Baca

Baca

Minggu, 09 Maret 2014

"Cleopatra: Perempuan Mesir Paling Berpengaruh di Roma" (waktu itu...)


Kalau ada yang menyusun kompilasi nama perempuan cantik yang hidupnya berakhir dramatik bin tragik, saya punya keyakinan sebesar 97,2 persen, bahwa nama Cleopatra ada juga termasuk didalamnya. Gimana bisa? Gini ceritanya…

Cleopatra adalah penguasa Mesir, sekitar 50 tahun sebelum kelahiran Isa. Dua kali malah. Pertama pada pada usia 18 tahun bersama dengan adik sekaligus suaminya (yang berusia 12 tahun). Dan kedua kali sebagai buah dari konflik bersaudara yang diintervensi oleh Roma. Saat itu pengaruh dan kekuatan militer Romawi sedang berada di puncaknya, yaitu semasa Julius Caesar menjadi penguasa Romawi pasca perang saudara melawan saingan beratnya Pompeius. Meskipun kala itu Romawi masih berbentuk Republik, namun pengaruh personal Caesar kemudian memang sangatlah besar.

Sekitar tahun 47 SM, Caesar melakukan kampanye militer ke Mesir. Saat itulah Caesar bersua dengan Cleopatra. Meskipun berbeda usia 30 tahun (Caesar 50 tahun dan Cleopatra 21 tahun), keduanya ternyata langsung nyambung. Selain karena alasan politis, konon kedua pasangan selingkuh ini ternyata juga saling jatuh cinta, yang kemudian sampai memiliki seorang anak yang diberi nama Caesarion. Di Mesir, Caesar memang hanya berada disana kurang dari setahun, namun kiprah Cleopatra dalam mewujudkan ambisi politisnya sebagai penguasa dunia -- Mesir dan Roma beserta negara-negara bawahannya -- sesungguhnya saja dimulai. Khususnya berkenaan dengan mimpinya menjadikan Caesarion sebagai penguasa "dunia" kala itu.

Sekembali dari Mesir, Caesar menghadapi gejolak politik di negaranya sendiri. Singkat cerita, kekuatan-kekuatan politik di Roma mulai gerah -- dan mungkin juga iri -- dengan pengaruh dan kekuasaan Julius Caesar yang kabarnya memang sangat populis, baik di mata tentara maupun rakyat kebanyakan. Oleh pada pengkritiknya, Caesar dituduh ingin menjadi penguasa tunggal alias diktator. Sampai kemudian, terbentuklah komplotan anti Caesar yang terdiri dari Brutus (orang kepercayaan Caesar sendiri), Longinus, and the gank. Caesar akhirnya mati terbunuh di ujung pisau komplotan tersebut.

Pembunuhan orang berpengaruh dibelahan bumi manapun hampir selalu menimbulkan kegoncangan politik yang besar, tidak terkecuali di Roma. Namun sebelum terbunuh, rupanya Julius Caesar sudah sempat menunjuk penggantinya, yaitu Oktavianus, yang merupakan keponakannya sendiri. Tapi rupanya sistem politik di Roma memang cerdas. Untuk mengurangi kekhawatiran munculnya kembali penguasa tunggal macam Caesar, sekaligus membangun keseimbangan diantara kekuatan politik dan keluarga berpengaruh di Roma saat itu, akhirnya kekuasaan dibagi di tangan tiga orang (triumvirat), yaitu Oktavianus, Marcus Anthonius dan Marcus Lepidus, dengan wilayah kekuasaan yang berbeda-beda.

Sebagai penguasa Romawi wilayah Timur, Anthonius tentu harus berhubungan dengan Cleopatra. Bagaimana keduanya kemudian dapat berkolaborasi, bahkan menjadi pasangan suami istri, tentu panjang ceritanya ya… Bagaimana pula nasib Caesarion, si anak dari Cleopatra dan Julius Caesar? Bagaimana gambaran orang-orang Roma mengenai Cleopatra dipelintir sedemikian rupa oleh agen-agen Oktavian? Dan bagaimana gesekan politik diantara para Triumvirat ini kemudian berakhir di Mesir, dan kemudian bahkan mampu mengubah sistem politik di Roma? Ya silakan saja lanjutkan sendiri membacanya… J

------------------------
Judul         : Antony dan Cleopatra
Penulis      : Collen McCullough
Tahun       : 2013

Tidak ada komentar: