). Coffee: Philosophy for Everyone. Grounds for Debate. John Wiley & Sons, Ltd.
  • Anette Moldvaer (2014). Coffee Obsession. DK Publishing.

Juga bagi yang berminat membaca literatur mengenai isu ketidakadilan dalam industri kopi dan makin kuatnya tuntutan agar dapat dibangun sistem perdagangan yang lebih adil (fair trade), saya sarankan beberapa sumber berikut:
  • Marco Palacios (1980). Coffee in Colombia, 1850-1970. Cambridge University Press.
  • Benoit Daviron and Stefano Ponte (2005). The Coffee Paradox: Global Markets, Commodity Trade and the Elusive Promise of Development. Zed Books.
  • Nina Luttinger and Gregory Dicum (2006). The Coffee Book: Anatomy of an Industry from Crop to the Last Drop. The New Press.
  • Daniel Jaffee (2007). Brewing Justice: Fair Trade Coffee, Sustainability, and Survival. University of California Press.
  • Catherine M. Tucker (2008). Changing Forests: Collective Action, Common Property, and Coffee in Honduras. Springer.
  • Christopher M. Bacon (Eds.) (2008). Confronting the Coffee Crisis: Fair Trade, Sustainable Livelihoods and Ecosystems in Mexico and Central America. The MIT Press.
  • Peter Luetchford (2008). Fair Trade and a Global Commodity: Coffe in Costa Rica. Pluto Press.
  • Sarah Lyon (2011). Coffee and Community: Maya Farmers and Fair-Trade Markets. University Press of Colorado.
  • Ruerd Ruben and Paul Hoebink (Eds.) (2015). Coffee Certification in East Africa: Impact on Farms, Families and Cooperatives. Wageningen Academic Publishers.

Sementara bagi yang tertarik dengan teknologi produksi dan pengolahan kopi, beberapa literatur yang dapat saya sarankan adalah:
  • M.N. Clifford and K.C. Wilson (1985). Coffee: Botany, Biochemistry and Production of Beans and Beverage. Croom Helm Ltd.
  • R.J. Clarke and R. Macrae (1989). Coffee. Vol. 2: Technology. Elsevier Science Publishers Ltd.
  • Kevin Knox and Julie Sheldon Huffaker (1997). Coffee Basics: A Quick and Easy Guide. John Willey & Sons, Inc.
  • Ivon Flament (2001). Coffee Flavor Chemistry. John Willey & Sons, Inc.
  • R.J. Clarke and O.G. Vitzthum (Eds.) (2001). Coffee: Recent Developments. Blackwell Science.
  • Consumers International and IIED (2005). From Bean to Cup: How Consumer Choice Impacts Upon Coffee Producers and the Environment. Consumers International.
  • S.K.Mangal (2007).  Coffee: Planting, Production and Processing. Gene-Tech Books.
  • Bee Wilson (2008). Swindled: Tthe Dark History of Food Fraud, from Poisoned Candy to Counterfeit Coffee. Princeton University Press.
  • Kevin Sinnott (2010). The Art and Craft of Coffee: An Enthusiast’s Guide to Selecting,   Roasting, and Brewing Exquisite Coffee. Quarry Books.
  • Jonathan Rubinstein and Gabrielle Rubinstein (2012). Joe: The Coffee Book. Lyons Press.
  • Robert W. Thurston, Jonathan Morris and Shawn Steiman (2013). Coffee: A Comprehensive Guide to the Bean, the Beverage, and the Industry. Rowman & Littlefield.
  • Ivette Perfecto and John Vandermeer (2015). Coffee Agroecology: A New Approach to Understanding Agricultural Biodiversity, Ecosystem Services, and Sustainable Development. Routledge.

Terakhir, buat yang berminat mencari tahu atau memperdebatkan tentang untung ruginya minum kopi dan efeknya bagi kesehatan, silakan membaca beberapa sumber berikut:
  •  Astrid Nehlig (Ed.) (2004). Coffee, Tea, Chocolate, and The Brain. CRC Press.
  • James N. Parker and Philip M. Parke (Eds.) (2003). Coffee: A Medical Dictionary, Bibliography, and Annotated Research Guide to Internet References. ICON Group International, Inc.
  • Cal Orey (2012). The Healing Powers of Coffee: A Complete Guide to Nature’s Surprising Superfood. Kensington Books.
  • Victor R. Preedy (Ed.) (2015). Coffee in Health and Disease Prevention. Elsevier.

Jika ada kesempatan, saya berharap dapat membahas lebih banyak tentang beberapa buku tersebut….”