Baca

Baca

Selasa, 12 Mei 2015

"The Seven Deadly Sins"


Di salah satu channel televisi kabel, saya pernah melihat satu acara yang buat saya sangat menarik. Judulnya cukup serem, The Seven Deadly Sins. Dalam acara tersebut, digambarkan kisah nyata tentang seorang perempuan yang terlihat terus menerus melakukan kegiatan makan dan minum nyaris tanpa henti. Ukuran badannya yang sudah ekstra jumbo tidak menghalangi nafsu makannya yang jauh dari kewajaran. Uniknya, kebiasaannya tersebut didukung penuh oleh laki-laki pasangannya, yang juga tampak bahagia dengan ukuran badan dan kegiatan makan tanpa henti dari kekasihnya tersebut. Ada pula kisah satu kelompok masyarakat yang sangat gemar berlatih menggunakan senjata api, dan berpendapat bahwa itulah satu-satunya cara untuk menjaga ketertiban bersama, yaitu di mana setiap orang punya kesempatan yang sama untuk membela diri atau melawan kekerasan. Di bagian lain digambarkan bagaimana sekelompok perempuan begitu bahagia bermain dan mengurus boneka yang sangat mirip dengan bayi sungguhan, dan terlihat justru kurang memberi perhatian pada anak kandungnya sendiri. Sementara di bagian lain lagi dikisahkan tentang para laki-laki yang gemar mengenakan semacam topeng dan lapisan kulit sintetis hingga buat mereka tampak seperti wanita cantik. Ada pula kisah tentang seorang pemuda yang gemar menggunakan kursi roda meskipun dia sendiri sesungguhnya sehat secara fisik.

Menonton The Seven Deadly Sins --atau barangkali bisa diterjemahkan menjadi Tujuh Dosa Mematikan-- membuat saya lantas teringat The Divine Comedy-nya Dante Alighieri, yaitu Inferno, Purgatorio, dan Paradiso. Salah satu bagian dari karyanya itu belakangan kembali populer karena menjadi basis dari novel laris karya Dan Brown berjudul Inferno (Neraka). Dalam novel itu Brown menyebut istilah SAGLIA, yang merupakan singkatan dari bahasa Latin terkait tujuh dosa besar, yaitu: Superbia (Inggris: pride), Avaritia (greed), Luxuria (lust), Invidia (envy), Gula (gluttony), Ira (wrath/anger), dan Acedia (sloth). Kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan urutan yang sama menjadi: Kesombongan/Kebanggaan, Keserakahan, Nafsu, Iri, Kerakusan, Kemarahan, dan Kemalasan.

Kemudian, ternyata saya cukup beruntung dapat mengakses dan membaca langsung buku seri tentang Seven Deadly Sins yang disponsori oleh The New York Public Library dan Oxford University Press. Dalam pengantar ke-tujuh buku tersebut, Elda Rotor selaku editor mengajak pembacanya untuk mengeksplorasi secara historis dan kontemporer tentang bagaimana Seven Deadly Sins ini mempengaruhi spiritualitas dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Rotor, gagasan tentang The Seven Deadly Sins sesungguhnya bukan berasal dari Alkitab (kitab suci Kristen). Konsep ini muncul pertama kali di abad ke-4 oleh Evagrius of Pontus dan kemudian John of Cassius. Selanjutnya konsep ini diadopsi oleh Kristen pada masa Paus Gregory the Great di abad ke-6. Seven Deadly Sins dianggap sebagai “Tujuh Dosa Pokok” (The Seven Capital Sins) yang menjadi penyebab bagi dosa-dosa dan kebiasaan buruk lainnya. Untuk mengatasi Seven Deadly Sins ini para teolog Kriten kemudian merumuskan “Tujuh Keutamaan Surgawi” (The Seven Heavenly Virtues).



Pride
Michael Eric Dyson (2006). Pride: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.

Pride adalah kesombongan, kebanggaan dan keyakinan yang berlebihan akan kemampuan diri seseorang. Kebanggaan juga dapat berarti kebutuhan untuk diterima publik dalam semua tindakan, dan  kebutuhan untuk menjadi atau dianggap lebih penting daripada yang lain. Ujung-ujungnya, mereka menjadi memandang diri terlalu tinggi, sekaligus cenderung meremehkan dan memandang rendah orang lain.


Greed
Phyllis Tickle (2004). Greed: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.

Greed adalah keserakahan atau ketamakan, berupa hasrat atau keinginan kuat untuk menguasai dan memiliki kekayaan materi atau keuntungan, dan mengabaikan ranah spiritual. Untuk memuaskan hasratnya, orang serakah mungkin akan menimbun barang, mencuri, merampok, menipu, memanipulasi, dsb. Orang-orang serakah biasanya juga mudah untuk melakukan suap dan berjudi.


Lust
Simon Blackburn (2003). Lust: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.

Lust adalah keinginan berlebihan untuk kesenangan tubuh, terutama berkenaan dengan seks, baik dalam pikiran maupun tindakan. Hasrat akan hal ini dapat mendorong masturbasi, perkosaan, kekerasan seksual, dll.


Envy
Joseph Epstein (2003). Envy: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.

