Baca

Baca

Minggu, 09 Maret 2014

"Bonnie and Clyde" van Jakarta...


Awal Maret 2014 ini, Jakarta heboh dengan kasus pembunuhan Ade Sara (19) oleh mantan pacarnya Hafitd (19) bersama pacar barunya Sifa (19). Unik dan brutal kasus ini, karena kedua pasangan ini kabarnya "mampu" melakukan pernyiksaan selama 7 jam terhadap korban yang notabene mereka kenal. Setelah itu keduanya terlihat tidak "serius menutupi" aksi kejahatannya dari teman-teman bahkan pada keluarga korban.

Tiba-tiba teringat Bonnie & Clyde, pasangan perampok bank dan pompa bensin yang ngetop di Amerika dekade 30-an. Keduanya dikenal brutal karena  tidak segan menembak mati polisi yang memburunya. Tapi rasanya bahkan Bonnie & Clyde sekalipun tidak pernah menyiksa korban-korbannya. Jadi dari sisi kekejaman, pasangan Hafitd dan Sifa kelihannya punya level kekejaman beberapa strip diatas Bonnie & Clyde sekalipun.


Analis dan media menduga bahwa Hafitd dan Sifa terlihat menunjukkan indikasi sebagai pasangan psikopat dan sejenisnya. Latar belakang Hafitd yang gemar bermain game komputer yang bergenre full kekerasan maupun latar belakang keluarga yang pernah bermasalah hukum serius diduga mempengaruhi. Mungkin Hafitd memang punya motif dan latar belakang kekerasan. Tapi yang paling sulit dipahami adalah Sifa. Sebagai kekasih sekaligus partner in crime bagi Hafitd, selain faktor cemburu, apa motif dan latar belakang lainnya? Jadi kolaborasi keduanya kelihatannya bakal jadi salah satu Most Famous Criminal Duos (awas jangan ketuker sama tipe HP Samsung tuh...) di Indonesia ya...

Apapun, korban sudah tewas. Kagum dengan kelapangan hati keluarganya. Disisi lain, perlu disadari bahwa kedua pelakunya adalah juga merupakan "produk" dari lingkungan yang telah turut andil membentuk mereka seperti sekarang ini. Jadi berfikir betapa sulit membesarkan anak di masa sekarang ya... Di usia 19 tahunan, kenakalan saya "sebatas" merokok, nongkrong dan sejenisnya. Jadi tidak terbayang "beratnya" jadi anak remaja di masa sekarang. Anak dengan karakter terlalu "lembut" sama bahayanya dengan yang "kasar", karena anak-anak yang "lembut" kelihatannya justru jadi sasaran empuk pelaku bullying dan kekerasan fisik yang pelakunya paling potensial justru adalah anak sebaya dan "teman-temannya" sendiri.

Jadi ingat hal lain. Kemarin sepintas melihat "iklan" Agus Rakasiwi, seorang kawan di laman FB-nya: "Mencari kota untuk membesarkan anak..."...   Kalau saya sendiri pasang iklan, mungkin judulnya adalah: "Mencari cara membesarkan anak..."   :)

NB: Hai Gus... :)

Tidak ada komentar: