Baca

Baca

Kamis, 02 Maret 2017

"Ada Apa Dengan Bigot?" (AADB: Bagian 3)

Ada Apa Dengan Bigot?”
(AADB: Bagian 3)

Oleh: Candra



Pada AADB: Bagian 1 telah diulas mengenai pokok-pokok gagasan Stephen Eric Bronner tentang bigot dan bigotry dalam bukunya The Bigot: Why Prejudice Persist (2014). Sementara pada AADB: Bagian 2 secara serba singkat diulas mengenai bentuk-bentuk perilaku bigotry yang bersumber dari rasisme, seksisme, culturism, ageism, classism, dan nativisme. Pada AADB: Bagian 3 ini, akan mengulas penyebab dari munculnya perilaku bigotry tersebut, dan bagaimana hal tersebut --disadari atau tidak-- telah mempengaruhi cara berpikir dan perilaku kita semua. Untuk membantu, ada baiknya melihat kembali ilustrasi mengenai trasformasi bigotry yang sudah ditampilkan pada AADB: Bagian 2.


Kebencian yang tumbuh dari prasangka dan ketakutan

Bronner (2014) mengutip moto para bigot dari satir Umberto Eco dalam novelnya The Prague Cemetery (2011:6): “Odi ergo sum. I hate therefore I am,”  bahwa “aku membenci maka aku ada.”

Bagaimana kebencian dan semua bentuk bigotry tersebut muncul? Dalam pandangan Bruce dan Yearly (2006), semua bentuk bigotry baik itu rasisme, religisme, ageism, dll. tersebut terutama bersumber dari satu sebab yang memiliki daya rusak tinggi, yaitu prasangka (prejudice). Secara umum, prasangka mengacu pada kecenderungan untuk mempertahankan pendapat dan sikap yang sudah terbentuk sebelumnya, atau sikap yang tidak didukung dengan fakta-fakta (Bruce dan Yearly, 2006).   Menurut Bronner (2014) istilah prasangka sendiri berasal dari bahasa Latin: praejudicum, yang artinya keputusan yang dibuat sebelum ditetapkan oleh pengadilan. Prasangka membuat setiap keputusan menjadi sederhana dan terhindar dari kritik atau refleksi.

Keyakinan tanpa didukung alasan yang masuk akal tersebut, menurut Scruton (2007) berfungsi sebagai premis untuk penalaran praktis, dan yang merupakan bagian dari Weltanschauung (pandangan dunia) yang tidak memerlukan sanggahan. Prasangka adalah ketetapan dari keyakinan yang tidak masuk akal (unreasoned belief), sementara bigotry adalah ketetapan dari nilai-nilai yang tak masuk akal (unreasoned values)

Meskipun ada pula jenis prasangka positif, umumnya istilah ini umumnya memang digunakan untuk merujuk pada pandangan negatif yang tidak beralasan (Bruce dan Yearly, 2006).  Dalam prasangka negatif, umumnya terdapat ketidakpercayaan, kecurigaan, stigma, perasaan merendahkan dan bahkan penghinaan dan kebencian terhadap pihak lain. Namun, lebih dari itu semua, prasangka pada dasarnya bersumber dari ketakutan yang tidak beralasan terhadap pihak lain. Abercrombie, Hill dan Turner (2006) berpendapat bahwa prasangka adalah sikap individu berupa antipati atau permusuhan aktif terhadap kelompok sosial yang lain, biasanya terhadap ras yang berbeda. Prasangka individu dapat berpartisipasi dalam kegiatan diskriminatif meskipun tidak selalu demikian.

Menurut Anderson (2010), nilai-nilai dan ide-ide yang membentuk prasangka berasal dari berbagai sumber dan pengaruh. Sikap berprasangka dapat berasal dari media, tumbuh di lingkungan keluarga yang gemar berprasangka, dan akibat tidak memiliki banyak kontak dengan orang yang berbeda dengan diri atau kelompok mereka sendiri. Namun karena norma-norma umum yang melarang prasangka dan adanya undang-undang anti-diskriminasi, prasangka dalam diri banyak orang dapat bersifat tersembunyi dan kadang-kadang tidak disadari.

Dalam sosiologi, konsep prasangka mengacu secara luas pada penilaian subjektif yang sistematis dan berlangsung lama dari suatu kelompok atau anggota kelompok tersebut, mengenai hal-hal yang tidak menguntungkan. Beberapa ilmuwan sosial percaya bahwa prasangka didasarkan pada praduga yang keliru tentang kelompok lain (out-group), sementara ilmuwan yang lain berpendapat bahwa prasangka dapat disebabkan oleh konflik kepentingan antar anggota dalam kelompok dan diluar kelompok (Turner, 2006).

Dalam hal ini, Bronner (2014) menulis bahwa penyebabnya adalah karena kognisi moral para bigot dan pandangan intelektual mereka yang bersifat parokial, di mana pandangan tersebut bukan hanya tidak akuntabel tapi juga tidak transparan. Menurutnya, para bigot bersembunyi di balik tradisi dan kebiasaan yang sudah mapan. Mereka merasa puas dengan keyakinan, rumor, dan loyalitas lama yang membeku dan kemudian berubah menjadi mitos dan, pada gilirannya, melahirkan stereotype yang membenarkan standar ganda yang mereka gunakan. Prasangka para bigot ini berhenti pada asumsi pra-reflektif yang menjadi tetap, selesai, dan tidak dapat diubah meskipun ada pengetahuan baru, dan dengan demikian menutup peluang terjadinya diskursus.

Menurut Anderson (2010), ada beberapa jenis prasangka, yaitu prasangka yang eksplisit dan implisit (explicit and implicit prejudice), serta prasangka yang bersifat ekstrim/terbuka dan halus (extreme/overt and subtle prejudice). Anderson berpendapat bahwa bagaimanapun prasangka ini termasuk bentuk bigotry halus (benign bigotry), yang juga melibatkan relasi kekuasaan (power). Kekuasaan dan  hak istimewa, berinteraksi dengan skema untuk menghasilkan bigotry halus tersebut. Meskipun baik orang dengan ataupun tanpa kekuasaan sama-sama dapat berprasangka, namun prasangka dalam diri mereka yang berkuasa memiliki dampak yang lebih besar.

Prasangka yang berkembang dari stereotype

Darimana prasangka tersebut terbentuk? Banyak ahli berpendapat bahwa prasangka tersebut lahir dari stereotype. Bruce and Yearly (2006) mencatat bahwa sebuah stereotype adalah pandangan berlebihan dan biasanya berkembang menjadi prasangka dari sekelompok orang yang didasarkan pada hanya sedikit atau bahkan tidak didukung bukti sama sekali, serta tidak berubah meskipun ada bukti yang membantahnya. Orang mempertahankan stereotype karena itu dapat menciptakan rasa solidaritas dan superioritas in-group, dan memungkinkan sekelompok orang untuk berpikir bahwa diri mereka adalah benar dan baik.

Sebuah stereotype adalah pandangan kelompok suku atau masyarakat yang bersifat satu sisi, berlebihan dan umumnya merugikan. Stereotype ini biasanya berhubungan dengan rasisme dan seksisme. Stereotype umumnya bersifat resisten terhadap perubahan atau koreksi dari bukti yang membantah mereka, karena stereotype dipandang dapat menciptakan rasa solidaritas sosial (Abercrombie, Hill and Turner, 2006)

Menurut Anderson ada stereotype yang positif dan negatif. Namun, bahkan stereotype positif sesugguhnya juga bukanlah hal yang  baik karena mereka mengurangi atau menghilangkan individualitas seseorang. Mereka memberi penilaian terhadap orang atas dasar harapan atau standar mereka sendiri. Juga, ketika orang-orang berperilaku dengan cara yang tidak konsisten dengan stereotype positif tentang kelompok mereka, maka justru akan memicu adanya reaksi negatif yang kuat (Anderson, 2010)

Anderson berpendapat, bahwa stereotype terkait erat dengan sentimen in-group dan out-group, dan kekuasaan (power) yang dimilikinya masing-masing. Ada yang disebut sebagai efek homogenitas out-group (the out-group homogeneity effect), yang mengacu pada persepsi yang dimiliki oleh in-group tertentu, bahwa anggota out-group cenderung memiliki cara pandang dan bertindak yang serupa. Hal yang sama diangap juga terjadi pada kelompok yang tidak memiliki kekuasaan (subordinat). Dengan kata lain, mereka yang out-group dan mereka yang memiliki lebih sedikit kekuasaan dipandang sebagai mirip satu sama lain. Sebaliknya, anggota in-group yang juga anggota dari kelompok istimewa dipandang sebagai individu yang kompleks (Anderson, 2010)

Stereotype yang terkait dengan kategorisasi

Stereoype ini erat kaitannya dengan pola berpikir manusia yang cenderung membuat kategorisasi (categorization) tentang hampir semua hal. Dalam pandangan Bruce and Yearly (2006), penyebabnya adalah karena manusia merasa berguna untuk melihat dunia diluar dirinya (dan karenanya mengatur tanggapan mereka untuk itu) melalui sejumlah kategori sederhana.

Anderson (2010) memandang kategorisasi sebagai proses kognitif manusia yang mendasar. Dia memaknai kategorisasi sebagai cara berpikir yang membuat pengelompokan dari sejumlah item yang memiliki karakteristik serupa. Kategorisasi membantu manusia memahami dunia, dan oleh karena itu menjadi sebuah kecenderungan alamiah dan kemampuan yang diperlukan untuk pemikiran manusia. Sayangnya, kategorisasi juga merupakan dasar untuk stereotype dan prasangka. Dalam diri manusia memang dilengkapi kemampuan untuk berpikir secara kategoris. Namun, isi dari kategori dan makna dan arti dari kategori tersebut sesungguhnya adalah hasil dari sebuah konstruksi sosial semata.

Kategorisasi atau pemberian tipe (typification) ini tidak merujuk kepada kualitas yang unik dari individu tetapi terhadap fitur khas mereka. Pemberian tipe mengacu pada proses dimana orang mensimbolisasi dunia di sekitar mereka  (Abercrombie, Hill and Turner, 2006). Disinilah terjadi sentimen in-group dan out-group, di mana mereka yang dianggap homogen (out-group dan kaum marginal) dihakimi dalam hal kategori sosial mereka, bukan mereka sebagai individu (Anderson, 2010). Sepanjang sejarah, banyak kelompok orang telah mengklaim superioritas mereka atas budaya lain dan telah memberi label barbar pada segala sesuatu yang dianggap asing, yang sering sesungguhnya hanya berarti bahwa kelompok lain itu dianggap tidak menjadi bagian dari in-group (Gay, 2013).

Stereotype dan kategorisasi yang dibentuk oleh skema

Darimana stereotype dan kategorisasi itu berasal? Skema merupakan sebuah kerangka mental keyakinan, perasaan, dan asumsi tentang orang-orang, kelompok, dan benda-benda. Skema membantu dalam menafsirkan dunia dan mengatur informasi baru. Bila diterapkan kategorisasi terhadap manusia, skema sering bermanifestasi sebagai stereotype (Anderson, 2010)

Dengan skema ini, pada akhirnya semua peristiwa selalu akan diinterpretasikan dan digunakan untuk mengkonfirmasi asumsi awalnya. Para bigot dengan demikian dapat menjadi pahlawan bagi drama yang mereka ciptakan sendiri (Bronner, 2014)

Bigotry di sekitar kita

Pernahkah merasa tidak nyaman ketika duduk berdekatan dengan seorang waria di angkutan umum karena menganggap waria dan segala jenis LGBT sebagai penyimpangan atau kutukan? Atau merasa curiga pada seseorang dari etnis tertentu yang tinggal di dekat rumah karena merasa mereka semua adalah tukang mabuk dan pencuri? Atau merasa terganggu dengan orang dari agama berbeda yang tinggal di sebelah rumah karena menganggap mereka semua adalah kafir yang mengancam keimanan, harus dijauhi bahkan harus dihancurkan? Atau menjadi sinis terhadap perempuan yang bekerja dan terpaksa sering pulang malam karena kantornya jauh dari tempat tinggalnya? Atau merasa kesal dengan orang-orang tua yang dianggap serba ketinggalan jaman, selalu ingin ikut campur, lemah, tidak berdaya dan banyak menuntut perhatian/bantuan?...

Dengan begitu kompleksnya makna dan bentuk bigotry, tampaknya bahkan saya dan Anda-pun sulit untuk sepenuhnya luput dari kecenderungan tersebut. Mungkin saya dan Anda tidak pernah secara sengaja menyampaikan atau menyebarkan pernyataan kebencian terlebih melakukan tindak kekerasan karena alasan kebencian terhadap orang atau kelompok tertentu, sebagai ekspresi dari bigotry yang vulgar dan kasar. Namun sangat mungkin pernah ada terlintas dalam pikiran dan prasangka yang cenderung curiga, tidak nyaman, meremehkan atau merendahkan orang atau kelompok tertentu karena alasan perbedaan ras, agama, gender, usia atau budaya, yang merupakan bentuk dari subtle prejudice dan benign bigotry.