Envy adalah rasa iri yang sangat berupa keinginan untuk memiliki barang orang lain, atau merasakan/mengalami situasi, status, kemampuan yang ada pada diri orang lain. Akibatnya, dia dapat mencuri, meniru, terlibat voyeurism (mencampuri urusan orang lain, atau dalam bentuk paling ektrimnya adalah yang dalam istilah kedokteran disebut skopofilia, yaitu salah satu bentuk kelainan jiwa berupa hasrat yang kuat untuk mengintip orang lain demi kepuasan seksual). Kisah tentang orang-orang yang gemar mengenakan topeng dan selubung tubuh yang mirip perempuan cantik, atau anak muda yang gemar mengenakan kursi roda meskipun sesungguhnya badanya sehat saja adalah contoh dari sikap iri yang ekstrim ini.


Gluttony
Francine Prose (2003). Gluttony: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.

Gluttony adalah kerakusan berupa keinginan ekstrim untuk mengkonsumsi makanan dan minuman jauh melebihi dari yang yang dibutuhkan oleh dirinya sendiri, termasuk didalamnya adalah alkoholisme dan penyalahgunaan narkoba. Makan/minum yang terlalu cepat, terlalu enak, terlalu mahal, terlalu rakus, terlalu banyak merupakan sifat dari para pelaku gluttony ini. Kisah dalam serial tv tentang seseorang yang selalu terus-menerus makan di atas adalah contoh nyata dari gluttony.


Anger
Robert A. F. Thurman (2004). Anger: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.

Anger/Wrath adalah sikap individu yang suka menghina dan/atau marah (anger) pada orang lain. Wujud ekstrimnya berupa kebencian, tindakan main hakim sendiri, keinginan membalas dendam, melakukan kekerasan fisik terhadap diri sendiri dan orang lain, pembunuhan, genosida, dll.


Sloth
Wendy Wasserstein (2005). Sloth: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.

Sloth adalah kemalasan atau keengganan berupa tindakan menghindari pekerjaan fisik atau spiritual. Wujudnya dapat berupa kesedihan mendalam, depresi, atau ketidakmampuan untuk merasakan sukacita, yang dapat mendorong pada tindakan bunuh diri, atau sebaliknya melakukan kekerasan pada orang lain.

-------

Konsep pahala dan dosa --yang mungkin juga dibagi dalam kategori dosa kecil, sedang maupun besar—barangkali selalu ada di semua agama. Jika The Seven Deadly Sins secara historis lekat dengan ajaran Kristen, uniknya dalam agama Islam misalnya, juga dikenal adanya “Tujuh Dosa yang Dapat Membinasakan” –dalam rumusan yang berbeda-- yang diambil dari hadis (ucapan/tindakan) Nabi Muhammad, yaitu: (1) Sryrik atau mensekutukan Allah; (2) Melakukan sihir; (3) Membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali yang hak; (4) Memakan harta riba; (5) Memakan harta anak yatim; (6) Melarikan diri dari perang; (7) Menuduh wanita baik-baik (berkeluarga) dengan tuduhan zina.

Kembali ke The Seven Deadly Sins, barangkali menarik jika menggunakan perspektif tersebut dalam melihat masalah-masalah besar yang tengah diidap bangsa Indonesia saat ini. Ada banyak politisi, pejabat pemerintah, pakar, dan pengamat yang tampaknya merasa paling hebat dan paling benar sendiri. Korupsi yang massif dan sistemik dan melibatkan trilyunan uang rakyat hilang, serta eksploitasi dan pengrusakan sumberdaya alam tanpa kendali. Penyebaran dan penyalahggunaan narkoba yang begitu luar biasa. Belum lagi maraknya kejahatan, perampokan, penipuan, pembegalan. Begitu pula dengan semakin banyaknya pelecehan/kejahatan seksual dan prostitusi –baik offline maupun online--. Berniat menambahkan? Bagaimana dengan kecenderungan narsistik dari kegemaran selfie di media sosial yang belakangan ini sedang hit banget?

Tentu saja saya juga berniat menggunakan perspektif ini untuk memikirkan dosa-dosa saya sendiri. Tapi maaf saja, itu cuma untuk konsumsi pribadi saya sendiri saja ya, he..he...


-------
Sumber:

Michael Eric Dyson (2006). Pride: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.
Phyllis Tickle (2004). Greed: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.
Simon Blackburn (2003). Lust: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.
Joseph Epstein (2003). Envy: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.
Francine Prose (2003). Gluttony: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.
Robert A. F. Thurman (2004). Anger: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.
Wendy Wasserstein (2005). Sloth: The Seven Deadly Sins. Oxford University Press.
John Moorhead (2005). Gregory the Great. Routledge.
Richard Newhauser (2007). The Seven Deadly Sins: From Communities to Individuals. BRILL.
http://www.deadlysins.com/



1 komentar:

"WANNA" Ethnic Commodities mengatakan...

Mas,saya sangat tertarik dengan ulasan mendalam dari 7 buku diatas..boleh saya dishare link tentang ulasan tersebut yang bahasa indonesia?Terima kasih banyak.