Saya tidak yakin, apakah ada satu orang saja di dunia saat ini yang benar-benar bersih dari pikiran dan perilaku bigotry. Bahwa ada manusia, yang mungkin dapat menjadi seperti apa yang diungkapkan Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Bumi Manusia (1980): “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.” Tapi tentu saja itu tidak dapat dijadikan pembenaran. Prasangka dan bigotry, apapun justifikasinya, adalah selalu bersifat merusak diri dan masyarakat. Sedapat mungkin perilaku bigotry ini harus ditekan dan dikurangi penyebarannya. Karena seperti penyakit, menurut saya bigotry ini dapat menular: pada keluarga, teman, tetangga dan lingkungan yang lebih luas. Memiliki prasangka dan kebencian saja sudah merupakan hal yang buruk Tapi mewariskan dan menyebarkan prasangka dan kebencian adalah jauh lebih buruk lagi.

Bagaimana mengurangi perilaku bigotry?

Masalah bigotry bersifat struktural dan kultural, baik di ranah individu, masyarakat, nasional maupun internasional.  Karenanya upaya mengurangi bigotry juga harus masuk ke seluruh area tersebut, dari mulai kebijakan dan regulasi sampai pada pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai yang menghargai pluralitas, toleransi dan inklusivitas.

Menurut Gay (2013), mengurangi kebencian, bigotry, dan intoleransi biasanya dimulai dengan sikap pribadi. Orang yang memiliki harga diri yang rendah dan merasa terancam oleh perbedaan atau yang membutuhkan rasa aman dan penerimaan oleh kelompok mungkin memiliki masalah untuk mampu menghargai perbedaan tersebut --apakah itu warna kulit, agama, jenis kelamin, pendapatan, bentuk fisik atau ukuran, atau kemampuan mental--.

Bronner (2014:12) berpendapat bahwa persoalan bigotry sudah sangat kompleks dan luas, sehingga perlawanan terhadap para bigot ini membutuhkan bentuk-bentuk perjuangan baru yang menyoroti tidak hanya solidaritas tetapi juga bentuk penilaian politik yang lebih tajam. Tidak ada solusi sederhana untuk masalah yang ditimbulkan oleh para bigot tersebut.

Mengatasi bigotry tidak dapat dilakukan sendiri. Individu dan berbagai kelompok masyarakat bahkan institusi pemerintahan harus turut serta. Perlu pendidikan tentang keberagaman dan saling menghargai baik di keluarga, institusi pendidikan dan keagamaan. Selain itu perlu diperbanyak dan diperluas kampanye dan sosialisasi melalui berbagai media untuk membantu menghentikan bigotry, intoleransi, dan rasisme. Individu di tingkat nasional dan di seluruh dunia dapat mengambil tindakan terhadap bigotry dan rasisme dengan bergabung dengan kelompok akar rumput yang bekerja untuk mengatasi perilaku intoleran. Dapat pula berpartisipasi melalui media seni budaya dalam bentuk drama jalanan, konser, drama, pertunjukan seni, dan acara lain untuk membangun kepedulian terhadap pelanggaran hak-hak sipil dan diskriminasi. Pendidikan dan sosialiasi mengenai pluralism dan toleransi juga dapat dilakukan dengan melalukuan kegiatan kunjungan atau pertukaran budaya. Dengan mempelajari budaya dan keyakinan yang berbeda dari mereka sendiri (bahkan belajar bahasa lain) dapat membebaskan diri dari praduga tentang kelompok etnis, yang pada gilirannya membantu mengurangi bigotry dan rasisme. Upaya lain dapat dilakukan dengan membuat/mendukung petisi online, melakukan demonstrasi atau  berkampanye politik serta memilih politisi yang mendukung tindakan legislatif untuk mengurangi bigotry dan intoleransi (Anderson, 2010; Gay, 2013; Bronner 2014).

--------------
Referensi:
  • Abercrombie, Nicholas, Stephen Hill, and Bryan S. Turner (2006). The Penguin Dictionary of Sociology. Fifth Edition. Penguin Books, London.
  • Anderson, Kristin J. (2010). Benign Bigotry: The Psychology of Subtle Prejudice. Cambridge University Press, Cambridge.
  • Bronner, Stephen Eric (2014). The Bigot: Why Prejudice Persist. Yale University Press, New York.
  • Bruce, Steve and Steven Yearly (2006).  The SAGE Dictionary of Sociology. SAGE Publications, London.
  • Gay, Kathlyn (2013). Bigotry and Intolerance: The Ultimate Teen Guide. It Happened to Me, No. 35. The Scarecrow Press, Lanham.
  • Scruton, Roger (2007). The Palgrave Macmillan Dictionary of Political Thought. Third Edition. The Macmillan Press, New York.
  • Turner, Bryan S. (Gen. Ed.) (2006). The Cambridge Dictionary of Sociology. Cambridge University Press, Cambridge.
---Selesai---

Tidak ada komentar: